Sunday, January 6, 2013

Sang Pahlawan


sumber dr harapan, kata. sumber dari kata, perasaan. sumber dari perasaan, pikiran. sumber dr pikiran, latar belakang. 1org 1dunia.

Berbicara imajinasi dengan manusia jamak itu sulit, selalu diprasangkai. Bicara kopi dikira akan buka kedai, bicara bra dikira putus asa =.=

bicara motor dikira akan beli baru, bicara alam dikira akan liburan jalan2.. Imajinasi terkungkung angka.

bicara itu mudah, menjelaskan susah, mengerti sangat sulit, memahami itu yang mustahil.. dasar manusia

yah memang merepotkan bertemu yang namanya 'asa' belum lagi nanti kalau hilang logika dan memulai per'asa'an baru.. aiihh.. terseret (r)asa!

para pahlawan akan datang mendekati gadis lugu yang dilanda kegalauan, ujung2nya selangkangan...!!!!! para=langit2 (logikapahlawan)

banyak hal yg melahirkan rasa tdk mau dekat lagi & cenderung menjauhi, misalnya, ngupiL waktu diajak ngobrol - aku tanpamu butiran korong

"diksi mempengaruhi hati" ~amoure d'amurist

para pahlawan yg hadir di saat yg tepat, saat sang pengharap kehilangan tempat berpijaknya, ia datang membawa drama kehebatan.. silakan..

itulah kurangnya kemanusiaan, yg sekali bertemu kaki pasangan langsung malas berjalan, saat terjatuh dari gendongan tak mampu berdiri jalan

bahkan pahlawan pun akan terjebak dalam permainan kegagahannya, karena dalam kebingungan pengharapan, ancaman asa mengendalikan pahlawan

modal bagi pahlawan adalah hujan, motor, dan jas plastik =)) _aku berayun dengan tembakan jaring dari satu harapan ke harapan lainnya_

"memang lakilaki paling suka caricarii.. pina pasang aksi kami siap bawa laariii.." (pop daerah Flores : Yosefina)

terimakasih, jalan berlubaang, karena kamu kami baku dempet. terimakasih cuaca hujaan, karena kamu aku jadi pahlawaan =)) (pop daerah Flores : Oto bis kayu)

makin jelek makin enak makin lubang makin goyang, terimakasiiih jalaan berlubaaaang... (pop daerah Flores : Oto bis kayu)

hanya superman, pahlawan yg paling jujur.. dia nyaman dengan celana dalam di luar.. pahlawan lain, kesiangan & bertujuan dapat selangkangan

aku pahlawan?? bukan! akulah yg menciptakan pahlawan, sang penjahat pemupus harapan..

tanpaku tiada gadis pirang berdiri di sisi jembatan penuh kegalauan, tanpaku tiada pahlawan yg mengambil kesempatan menuju selangkangan

yak aku lah sang pencipta pahlawan, sang penjahat pemupus harapan, sang penguji kemanusiaan, dan penanggung dosa harapan.. maaf, aku kuat!

yak aku lah sang pencipta pahlawan, sang penjahat pemupus harapan, sang penguji kemanusiaan, dan penanggung dosa harapan.. maaf, aku kuat.

kaleuummm.. lihat si 250cc 4valve sohc dulu... jisss seksiiiii.. O.O

malas lah untuk bilang "kan sudah kubilang" karena memang kehidupan itu repetisi tiada henti, terulang2.. sampai bertemu kesadaran, aku diam

bandung, 18 Desember 2012 / judul: sang pahlawan / oleh: amoure d'amurist



hukum dan kebenaran

>> ada tiga jenis kekuatan; massa, uang , & alam. yang terakhir ini yang mulai jarang ditemui namun paling diperlukan saat ini. bangkit butuh mati

>> vox pupuli vox dei

>> hukum itu, 1 tindakan yang dilaksanakan massa dalam jumlah besar. kebenaran itu, keyakinan massa tersebut. penegak hukum, pedang.

>> bersama membuat hukum dan kebenaran, mari... *ciyus

>>  obat daripada luka hanyalah dusta.

Friday, November 9, 2012

Bergerak Diam

Berlari-lari, bergerak tak mau berhenti. Menolak mati.
Ya, bergerak adalah hidup dan menyangkal mati dengan gerakan.
Berlari berpeluh berdengus hingga paru-paru seakan mengintip dari lubang hidung.
Jantung berdetak keras di kepala. Bergerak lah melawan mati.
Hidup dengan berlari, bergerak tanpa henti.

