Friday, January 16, 2015

KO/tbah/Pi di Atas Bukit (cerpen)

KOtbahPI di Atas Bukit.

15.01.2015/Jakarta/freedom-proklamasi


Gersang dan berdebu, panas dan penuh pelari yang bertahan dalam kebergerakan. Banyak sekali yang takut akan diam, sepertinya jeruji definisi begitu menyiksa laku tenang berjalan daripada liar bergerak. Kera-kera-kera.. yang begitu diagung-agungkan saat ini. Aktif bergerak adalah peribadatan tertinggi kepada agama angka dan akumulasinya menentukan martabat kemanusiakeraannya.

Kompetisi dimulai dari tembakan mulai bintang fajar, cahaya dari timur, raja dari raja yang yang tersangkalkan namun diidolakan. Satu jalan beribu kendaraan berjuta manusianya, bergerak bersamaan karena beda itu dosa. Ah sayangnya, persamaan kini menjadi penyamaan dan kebersamaan adalah kesamaan. Penyederhanaan memang menjadi rumit, bukan karena keragamannya namun karena keseragamannya dan gumpalan kesamaan yang memuakkan tak terelakan.

Tidak bisa tidak, derap kaki seperti tentara berpacu di depan pintu kamar kayu. Sengaja cermin terpasang untuk penerangan karena cahaya telah dimonopoli gedung tinggi. Anjing! Ah salah, makian ini sudah tidak aktual lagi. Monyet! Hemm.. rasanya masih kurang juga. Manusia! Mungkin spesies ini lebih pas sebagai makian saat ini. Tidak ada obrolan hanya ketergesaan, buru-buru tidak ada lagi digantikan buru memburu. Seperti manusia jaman batu berburu babi hutan, manusia modern berburu angkutan terpadu yang sekali telan bisa dua ratus orang.

Keluar dari penangkaran masuk ke dalam kandang perahan. Bagaimana kalian menjalani kemanusiaan, sempat kuintip beberapa kali setiap pagi kalah cepat dengan kembalinya kesadaranku. Ah seperti babi, menunduk merendahkan pandangan menatapi langkah tak rela terpaksa namun penuh bangga. Mungkin babi bukan menunduk malu pada dirinya namun malu pada manusia yang meniruinya.

Kebanggaan yang diumbar lewat kotak suara, yang bahkan saat ini tidak lagi menjadi kotak bagi suara. Ia disangkal sebagai media suara menjadi media visual dengan berbagai sosial dalam jaringan yang membuat manusia seperti kuda terikat tali pada kursi plastik yang bahkan tak tertancap di tanah. Mentalitas budak dalam budaya angka, memang begitu seharusnya dan apa masalahnya. Mempermasalahkannya lah yang menjadi masalah. Kita hanya berbeda.

Kemanusiaanmu yang di pagi hari berburu angkutan masal dengan tertunduk memandangi layar ponsel pintar, dengan kemanusiaanku yang terpaksa bangun untuk melemaskan otot untuk menghindari sakit di leher. Kemanusiaanmu di siang hari yang memandangi keluasan dunia yang terlalu luas namun serupa tapi tak sama dengan layar monitor yang melaju kencang kemana pun sesukanya, dengan kemanusiaanku yang hanya seputar dua puluh kilometer dengan keberagaman namun berpola dari laku manusia dari bawah selokan hingga atap bangunan.

Beda itu dosa, klasifikasi berdasarkan berat recehan di dalam selangkangan pada budaya angka oleh iman kepada agama kuasa membuat dua nilai bagi kemanusiaan yaitu jelas dan tidak jelas. Mungkin kemanusiaanmu yang jelas dan kemanusiaanku yang tidak jelas. Bahkan aku menjadi manusia tidak jelas sedangkan kau manusia jelas. Akan menjadi jelas bagiku untuk menjadi sama denganmu karena kamu adalah kalian, karena kejamakan adalah banyak dan kebenaran sebanding dengan kuantitas.

Belokan kanan di pertengahan perjalanan ini selalu membuat penasaran, terlalu sering diabaikan tapi rasanya kali ini waktunya untuk melewati. Hari ketujuh di sini berarti sudah enam kali mengabaikan, kali ketujuh ini rasanya bolehlah menjadi yang pertama. Aku mengambil belokan ke kanan, jalan kecil menanjak yang selalu membuat penasaran dan terabaikan. Sekilas terlintas para jamak dengan moto kera dan laku babinya, tidak salah dan tidak masalah pun adalah cerminan bahwa spesies bias identitas itu mengandung aku di dalamnya.

