Wednesday, September 28, 2011

b/c/d-erita cinta



Lihatlah cinta
Apa itu cinta?
Cinta itu jebakan untuk mempertanggung jawabkan akibat dari rasa
Rasa yang membunuh logika
Menghilang rasio menjadi bodoh
Bukankah hidup itu menunggu mati, dan kita mengisinya dengan kebodohan
Terbuai rasa, bertindak tanpa perbandingan menuju kesalahan (= ketidak sesuaian perbandingan/rasio berdasarkan konteks dimana berada)
Bukankah hidup itu kesalahan, kesalahan perdana dan utama muncul saat jatuh cinta

Lihatlah cinta secara sempit
Cinta itu jebakan untuk mempertanggung jawabkan akibat dari rasa
Terpatri komitmen dalam janji pernikahan
Juga status tunangan
Lebih sederhana, ikatan pacaran

Lihatlah cinta secara luas
Jebakan lupakan kemampuan memaksa keinginan
Terpatri komitmen dalam surat hutang dan tagihan credit card
Juga sistem penggadaian
Lebih sederhana, ikatan cicilan bulanan

Lihatlah cinta
Apa itu cinta
Letupan emosional yang meledak-ledak
Membuat semua terserak-serak
Seperti letusan gunung berapi
Menyisakan pekerjaan panjang untuk membenahi

Rasa cinta hanya bertahan tiga tahun
Setelahnya adalah komitmen bersama dalam simbiosis mutualisme untuk mengatur sisa waktu
Sisa waktu hidup
Karena hidup adalah menunggu mati, dan kita mengisinya dengan kebodohan

Apa itu cinta?
Persepsi dan definisi memberi jawaban

Persepsi dan definisi itulah kesalahan
Meng-amini-nya itulah kebodohan

Sumpah, aku mengutuk cinta!

Demi harmoni
Harus selalu ada yang mengutuki cinta dan bersumpah untuk itu,
dan aku salah satunya.

karenarasaadalahsegalanya28092011//21:28wib

Monday, September 19, 2011

Cermin Vs Kaca



Karenarasaadalahsegalanya19092011//13:40wib

Manusia, menilai untuk mengerti dan menghakimi saat gagal untuk memahami. Jamak, banyak, umum, biasa. Biasa yang banyak, berbeda yang sedikit. Objektivitas itu semu, kolektivitas nan sejatinya. Berbeda itu dosa. Biasa, umum, jamak, banyak. Lemah yang kuat, kuat yang lemah, karena banyak. Kualitas dalam kuantitas.

Buruk rupa, cermin dibelah. Kecewa sendiri, diri lain dibedah. Manusia, menilai untuk mengerti dan menghakimi saat gagal untuk memahami. Persepsi dari aksi, tentu berbeda antara pelaku dan penonton. Pelaku yang sedikit adalah pendosa di hadapan kekuatan banyak jamak penonton memakai kaca. Kaca mata.

Rabun kah? Tidak, hanya tak berani melihat tanpa kacamata yang sama dengan semua. Parameterku untuk kamu. Parametermu ku tak mau tahu (maunya tempe). Banyak kaca di banyak mata para pembicara (alias komentator) menyatu menjadi cermin bagi sang terdakwa. Sungguh tak berjuta refleksi yang terjadi, hanya satu karena semua sama. Doktrinasi untuk menjadi samawi. Berbeda itu dosa.

Ah.. seandainya saja tak tertemukan cermin itu bagi sang terdakwa, tentu kan terbuai lah ia dalam kebanggaan semu. Bagaimana tak terjebak kalau hanya berkaca mata tanpa bercermin muka. Pemain pun bisa seketika menjadi penonton. Rela kah? Ada yang rela ada yang tidak. Seperti ada yang kalah dan ada yang tak mau menyerah. Suka suka lah.

Lihatlah para kerumunan itu. Apa bedanya dengan ternak yang mengikuti arah cambuk. Kiriiii... kanaaaann... lurusss..... berhentiii... yak makan rumput. Manusia dan ke’lembu’annya. Sungguh tak kan tersadari oleh sang ternilai, seandainya tak bercermin ia. Bersyukurlah, karena tak keras mata untuk melihat yang berbeda lewat kaca. Karena beda itu biasa, dan cermin yang memberitahunya.