Saat kaki berlari, otak terhenti.
Lupa diri korban definisi, mungkin akan lebih indah kalau definisi diri.
Nyatanya, definisi jamak yang diamini.
Logika di sepasang kaki, yang terus berlari tanpa henti.
Bergerak dan berlari di tempat.

Hey... lupa kepala lupa mata.
Kaki dan kaki saja, seperti babi yang terdefinisi haram berjalan menunduk.
Bahkan babi lebih berharga karena geraknya maju melihat jalur.

Berlari-lari, bergerak tak mau berhenti. Menolak mati.
Di tempat yang sama.
Bergerak tak berpindah tempat.
Menolak mati dengan bergerak di satu titik.
Bergerak yang diam.
Hidup yang mati.

Diam adalah mati. Bergerak adalah hidup.
Makan lah definisi dan nikmati rakusnya konsep yang tak terbatas.
Tipui diri dengan bergerak dan berkaki. Di mana kepala? Di antara kaki.
Ya, birahi untuk menjadi.
Termakan menjadi pemakan, definisi mereduksi kesadaran diri.

"Adalah" oh "Adalah"
Tuhan lama yang baru.

Sadari telah mati semua kehidupan ini.
Telah diam lah semua pergerakan ini.
Untuk apa berlari di tempat di ditonton oleh aturan.
Tuhan telah mati dan manusia yang membunuhnya.
Manusia pun mati dan definisi yang menggerogotinya.

Berlari lah, bergerak tak berhenti.
Di tempat.
Matilah dengan bahagia dan tak terasa.
Bukankah semuanya begitu.



Wednesday, October 24, 2012

mati biru

ah, sayang.. terlalu banyak definisi kau telan
terlalu biar 'jangan' dan 'seharusnya' mengekang
tak perlu mengisi hal yang indah karena kosongnya
tak perlu pun berjuang kalau memang nyaman dengan tiduran
untuk apa pula keluar dari hal yang nyaman kalau akan kembali kepadanya
hanya mengulang-ulang dan terjamakkan lah dirimu
buang acuh kalau memang tak butuh
biarkan orang-orang mati dikubur bukit bertutup tanah rumput
kalau memang tak masalah, mari mati di selokan yang bermuara ke laut
yang berlomba menuju langit sudah berdesak bersesakan
kalau tak mau, tak perlu ikut dalam antrian
kalau tak masalah, lebih lega mati di selokan
menuju sungai, sungai, sungai dan laut
laut dan langit itu sama
biru..

Friday, October 12, 2012

Merepotkan

kalau kalian lari kepada saya, saya lari kepada siapa?
kalau kalian menginginkan saya, rebutan lah saya dengan kalian untuk seonggok saya.
kalau kalian bergantung pada saya, bersiap terjungkal lah karena saya berdiri di atas angin.
kalau kalian kecewa pada saya, tidak pernah saya meminta kalian berharap pada saya.
kalau kalian menilai saya dan tidak sesuai, tak perlu jadikan saya alasan dalam drama kalian.
kalau kalian mengganggu hidup saya, seperti hak kalian untuk masuk dalam hidup saya maka saya berhak membuang kalian seperti karya yang gagal.
kalau kalian bilang ini tidak adil, ketidak seimbangan lah yang membuat pergerakan.
kalau kalian ingin datang kepada saya, datanglah tanpa pengharapan dan kepercayaan kepada saya, karena saya bukan tuhan kalian.
 
Manusia membuat drama untuk melakukan kemauannya, lalu mencari manusia lainnya sebagai alasan.
Alasan itu pembenaran untuk melakukan kemauan tanpa terlalu dipersalahkan.
Seperti seorang sadomasokis yang menikmati penderitaan, beralasan latar belakang dan lingkungan padahal menderita itu kenikmatan yang diinginkan.
Oh, jiwa bebal manusia..
Melibatkan manusia sebagai alasan dalam drama sakit mental itu sungguh merepotkan!