Mau kemana? Tanya bapak tua yang sedang mengambil rumput di semak pinggi jalan. Mau ke atas pak, ada apa ya di sana? Anda baru di sini? Iya Pak, Saya hanya penasaran saja untuk ke sana. Oh yasudah hati-hati lah, katanya. Di sana ada restoran yang selalu ramai di akhir pekan oleh mobil-mobil dan orang-orang yang mencuri hiburan. Ya, mencuri. Bahkan daerah terpencil pun selama ada akses jalan tidak akan lepas dari jamahan monyet-monyet muda di dalam babi besi. Jika arah yang kau lalui telah memiliki jalurnya, berarti kau sedang mengikuti jejak orang lain. Seperti ini kah maksud perkataan itu, lalu apakah harus ku melalui semak belukar di sisi kiri kanan jalan ini dan membuat jalur yang baru. Merepotkan. Kaki ini melangkah menyusuri tanjakan mengikuti jalan. Tujuanku hanya untuk tau saja.

Napas sedikit terengah, otot kaki masih mampu walau rasanya tidak seperti biasa. Seminggu ini terlalu longgar aku menggunakan badan ini. Seperempat tahun dengan kebiasaan itu apakah masih bisa tangan ini mematahkan leher dengan sekali ayunan, atau sapuan kaki ini mengeluarkan isi lutut dengan satu putaran. Apakah masih mampu melakukan akselerasi mendadak masuk ke dalam area pertahanan lawan sebelum sikap siaga bertahan pertarungan sempat dilakukan. Ah, memori dan repetisi, lintasan pikiran yang telah menjadi kebiasaan segera berhenti seiring dengan kesadaran bahwa aku sedang merepetisi memori. Manusia memang gumpalan memori dengan karya yang hanya lah repetisi. Tidak bisa tidak terlarut di dalamnya, untuk tak hanyut hanya berharap pada kesadaran keterlarutannya. Itu pun kalau tidak lupa.

Aku melihat suatu rumah yang kecil di atas bukit itu. Jalan setapak berbatu yang padat pun terlihat seiring dengan langkahku menyelesaikan pendakian yang kira-kira tiga kilometer dari belokan jalan besar tadi. Tiga kilometer tanjakan curam berkelok. Aku mulai bisa melihat kota ini dari posisi sekarang, sepertinya berada di puncak bukit tempat warung tersebut aku bisa melihat keseluruhan kota ini. Pantas saja jamak mengincar lokasi ini untuk mencuri hiburan, karena dengan demikian jamak bisa lepas dari kemanusiaannya yang telah terdefinisi angka dan berkutat dengan drama kompetisinya. Lucu, kalau tidak suka mengapa menjalani dan berkeras pada pembenaran-pembenaran definitif, pun telah sadar bahwa kebenaran tersebut adalah kolektif. Tidak lucu, karena semua terjadi oleh kebebasan dan keterjebakan pun bentuk kebebasan dalam memilih untuk terjebak. Wajar adanya dan demikianlah alurnya. Kera dalam pikiranku berlonjakan.

Kaki ini tidak melangkah ke jalan setapak perkerasan batu yang tadi kulihat melainkan memasuki semak dan mencari pohon kuat yang ada di sana. Tidak jauh kalau memanjat, tidak apalah sedikit menguji kemampuan tubuh ini, lama tidak terbentur dan tergores, hanya saja kali ini tumbuhan dan bebatuan bukan pukulan tendangan dan senjata yang bermaksud mematikan. Satu lompatan, beberapa tarikan, sejumlah tolakan, dan rasanya begitu melegakan. Badan ini masih bisa kukendalikan, mungkin tidak seterampil jemari yang menari di atas layar sentuh dan sesigap mata yang menangkap pemberitahuan di pojok perambahan dalam jaringan internet, namun kemampuan tiap orang berbeda kan. Aku mampu melemparkan tubuh ini ke atas pohon dan dengan tepat menangkap dahan kuat untuk menarik badan menambah ketinggian, sedangkan ada yang lain yang mampu cepat menangkap pemberitahuan komentar dari unggahan fotonya untuk kemudian bereaksi dengan komentar tepat di bawahnya sebelum komentari lain menduduki posisi itu.

Srak.. srak.. hap.. tap! Suara itu tampaknya membuat wanita penjaga warung menoleh ke belakangnya dan menemukan ku. “Kamu datang dari semak itu?” Ia bertanya. “iya,” kataku, “memanjat pohon.” Sambungku sebelum pertanyaan standar ‘bagaimana?’ muncul. Ia diam, sebelum sempat bertanya sudah kujawab.

“Warungnya buka?” Aku bertanya.

“Iya, hanya karena bukan akhir pekan tidak semua menu ada.”

“Tidak apa, aku hanya ingin segelas kopi yang bukan sachetan.”