Lantas, menyedihkan kah kerumunan terperangkap kaca itu? Sungguh dari kacamataku iya. Tapi, dari kacamataku tidak. Yasudah, untuk apa beradu kaca mata. Kalau pecah, tak bisa melihat lah masing-masing dari kita. Satu orang satu isme. Paksa isme hanya hadirkan paska isme, yang adalah perkelahian. Lantas, ada apa dengan perkelahian. Biasa saja. Isme ditambah isme sama dengan perkelahian, se(relatif)pasti satu ditambah satu yang (jamak diyakini) sama dengan dua. Yah, jamak.

Cermin melawan kaca. Sungguh hal kecil nan jarang terjamah. Yang bercermin menjadi pasif dan tak mau melihat lewat kaca matanya, yang berkaca mata terlalu aktif menganga. Korelasi indah adalah saat diam tenang menjalankan kesadaran, kaca-kaca dan mata-mata yang membuat menganga terangkai menjadi cermin. Satu kata sakti yang lahir adalah “oh..”. Lalu manusia menilai untuk mengerti, namun menghakimi saat gagal memahami.

Oh.. ternyata begini di mata ini, oh.. ternyata begitu di mata itu. Melampaui kaca dengan cermin, sungguh hal yang jamak diketahui namun jamak juga terabaikan oleh pada manusia jamak yang berkerumun di dalam kotak kaca. Seperti ikan menganga di akuarium. Hap hap hap bla bla bla hoekss...

Usai bercermin sungguh terasa kurang gaya tanpa kacamata. Satu titik balik yang sangat krusial dari seorang manusia. Refleksi yang melahirkan persepsi. Persepsi yang membentuk parameter. Terukirlah nilai pada skala kaca mata.

Sungguh, konsentrat padat dari hasrat untuk berkuasa (manusia) tak mampu tak berkaca mata. Dengan ukuran pada kaca mata itu, parameter pribadi menjadi senjata untuk mengerti. Jamak lah ini: ‘saat gagal mulai menghakimi’. Superioritas semu yang hadir dari rahang menganga, sungguh, ikan yang mendapat ‘berkat’ sebagai sirajanganga pun kalah.

Kemudian cermin membentuk kaca. Kaca bertemu mata. Mata bertemu isme. Isme bertemu otak. Otak bertemu lidah. Lidah berontak, yang tak berotak atau pun berotak. Desak rahang untuk ternganga. Bla bla bla.. Betapa mudahnya keunikan hanyut oleh kekuatan banyak dari jamak. Lemah? Tidak, kalian tidak lemah, karena kalian banyak. Banyak, biasa, sama. Jamak.

Apa kabar cermin? Baik-baik saja. Karena sungguh, keunikan akan terlahir dan mengada. Tak perlu banyak, karena kualitasnya bukan dari kuantitas. Namun, dari kesadaran, untuk terus bercermin dan sesekali berkaca mata. Berkaca mata, bukan untuk gagal dan terjebak menjadi hakim-hakim di dunia. Namun untuk mengerti, kemudian walau tak memahami menolak untuk gagal. Terima saja ketidak pahaman. Karena yang perlu diketahui akan diketahui tepat waktu.

Tanpa kaca, tiada cermin dan tanpa cermin, kaca tak mengada. Ternganga mengada-ada atau terdiam tanpa suara atau proporsional seperlunya. Kembar tiga dari pertentangan kaca dan cermin. Manusia, silakan memilih kaca atau cermin atau keduanya. Ke’lembu’an atau ke’manusia’an atau keduanya. Jamak atau unik atau keduanya.


Mari berasumsi:
Bermobil itu berharta (?)
Bergaya itu berada (?)
Berontak itu berdaya (?)
Berbicara itu berakal (?)
Ehmm.. ??? Iya ya???
Tergantung kaca mata ^ ^
Mari saja bercermin muka ^ ^

Thursday, September 8, 2011

Mimpi


Karenarasaadalahsegalanya08092011//22:58wib
Baiklah, kita terlalu idealis. Penuh dengan mimpi dan terbuai dengannya. Semuanya buram, mana realita pun bukan pertanyaan lagi. Kacamata yang kini milik kuda sebenarnya adalah kekang manusia pada mulanya. Terbiasa lurus menatap, sisi samping menjadi ilusi. Keberadaan pada bidang yang sama, tak berarti tanpa adanya pengakuan. Kesepakatan untuk mengakui kenyataan adalah yang lurus di depan, membuat sisi samping menjadi mimpi.