Thursday, August 30, 2012

BAPA KAMI ~ Bimo Petrus - aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID)_1998


Bapa Kami yang ada di surga

Engkaulah Allah yang memihak orang melarat, bukan pada orang yang gila harta

Engkaulah Allah yang berdiri di sisi orang yang tertindas, bukan pada orang yang gila kuasa

Engkaulah Allah yang berbelas kasih pada orang yang hina, bukan pada orang yang gila hormat


Dimuliakanlah Nama-Mu

Di antara para petani, yang menggarap sawah – sawah tergadai

Di lingkungan para buruh, yang harus berteduh di gubuk kumuh

Di kalangan anak asongan, yang harus mandi di sungai tercemar

Di antara rakyat kecil, yang tergusur demi suksesnya pembangunan


Datanglah kerajaan-Mu

Yakni di dunia baru

Yang berlandaskan cinta kasih

Yang berhaluan kebebasan

Yang betatanan keadilan


Jadilah kehendak-Mu di atas bumi

Untuk memberi makan pada yang lapar

Untuk memberi minum pada yang haus

Untuk memberi tumpangan pada para pendatang

Untuk memberi pakaian pada yang telanjang

Untuk melawat mereka yang sakit

Untuk mengunjungi mereka yang ada dalam penjara

Untuk memperjuangkan hak – hak mereka yang tertimpa ketidakadilan


Seperti di dalam surga

Yang berpihak pada rakyat kecil

Yang mengutuk segala bentuk intimidasi

Yang menghilangkan segala upaya pembodohan masyarakat

Yang membongkar segala praktik bisnis tanpa moral

Yang membongkar segala praktik penyalahgunaan kekuasaan


Berilah kami rejeki pada hari ini

Agar kuat dan bekobar dalam membongkar budaya bisu

Agar kuat dan pantang mundur dalam melawan budaya takut

Agar kuat dan berani melawan budaya pakewuh


Dan ampunilah kesalahan kami

Karena kami diam, ketika hutan – hutan dibabat untuk arena balap mobil

Karena kami bungkam, ketika rumah dan ladang digusur untuk lapangan golf

Ketika kami bisu, ketika sawah –sawah dirampas untuk rumah mewah

Karena kami acuh, ketika rakyat kecil disingkirkan demi gemerlapnya keindahan
kota


Seperti kami pun mengampuni

Mereka yang bersalah pada rakyat

Melalui sistem pembodohan nasional

Sehingga rakyat hanya mampu berkata “ya”, ya dan ya”


Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan

Sehingga kami ikut melakukan kekerasan, seperti mereka yang tidak mengenal Tuhan

Sehingga kami hanya mampu melontarkan kritik, tanpa kami sendiri bertindak adil, jujur dan bertanggungjawab

Sehingga kami berpihak dan membantu orang kecil, tetapi kami sendiri tidak terlepas dari permainan manipulasi


Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat

Yakni pikiran untuk memonopoli kekayaan alam

Perkataan untuk memanipulasi pendapat umum

Perbuatan yang melecehkan keinginan rakyat


Amin.

Thursday, July 5, 2012

Terlalu Kecil

Kematian sejuta orang tiada artinya bagi alam semesta. Terlalu kecil. Sebutir pasir di pinggir pantai tak terasa, kita semua menyebutnya pasir. Adakah yang memberi nama tiap butiran itu, untuk membedakannya satu sama lain? Ada, makhluk gila yang entah dimana pun dimana-mana. Kita sebut makhluk itu tuhan. Kalau memang bentukannya adalah makhluk. Siapa yang tahu kalau tuhan pun sebutir debu, sama seperti butiran lain. Hanya makhluk sok tahu yang tahu, kita menyebutnya manusia.

Manusia yang bergerombol, berkumpul di bumi seperti pasir di pantai. Hanya menyesakkan di sebuah ruang dan waktu, kemudian menjadi alas kaki sesuatu yang lebih besar. Seperti manusia yang menginjakkan kakinya di pasir pantai, membentuknya menjadi istana dan menjadi raja. Terlalu kecil pasir melawan manusia. Terlalu kecil manusia melawan semesta. Kematian berjuta orang tiada artinya bagi alam semesta.

Butiran menciptakan pasir, pasir menciptakan manusia, manusia menciptakan dewa, dewa menciptakan raksasa, raksasa menciptakan sistem, sistem menciptakan butir pasir. Terlalu kecil butir pasir melawan manusia. Kebebasan hanya ada di sekotak ruang dan waktu yang dinominalisasi. Di luar dari pada itu adalah perang, perlawanan. Lebih besar lagi, tiada apa-apa. Sangat kecil. Terlalu kecil. Seperti matahari menatap butir pasir. Dia bilang, tiada apapun di sana.