“Ada. Pakai gula atau tidak”

Aku terdiam dengan pertanyaan ini, bukan bingung menentukan berapa takaran gula yang akan kuajukan tapi karena di kejamakan bentukan definisi yang membentuk pertanyaan ‘berapa sendok gulanya?’ ada bentukan definisi lain yang mungkin tidak banyak yang menanyakan hal ini. Memang, pertanyaan ‘berapa sekop gulanya?’ pun termasuk kedalam keunikan yang jauh lebih unik. Hanya, sepertinya kasus pertanyaan itu sangat jarang diketemukan dalam skenario meminum kopi. “Tidak usah pakai gula, polos saja.” Jawabku.

“Pecinta kopi ternyata ya?” Ia menyahut dengan nada retoris dalam kalimat tanya.

“Bukan, hanya menikmati pahitnya rasa saja, rasa kopi.”

“Begitulah, banyak yang memesan kopi namun yang diinginkan adalah rasa manis. Kenapa tidak memesan air gula saja.” Wanita itu berkata datar sambil mengangkat air yang telah mendidih. Aku suka dengan caranya membuat kopi. Mendidihkan air, menyiram gelas dengan air panas untuk menghangatkannya, mengambil bubuk kopi seperlunya dan menutupnya kembali. Menuangkan pada gelas hangat yang kering dan menyeduh seperempatnya dengan air mendidih yang telah didiamkan beberapa detik itu.

Dari tempat dudukku aroma kopi mulai menghalau pandangan. Sejak tadi aku berusaha untuk melihat kota ini keseluruhan dari ketinggian tempat ini namun ritual kopi di atas bukit yang Ia lakukan seakan mencuri sebagian perhatian, dan kini aromanya mencuri seluruhnya. Selesai dengan memasak bubuk kopi dengan teknik seperempat gelasnya , Ia menuangkan air hingga penuh satu takaran cangkir dan mengaduknya sebentar, menutup cangkir keramik dengan tutup keramik pula dan menhidangkannya di depanku. “Tunggu sebentar ya, sekitar tiga puluh detik baru dibuka tutupnya. Kopinya akan jadi enak diseruput nanti.” Katanya sambil berlalu dan tidak ada terimakasih dari bibirku. Terpesona.

Apakah monyet atau babi. Apakah dia manusia atau dewa. Apakah dia aku atau aku adalah dia. Apakah apakah dan kenapa kera di dalam pikiran ini mulai bergerak pun aku tahu jawabannya karena memang demikian lah alurnya sesuai hukum utama tritunggal maha niscaya; kemungkinan/posibilitas, peluang/probabilitas, dan sebab akibat/kausalitas. Seketika kesadaran hadir dan untunglah kesadaran hadir untuk menyadari aliran keniscayaan pikiran dan pemikiran, perbandingan dan pembenaran, penilaian dan penghakiman. Begitulah adanya dan adanya lah demikian maka setelah beberapa saat aku pun menghirup aroma kopi ini dan menyeruputnya dengan ganas.

“Ngapain?” Wanita itu bertanya. Ia masih muda mungkin di bawah usiaku angka durasi hidupnya.

“Lihat-lihat aja” Kataku sambil tidak terlalu lama melekatkan pandangan padanya dan kembali memandangi seluruh kota dari serambi warung yang posisinya memang diatur sedemikian sehingga pas sekali untuk menangkap pemandangan.

“Dengan posisi ini, kita bisa melihat segalanya tanpa terlibat di dalamnya. Tidak ada yang melihat kita namun kita bisa melihat semuanya.” Ia berkata.

“Semuanya namun tidak segalanya. Mungkin. Kita bisa melihat semuanya secara menyeluruh namun bapak tua tadi yang sedang mengambil rumput tidak bisa terlihat, kan.” Balasku.

“Saat kita memandang bapak tua tadi, maka tidak bisa kita melihat seluruh kota. Saat kita melihat seluruh kota, tidak dapat kita melihat setitik manusia yang sedang mengambil rumputnya. Ia berada sebagai bagian dari keseluruhan seperti melihat bapak tua tadi tidak membuat kita melihat tahi lalat di pelipis kirinya, namun melihat tahi lalat di pelipis kirinya membuat kita tidak bisa melihat bapak tua itu, demikianlah tahi lalat di pelipis kirinya adalah bagian dari si bapak tua.”

“Iya, maka pentinglah untuk tidak selalu melihat dari serambi yang sama dan perlu untuk melihat dari jendela itu atau serambi belakang itu, atau mungkin berpindah ke teras depan yang langsung berbatasan dengan jurang.” Kataku sambil menunjuk beberapa tempat yang ada di sana. “Bapak tua itu, tinggal di sini?” Lanjutku.

“Iya dan iya.” Jawabnya sambil tersenyum. Sialan, manis.

“Tidak sambil mengopi juga?” Aku mengalihkan keterpesonaanku.

“Tidak, aku tidak suka rasanya tapi aku menikmati aromanya.”