Bukankah yang di depan dan yang di sisi ini berada dalam satu bidang? Kalau yang di depan kenyataan, bukankah demikian pula dengan yang di samping. Kalau yang di samping itu mimpi, bukankah juga begitu dengan yang di depan. Apa bedanya? Apa samanya? Sedikit orang bertanya, seperti kentut di tengah angin topan. Tak terasa dan tak lama berselang hilang.
Baiklah, kita terlalu idealis. Seharusnya begini dan seharusnya begitu, kata mereka. Lah, jadi yang idealis kita atau mereka? Bukankah kata ‘seharusnya’ adalah realisasi idealisme. Bukankah sang idealis yang menggunakan kata ‘seharusnya’? Baiklah, kita terlalu idealis. Mereka, hanya idealis.


Plak plak plak tampar kiri kanan bolak balik. Sadar kau, laki-laki. Sadar kau, perempuan. Kalian telanjang. Kesepakatannya adalah, tanpa sesuatu yang dikenakan di badan adalah telanjang. Telanjang adalah malu. Begitu logikanya. Begitu idealismenya. Terjadilah realita atas dasar kesepakatan bersama.
“Hai laki-laki, dimana kau? Hai perempuan, dimana kau? Hai manusia, dimana kalian? Keluarlah.”
“Tidak Ayah, kami malu. Tidak Ibu, kami malu.”
“Mengapa kalian malu?”
“Karena kami telanjang.”
“Siapa yang memberi tahu kalian kalau kalian telanjang?”
“Pikiran.”
Betapa ‘tuhan’nya sebuah ide.


Memang lah, aku terlalu idealis. Berharap, kedamaian adalah tujuan yang perlu dijalani dengan indah, lembut dan tenang. Semua akan senang. Manusia-manusia akan senang. Berakhir dengan tenang, seperti dalam khayangan. Ehem.. kahayalan. Hei, khayangan. Khayalangan. Kahayang (Sunda à Indonesia : kemauan). Kahalangan (Sunda à Indonesia : terhalang). Kumaha sia lah njing (Sunda à Inggris sok gaol : whatever ~ pakai nada @L4iiiii).

Dengan keramahan, menahan kemarahan, juga usaha menyenangkan, untuk menenangkan, orang lain. Kedamaian akan terwujud dan itulah jalan dan tujuan. Damai tenang. Baiklah, aku terlalu idealis. Berharap semua damai senang dan tenang.

Tidak akan ada hal itu, karena manusia punya kepentingan. Persaingan adalah jalannya. Kedamaian itu adalah ide, yang ideal, dan bertempat dalam idealisme. Lihatlah realita dan bersikap realistis. Menjadi realis. Bukankah perang lebih mudah terjadi.

Pun dengan kedamaian, bukan kah itu buah dari perang dan pertentangan. Bagaimana ada perkembangan tanpa ada kehancuran. Kenyataan adalah kehancuran, dan buahnya adalah mimpi. Darimana semua (mimpi) keindahan itu? Dari chaos tentunya. Inilah kenyataan.

Kedamaian itu buah dari pertentangan. Taman nan indah menyegarkan penuh bunga dari darah, dan ketenangan adalah hasil akhir gementang riang adu pedang. Tak nyata lah kedua insan selalu bahagia dan damai menjalani kisah hidupnya. Selalu tersakiti dan ada korban. Bukankah cinta yang diagungkan tak lebih dari sekadar getar genderang awal peperangan. Saat pertumpahan darah hingga dana, tangis hingga tawa, air mata hingga air mani, dari melihat dewa, lalu bidadari, menjadi manusia dan berakhir pada munculnya korban. Maka, kedamaian pun mekar seperti mawar merah di atas darah manusia. Merah. Indah. Ah...
Inilah kenyataan. Lah, bukankah kenyataan yang panjang lebar dibicarakan ini pun merupakan suatu ide?! Pemikiran kan. Lalu, mana yang nyata, mana yang mimpi. Dimana kuda?? Hei kuda!! Kembalikan kacamata manusia itu. Sungguh, terlalu munafik manusia berkata ‘kacamata kuda’. Kacamata ku–da. Kacamata_ku – . Kacamataku. Itulah (ide) kenyataannya.