Teriakan penuh amarah, kepalan tangan pun meninjui udara. Tendangan ke bumi, tamparan kepada samudera. Biar anak panah itu menembus kepala menghancurkan otak, teriakan penuh amarah tidak akan pernah berhenti. Terlalu kecil untuk melawan, emosi pun tersapu begitu saja. Kaki-kaki raksasa menginjak dan meremukan badan, hingga tulang belakang keluar dari pantat bersama dengan taik. Biarkan, tetap berdiri melawan. Ada apa di sana? Tidak ada apa-apa. Terlalu kecil.

Melawan dengan jantung yang dipompa tangan sendiri, hanya untuk menambah periode perlawanan yang tidak berarti dan gerak perlawanan yang tidak berasa. Terlalu kecil, seperti matahari menatap butir pasir, ia berkata tiada apapun di sanan. Kematian berjuta manusia tiada artinya bagi semesta.

Biar mata berdarah hingga bolanya menggelinding keluar meleleh panas, terus melawan walau terlalu kecil. Telinga pun telah tiada, ia hangus dibakar dogma yang mereduksi. Tak perlu lagi reduksi, apa lagi yang bisa diamputasi dari sebutir pasir, apa lagi yang bisa ditimbang dari seonggok daging yang menggunakan peniti untuk mengikat jiwa agar jangan dahulu pergi. Biar..! Biarkan terbakar hingga menjadi abu, menjadi butir. Pun terus melawan merongrong menerkam dengan ganasnya hingga muncul pertanyaan ‘apa itu?’. Jawabannya, tiada apapun.

Kaki yang patah, cabuti tulangnya menjadi tongkat bagi kaki satunya untuk tetap berdiri. Mengepalkan tangan kepada tuhan dan menantangnya berkelahi. Ada pedang, dari tulang tangan yang telah membusuk dagingnya, dibantu para belatung. Pedang untuk mengoyak perut semesta agar isinya muntah ruah dan membusuk di depan mata. Mata yang tinggal sebiji dan bernanah.

Pita suara terakhir pun putuslah, hanya mulut menganga tak bisa lagi menggeram. Injakan pun menekan lebih keras, meninggalkan tapak dalam bagai di pantai. Menghancurkan tubuh lebih dalam. Rahang yang telah terputus dari sendi tengkorak bukan halangan, justru bantuan agar selalu berteriak melawan tanpa halangan mulut. Tenggorokan memuntahkan darah bersama dengan udara dari paru-paru yang pecah, menggantikan suara yang terlalu kecil untuk didengarkan.

Terus meninju semua yang ada sekuatnya, menendang menampar, meludah dan menebas, berteriak dengan darah. Sekuat-kuatnya membabi buta-tuli-bisu. Terlalu kecil untuk melawan artinya adalah perlawanan yang terus terus dan terus. Hingga terbuka mata tak hingga itu dan menganga mulutnya berteriak keras melelehkan seluruh tubuh dan menginjaknya tak berasa.

Apa itu?! Apakah itu. Hanya sesuatu yang sedang lewat dan berlalu. Begitu saja. Bukan perlawanan bukan pembelaan diri, hanya lewat dan begitu saja. Hancur semua raga, lepas peniti yang mengaitkan jiwa. Hembusan angin lalu yang lewat menghanguskan butir jiwa yang lepas, dalam sepersejuta embusan. Terlalu kecil. Saat satu embusan selesai, sejuta kematian terjadi dan itu bukan apa-apa bagi semesta.

Bercak darah, daging, bubuk tulang, lendir, organ dalam, dan abu jiwa menempel pada bekas tapak kaki yang berlalu itu. Menggesturkan perlawanan, tangan terkepal, mulut mengaga, mata melotot, dan tubuh tegas berdiri. Pada bidang datar yang rata. Hening. Hampa. Apa itu? Tiada apa-apa di situ.

Kelahiran seseorang adalah sebutir sesuatu bagi semesta, pada butir itulah titik kehancuran berdiri. Kematian semua orang tiada artinya bagi semesta, karena begitulah adanya ketiadaan. Titik kehancuran yang berdiri menantang tiada artinya bagi semesta, seperti kematian menciptakan kelahiran, kelahiran melawan kehidupan, kehidupan menghasilkan kematian. Sebutir pasir proses keberadaan, peneguh ketiadaan. Terlalu kecil.


esensisensasi 05072012