Tuesday, May 27, 2014

racauan #1

merajalela tidak tahunya, dituntutlah seharusnnya
aduh, memang jawaban itu diperlukan terlepas sesuai tidaknya
penjelasan hanya jadi bahan tertawaan, beda itu dosa, sayang
gagal paham

ketuhanan pada kejelasan, penghakiman pada kelepasan
celana kedodoran keperawanan pun terlepaskan, kemajuan jaman
persetan dengan pelesetan, apa yang hina itu yang ditertawakan
beda itu seharusnya hina

hahahahaha...

mata itu buta
telinga itu tuli
rasa itu keliru
akal itu penyesalan
kebebasan itu pemenuhan keseharusnyaan

kesenangan harusnya ramai padat bergejolak
gairah itu harusnya ambisi kejar taklukan lalu menang
beda itu dosa, sayang

duduk diam berlagu berkata
tanpa tau tanpa mau tanpa memburu
percayalah, tiada harga di mata definisi
salah lah kesenangan semacam itu
beda itu dosa, bodoh

salah paham wajar, gagal paham keharusan
terlalu damai tak kan menenangkan
babi babi menarik intelenjesi dengan emosi
turun kepada kejamakan kubangan tai definisi
gumpalan memori

ah, babi babi penuhi jalanan
bahkan diri ini babi yang menolak kebabiannya
dengan sok mengagunggkan kenabiannya
aku adalah tuhan
kalian adalah babi
manusia itu hanya imaji, cerita tentang gumpalan memori

seandainya babi bisa menggambar, maka tuhan akan berbentuk babi
kemuliaan kepada babi, putri, dan keriuh gaduhan keseharusnyaan

Friday, May 23, 2014

chance chance unchanged

banyak yang iri dengan (definisi) buruk,
wajar menjelek-jelekan,
demikianlah #parajamak terjebak #korbandefinisi penyamaan

lihatlah seksama para pengguna 1 sisi saja,
angan tak jadi nyata dan kerja tak jadi guna,
ketidakseimbangan memang diperlukan,
oleh perusahaan

mari bertanya
untuk apa menapakan kaki membuat bukti & memaksa berbagi
untuk kemudian memenuhi definisi,
aduh.. rasanya terkekang kebebasan

lantas dengan mengakar diam dan tenang
menjadi suatu kesuperioran yg melampaui kah,
yah.. rasanya terkungkung perlawanan

sudah tau lalu lupa,
semua sama saja & memang begitu adanya,
bergeliat bergeming ya hadir,
berkata berkarsa berkarya ya bekerja

pada pertanyaan
apakah memang pengisian kesadaran atau hanya menggenapi keseharusnyaan,
titik tiga yg perlu diisi
yg membedakan yg sama itu

karena memang sudah seharusnya begitu
atau
karena memilih seperti itu,
karena rasio atau rasa,
dan terjawab atau tanpa jawabankah;
bedanya

Friday, May 16, 2014

percuma bicara hanya membuang2 kata,

karena takkan habislah kata maka kadaluarsa lah rasa,

asa pun cepat menguap 

#‎karenarasabisakadaluarsa‬

Wednesday, April 30, 2014

rusak

perlawanan yang terjungkal,

tak bisa berenang yang melawan paksa arus kejamakan,

rasa-rasanya kebanggaan akan kekuatan dan keberanian,
aslinya ketidak terimaan keterikatan yang adalah keniscayaan,

memang kebodohan pun kemarahan lahir dari ketakutan,
ah memang tidak akan ingat kalau tidak sempat terhancur rusakkan,

bagaimana berhenti berontak jikalau masih berdaya tolak,
maka rusak membawa pilihan untuk terkubur lanjut hancur atau bangkit berhenti dan mulai kembali

|antibiotik anti |lalulupa

Sunday, April 27, 2014

alas & -an

sebagai alas untuk ketenangan, merangkai kaitan keseharusnya -an
menjadi alas bagi pencetus gerakan, membuatnya sebab bagi akibat yang memang keingin -an
adalah alas yang menguatkan, menghadirkan alibi bagi niatan yang terbentur keterjebak -an

sudah tau namun tiada daya hanya ingin namun tak kunjung datang
sudah mampu hanya tiada nyali namun ingin diberanikan oleh suatu dukungan
sudah terlanjur dan terlarut juga ingin bangkit dan beralih maka rindu keterdorongan

mari bersama dalam suatu pergerakan, kesendirian itu rasanya mencekam
tidak bisa tidak bersama, kebutuhan itu semacam keinginan yang mendapatkan kesempatan
pengulangan yang mengancam, kalau tidak begini maka akan begitu demi keinginan yang tidak ingin tampil sebagai ingin

merangkai definisi menemukan justifikasi sebagai tirai tipis, setipis lingerie
mari membaca kutipan surat darinya:

"hai dunia, aku tidak ingin terlihat murahan, tapi kapanpun kau ingin menggunakan aku, pakailah sesukanya demi tujuan itu
-salam sayang, alasan-"

Friday, April 4, 2014

Satu Tanya Terancam Diam

Satu tanya bertanda, segudang cerita tumpah ruah.
Definisi yang gatal perlu dijelaskan, rasanya seperti pembenaran yang dijejal-jejalkan.
Seringkali lupa sesekali ingat, tapi lidah terus terpaksa oleh hasrat berada yang menekan jiwa.
Kehausan akan pengakuan dan keraguan akan eksistensi, berlari pada kutub gengsi.
Satu tanda bertanya, cukup sampai situ saja tertimpa segudang eksplanasi definisi justifikasi gengsi.