Bagaimana dengan kuda? Suruh cepat pergi, bau asam taiknya memekakan hidung. Seperti kata “seharusnya”-“seharusnya” yang menusuk telinga ‘muda’ (membangkang) ini. Kami belum ‘tua’ (menyerah) di dunia ini. Ada saatnya nanti. Menyerah (sambil melihat manusia ~ merasa diri bukan manusia, kuda yah? ). Tapi bukan sekarang. Mungkin 27, 37, 47, 57, atau 67. Bisa saja saat 107 usia. Siapa tahu? Apa tahu? Waktu? Waktu pun hanya idea yang menyata lewat kesepakatan bersama.
Mimpi? Mimpi! Mimpi. Biasa aja kalee.. gak usah pake (ng)otot  ------   0_0

isme.. ..isme.. ..isme.. ..isme.. amuristisme

A  :    Seorang sahabat adalah orang yang tidak meninggalkan temannya dalam keadaan terdesak ataupun dalam keadaan tersulit. Ketika dalam keadaan tersulit seorang sahabat seharusnya mendukung temannya, bukan meninggalkannya. untuk itu mengatakan orang lain sebagai sahabat, harus memenuhi kriteria diatas.

B  :    Tuhan gembalaku dalam badai
Terang dalam kegelapan, harapan dalam kecemasan
Cahaya-Nya menuntun jiwaku dan Roh Ilahi-Nya menghalau kabut keraguan
Biarlah diriku memuji dan bersorak sepanjang waktu
Hormat dan kemuliaan bagi-Nya di tempat maha tinggi

Ke’seharusnya’an. Membuat manusia seperti domba yang digiring gembala. Gerakannya diarahkan dan ditentukan, hidup menjalani yang diperintahkan dan menunggu untuk masuk ke dalam pintu kematian yang akan terbuka kemudian. Manusia yang berprikedombaan.

Banyak konsep, pemikiran, idealisme, dan seharusnya-seharusnya di dunia. Bukan berarti manusia ada untuk memilih salah satu pemikiran dan menjalankannya begitu saja. Namun, manusia (mampu) membentuk pemikirannya sendiri dari berbagai ‘pengalaman’ dalam bentuk isme-isme yang memenuhi dunia ini. Satu manusia satu isme.
 
Tidak ada benar dan salah, hanya ada sebab akibat. Banyak konsep yang diajarkan dan diberikan untuk ‘mengatur’ hidup manusia. Itu semua dalam tataran praksis dan bukan konseptis. Itu adalah pengarahan berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi. Bila begini maka kemungkinan yang terjadi adalah begitu sebesar a%, begitu sebesar b%, dst.

Tentang pemikiran, manusia punya kebenarannya masing-masing, benar menurut aku itulah kebenaran yang (relatif) mutlak. Konsistensi? Itu pun semu. Inkonsistensi pun bisa menjadi suatu bentuk konsistensi. Konsistensi inkonsistensi. Konsistensi dari perubahan-perubahan, perubahan yang konsisten.

Tentang penyerahaan diri. Pendekatan melalui ke’dombaan’ manusia. Penyederhanaan akan hal bahwa manusia adalah sekilat cahaya, sekejap muncul dan hilang, pada bidang tak terbatas kehidupan. Kedamaian, dalam arti suatu pemahaman dan pengalaman terhadap bidang tak terbatas tersebut, dilakukan dengan mengikuti giringan gembala yang baik. Gembala yang mengantarkan kepada air yang tenang dan padang rumput yang hijau.
 
Konsistensi inkonsistensi. Ada semacam keteraturan dari ketidak teratuan yang terlihat dalam hidup. Seperti keteraturan bahwa manusia yang lahir akan mati. Antara lahir dan mati itulah ‘kebebasan memilih’ manusia, dalam bentuk ketidak teraturan, yang bermain. Bagaimana manusia bisa memilih bila tidak ada alternatif jalan. Bagaimana ada alternatif jalan, bila tidak ada jalan utama.

Ajaran-ajaran mungkin merupakan kumpulan pengalaman-pengalaman yang dibuat polanya. Menjadi semacam rumus besar sebab-akibat. Manusia sebagai makhluk yang katanya memiliki akal dan budi, akan memanfaatkan hal ini dalam menjalani kehidupannya. Juga manusia memiliki ‘kebebasan memilih’ untuk memilih akan (kapan) menggunakan ’kebebasan memilih’nya atau tidak.

Seperti kita (umumnya relatif) tidak bisa menolak adanya (konsep) siang dan malam – karena secara umum itulah kebenaran (umum) –. Demikian konsepsi dan isme-isme itu memberikan semacam gambaran alur. Dalam menanggapi siang dan malam itulah manusia mengisinya dengan ‘kebebasan memilih’. Ada yang berpedoman pada konsep-konsep secara fleksibel, juga ada yang secara kaku.

Dalam tataran praktis, pola-pola tersebut adalah semacam jalan utama (umum), dimana jalan alternatif itu menjadi pilihan dari manusia, tentu dengan adanya hukum sebab-akibat yang seringkali bertransfomasi menjadi benar-salah, dan kerap transformasi ini adalah senjata kepada penghakiman. Manusia menjadi tuhan atas manusia lain (hasrat untuk berkuasa).

Dalam tataran konseptis, siang dan malam menjadi mainan bagi manusia. Dalam pemikirannya, manusia bisa berkata tidak ada siang atau malam atau gelap adalah siang dan terang adalah malam. Siapa yang bisa menentang? Tuhan pun tidak.

Manusia adalah konsentrat padat dari hasrat untuk berkuasa. Manusia membutuhkan idola. Menjadi panutan dan contoh, menjadi jalan utama dan jalan umum. Juga, manusia memiliki ‘kebebasan memilih’. Menjadi manusia dengan kemanusiaan atau kedombaan pun adalah pilihan. Dengan kedombaan menuju kemanusiaan atau kemanusiaan yang mengarah pada kedombaan atau kemanusiaan untuk kemanusiaan atau kedombaan selamanya atau ini atau itu atau begitu atau begini dan atau atau lainnya. Bebas.

Isme-isme yang dikatakan suatu kebijakan, kebaikan, kebenaran, (mungkin) sepertinya tidak lebih dari semacam rumus. Rumus tersebut berisi keseimbangan yang menghasilkan produk berupa simbiosis mutualisme. Tentu saja hal ini salah satu bukti bahwa isme adalah suatu pola dari banyak pengalaman yang pernah terrekam di bidang tak terbatas kehidupan.

Salah satu contoh sederhana. Berikanlah apa yang lebih dari padamu kepada sesamamu. Saat semua melakukan hal ini dengan penuh kesadaran dan kepastian, simbiosis mutualisme dalam jejaring global akan terjadi. Seseorang memberikan kepada orang lain yang ternyata membutuhkan. Kemudian saat sang pemberi ini mengalami musibah, orang lain (yang mungkin yang pernah ia beri atau tidak) yang mengamini isme ini, akan memberikan uluran tangan juga kepadanya. Begitu seterusnya.

Pola-pola yang terkandung dalam isme-isme yang bernada kebaikan, kebajikan, kedamaian dan sejenisnya mungkin memiliki dasar pola yang sama. Simbiosis mutualisme. Lantas, bagaimana dengan orang yang menyadari (secara sadar atau tidak sadar, dengan paramater kesadaran logika) pola ini? Kembali kepada ‘kebebasan memilih’, apakah ia akan mengikuti isme-isme dengan kaku, fleksibel, kombinasi, tunggal, adaptif, atau bahkan mungkin membuang semuanya dan melampauinya.

Beberapa orang mengatakan diri ‘melampaui’ dengan isme aku adalah tuhan untuk diriku sendiri. Berusaha mencapai kesadaran penuh akan diri namun tidak menolak bahwa dalam diri, ada jiwa yang memiliki suatu ruang murni kemanusiaan, yang sering dinamai hati nurani. Dengan kesadaran tinggi, manusia ini memilih. Memilih untuk bersimbiosis mutualis atau tidak, kapan, dimana, dalam lingkup apa, dengan cara bagaimana, penuh kontekstualitas tanpa menjadi opotunis dan munafik.

Manusia-manusia yang berusaha melampaui kemanusiaan (umumnya) tentu saja harus mengalami dan melewati tahap kemanusiaan yang penuh dengan isme-isme. Apakah melampaui kalau tidak ada yang dilampaui. Dengan bahasa yang sederhana dan umum (sederhana karena umum), mereka disebut siap mati, siap susah, siap dihujat, dihina, dan “di...”-“di...” lainnya yang (secara umum) berdefinisi buruk (bukan mutualisme). Lalu mana yang benar dan yang salah. Sepertinya terlalu naif melihat transformasi sebagai esensi. Ada sebab ada akibat. Ada manusia. Ada kebebasan memilih.

Hukum dalam isme mungkin adalah suatu cangkir, untuk wadah manusia meminum lautan. Bukan hukum adalah lautan. Isme, (mungkin) adalah langkah awal sebelum sebuah gerakan lari ataupun terbang. Pasrah, adalah pintu untuk masuk ke dalam sesuatu yang lebih raya dari sekadar hidup untuk menjalankan isme-isme dengan tujuan kebahagiaan abadi. Bukankah kebahagiaan itu pun sebuah isme.