Heroisme dalam imajinasi berkawan teori dan kisah klasik dalam benak, ekspektasi dan mimpi berperan.
Jejaki lantai tinggi suatu abstraksi merasa kuasa dalam melalui, penjelasan tertumpah paksa pada tanya.
Satu saja sudah sedemikian megahnya kotbah, berlanjut kemudian tanda tanya pun musnah.
Memori imajinasi ekspektasi teori dan gengsi, hasrat kuasa menggebu jejalkan justifikasi hingga jengah.
Perih tembusi gendang telinga, menusuk benak hingga terinjak dan trauma memar.

Satu tanya bertanda, segudang cerita tumpah ruah.
Jengah sudah luar biasa hingga trauma memar dalam rekaman, untuk kembali pun enggan rasanya.
satu tanda tanya bukan untuk segudang cerita, sebentuk persepsi sebagai pertimbanganlah sejatinya.
Terbiasa dengan kata, hilang kendali lupa cara berbicara.
Kisah saja menjejali telinga hingga jengah, terbiasa dan lalulupa.

Definisi yang gatal perlu dijelaskan, rasanya seperti pembenaran yang dijejal-jejalkan.
Memori imajinasi ekspektasi teori dan gengsi, hasrat kuasa menggebu jejalkan justifikasi hingga jengah.
Terbiasa dengan kata lupa cara berbicara, hilang kendali pada muntahan tumpahan para mimpi.
Dominasi demi gengsi dan kuasa menggodai ekspektasi, eksplanasi menjadi sarana eksistensi.
Kuat keras megah benar besar sempurna dasar dan lalu dan lalu, dalam harap mengendalikan.

Korban dari teori gatal mengiris dengan definisi tak tahan diri berbuat eksplanasi, satu tanya terancam.
Asik sendiri dengan diri pun muntah jejalkan semua imaji, hilang kesadaran ketagihan tak bisa berhenti.
Dalam kisah dengan cerita dalam pemaksaan definisi oleh eksplanasi imaji, bagaimana lah mengerti.
Satu tanya terancam, oleh ketergantungan pengakuan dalam keterbiasaan perkataan dan pembenaran.
Membuyarkan dengan penjelasan, menghancurkan dengan pengertian, satu tanya terancam diam.


Ah, terlalu terbiasa dengan kata membuat keterjebakan padanya. Saat sudah tiada energi menyatakan diri maka berlari pada ketagihan akan kata yang terlakoni. Menjejali diri dengan bahasa dan memuntahkannya pada suatu tanya. Tergoda hasrat naluriah akan kuasa, pengakuan pun dipaksakan oleh cerita dan kisah, oleh memori dan definisi, oleh keterkataan imaji yang terjungkal kedalam curamnya eksplanasi. Mengalir liar mendominasi mendoktrinasi menguasai dan mereduksi.

Sunday, March 16, 2014

pilih|pidih|pirih

Satu warna dalam aneka datang untuk memberi ragam.
Satu warna dalam aneka terdiam untuk menjadi seragam.
Satu warna dalam aneka pun pudar terlalu lama di dalam.
Satu warna dalam aneka menjadi satu warna yaitu aneka.
Satu warna namanya aneka.

Aneka warna, pluraitas semu yang sejatinya adalah satu hal.
Seperti pelangi, yang berwarna warni namun tetap saja pelangi.
Warna tak berarti, pelangi lah yang menjadi.
Tiada warna lagi, hanya pelangi.
Masih ingat kah dengan warna warni pada pelangi? Siapa saja mereka?

Jamak itu keniscayaan, jarak itu suatu pengusahaan.
Keterlibatan pun suatu keniscayaan, keterikatan tak lebih dari pilihan.
Ilusi-ilusi keuntungan, candu-candu kemapanan, mimpi-mimpi kesuksesan.
Bahkan dengan menegasi adalah suatu bentuk keterlibatan,
Terlibat dengan metoda penolakan.

Pilihan dan pemilihan, ilusi dan keterjebakan.
Dengan banyaknya pilihan maka tidak ada lagi pilihan, sekadar salah satu dari yang sudah ada.
Dengan banyaknya pilihan, maka tidak ada lagi kebebasan, bahkan tidak memilih pun adalah suatu pilihan.
Dengan banyaknya pilihan, membuktikan ilusi kehendak bebas dalam suatu kemanusiaan.
Apalagi pilihannya selain daripada pilihan-pilihan itu.
Terlalu banyak pilihan berarti tidak ada pilihan. Terjebak itu-itu saja untuk memilih yang itu-itu lagi.

Daya ketidak terdugaan menjadi dosa.
Seperti beda itu dosa.
Bahkan sejak dalam pikiran telah terjebak. Pikiran terjebak pEMikiran.
Kehidupan yang menistakan spontanitas dan kemendadakan itu seperti kesukarelaan untuk terjebak.
Masokis. Bahkan sejak dalam pEMikiran, oleh kepenuhan obsesi turunan dari pecandu kemapanan.
Nikmat dalam pedih perih pemenuhan definisi, keseharusnyaan.