Demikianlah, setelah saya menuliskan ini dengan maksud ‘menyatakan’ hal yang terlintas sekejap dalam pemikiran dengan tujuan memperjelas. Memperjelas untuk memahami dan sedikit mengalami. Saya menjadi tambah bingung dan tidak jelas -_____-“ saya nulis apa ini yaaaa...????!!! *malas ngedit pula.

Thursday, September 1, 2011

mati

lalu, ada apa dengan hatiku
rasanya semua mati tertikam logika
semua yang aku lihat membuat pilihan
matikan perasaan
manusia hanya pola

lantas, untuk apa ada perasaan?
untuk dilampaui, untuk melampaui kemanusiaan
dengan membuangnya atau dengan tenggelam luruh di dalamnya

lalu apakah aku telah mati hati dan rasa
semua rasanya hanya seperti penyakit
hidup itu penyakit
yang bisa sembuh dengan kematian

membunuh atau terbunuh

tuhan, apa aku mainanmu
atau aku adalah bentukan dari lingkungan dan pengalaman di sekitarku
semua yang aku lihat membentuk aku
dan kebetulan yang aku lihat

tuhan dalam bongkahan es

Friday, August 5, 2011

Hey, aku!

Hey, aku..! Siapa kamu?
Apa yang kamu lakukan?
Apa yang sedang kamu tuju?
Untuk apa itu semua?
Aku kah kamu? Kamu kah aku?

Cermin.. cermin.. tunjukanlah wajahku pada diriku, bukan produk asahan dari pahat harapan dan palu beban.

Hey, aku..!!

Mengapa malah terdiam?

Apa mulai terbuai LAGI?

Masih lemah kah aku melawan aku?!

Buka mata dan pelan-pelan
Hingga saat nanti tak bisa pelan
Hajar sampai terkapar

Tiada kebangkitan tanpa kematian

Thursday, July 14, 2011

Mari Makan


Mari Makan
Untuk apa sekolah/kuliah? Untuk mendapatkan kerja. Untuk apa bekerja? Untuk melanjutkan hidup. Memang, bagaimana cara bertahan hidup di zaman ini? Bersikap konsumtif dan eksploitatif. Mengapa? Lihatlah, tidak ada lagi lahan persawahan, perkebunan, dan hutan tempat kita berburu hewan. Yang ada hanya manusia. Apalagi yang bisa dimakan.
Mengutip kata-kata Soe Hok Gie, “Masih banyak mahasiswa bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa ... Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.”
Sumber Daya Manusia. Manusia telah menjadi sumber daya. Daya bagi siapa? Mungkin bagi suatu sistem usaha yang berdasarkan prinsip ekonomi. Dengan pengorbanan seminimal mungkin mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin. Siapa yang untung dan siapa yang dikorbankan sepertinya sengaja diburamkan asas kebutuhan bersama.
Tidak ada ladang lagi bagi tanaman, hanya ada ruang bagi uang. Para pelajar dan mahasiswa diberikan keterampilan dan ilmu, yang diperlukan suatu sistem usaha (perusahaan) saat ini. Ilmu menjadi teknik/cara bagaimana manusia bergerak untuk berbuat sesuatu, guna mendukung keberlangsungan sistem eksploitatif konsumtif ini. Seperti robot yang mendapatkan program dan melakukannya tidak lebih tidak kurang.
Budaya karir, orang bilang. Mungkin benar, semua pelajar akan mengejar karir seperti mengejar pencuri yang ketahuan sedang beraksi. Sistem budaya ini begitu mendominasi, dengan cara mengenalkan yang namanya ‘kemapanan’. Ia begitu menggiurkan, hingga semua manusia ikut-ikutan. Sistem budaya ini kemudian menjadi utama, dengan produknya yang bernama nominalisme. Semua hal memiliki angka (nominal). Untuk buang air kecil bernominal seribu rupiah.
Akhirnya, kebutuhan bertahan hidup manusia dalam arus budaya ini, membuat alur baru bernama otomatisme kehidupan. Lahir, sekolah, kuliah, kerja, menikah, menyekolahkan, menguliahkan, kemapanan, dan mati. Mati, karena meninggal adalah kata untuk kemanusiaan. Kemapanan seolah penyederhanaan dari kompleksitas kemanusiaan. Dehumanisasi kah yang sedang terjadi?
Kembali mengutip kata-kata Soe Hok Gie, “Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”