Aku tersenyum pada bibir, namun tertawa pada hati. Kalimat ini pernah kudapatkan dulu. Hahahaha.. sungguh manusia adalah gumpalan memori dan pengulangan tiada henti, maka dengan kecepatan yang melebih kesadaran, refleks, aku menjawab kalimat yang sebetulnya pernah kuucapkan dulu, “Kalau begitu ini kopi kita, ku yang menyeruput dan kau yang menghirup.” Tidak sampai seperempat detik kesadaran hadir bahwa kalimat itu kuucapkan dan pengucapan itu pun berdasarkan memori dan repetisi. Ia tertawa dan memandangiku dengan mata yang juga tertawa. Entah apa maksudnya namun bukankah dia dengan dunianya dan aku dengan duniaku. Dunia yang adalah kotak bagi memori memori.

Aku tidak bertanya dan dia tidak membahas. Selesai tawa itu terjadi kami pun sama-sama memandangi keseluruhan kota di bawah bukit tempat beradanya warung ini. Hening dan kini giliran angin yang berbincang dengan dedaunan. Kopiku tinggal setengah. Tidak terbiasa menyeruput kopi yang dingin, aku selalu menghabiskan kopi selagi dalam keadaan hangat.

Kopiku pun selesai dan wanita ini masih duduk dengan tenang di sebelahku memandangi awan dan tangannya menggenggam kursi kayu tempat kami meletakkan pantat dan pemikiran. Aroma kopi akhirnya selesai dari kerongkongan dan tenggorokanku. Bukan rasa kopi yang membuatnya menjadi kopi namun setelah rasa itulah yang menjadikannya. After taste is everything, katanya dan aku mengerti betul apa maksudnya walau hanya dalam lingkup secangkir kopi.

Bau darah membuatku siaga. Bukan bau darah segar yang tumpah namun bau darah yang penuh dengan nafsu membunuh, panas dan pengap. Sebilah pisau melentin sempurna dari arah kiriku ke arah pusat keningku dengan ujung tajamnya yang tahu pasti arah tujuannya. Gelas kopi kuhentakan ke kiri dan tubuh ini kulemparkan ke kiri oleh kontraksi otot pinggang kiri, leher kiri, dan tolakan otot betis dan paha kaki kanan. Sempat. Telinga kananku sepertinya terkena, karena aliran panas membelai leher kananku.

Kepalaku di dadanya, tepatnya telinga kiriku menempel di dadanya. Wanita kopi yang mempesona dan terlalu pandai untuk menjadi gadis desa penjaga warung kopi di atas bukit. Ritual kopinya bagaikan kotbah, yang selalu berisi tentang pola kemanusiaan dan menggambarkan pengulangan-pengulangan. Kini kedua tangannya memegang belati, yang kiri yang kuelakan dan berhasil mengoyak daun telinga kananku, yang kanannya kupegang dengan tangan kiri dengan kuat agar dalam posisi kepalaku dempet dengan dadanya tidak ada belati yang menembus leherku. Satu hentakan kuat dari otot kaki kiriku melentingkan badanku sehingga puncak kepala ini menghantam dagunya. Dagu yang seandainya kami berciuman akan kupegang lembut dengan telunjuk dan ibu jariku.

Pecah! Dagunya berdarah, pandangannya sekilas membuyar, pisau tangan kirinya lepas dan pilihan ada padaku, mengambil pisau itu dan memberi waktu bagi penglihatannya untuk kembali normal untuk kemudian menyerangnya dengan senjata atau melakukan satu jurus pukulan keras ke ulu hati untuk memecahkan lambungnya dan menjatuhkannya. Aku bukan orang yang sabar, hentakan kaki kanan dan ayunan tangan kanan melesat ke arah pusat badan sang perempuan yang pernah begitu mempesonakan, aku.

Belum sempat meledak, tangan kananku terempas ke arah kanan dan kulihat sebatang kayu menancap pada kulitnya. Tidak sampai menembus karena otot sedang kontraksi penuh dan keras seperti kayu. Ya, kayu, karena masih bisa tertancap anak panah. Kepalanku gagal mendarat pada solar plexusnya namun mendarat pada dada kirinya tepat di garis posisi jantung. Tidak telak meledak hanya menghantam dengan setengah kuat. Aku ikuti jalur anak panah ini dan menemukan bapak tua pengambil rumput yang sedang melepaskan anak panah kedua kearah titik vital di antara kedua mata.

Sekejap telapak tangan kiri menghentikan laju anak panah mendarati keningku, yang kali ini anak panah itu menembus telapak tanganku. Seperti paku pada telapak tangan yang mengikat para jamak pada kekang ponsel pintar dan papan tombol komputer nya, siksaan yang tidak membawa keselamatan. Posisi tubuhku menurun dan gerakan bapak tua tadi mendekat sambil menarik anak panah ketiga. Kini ia ada di atasku, mengambang hasil dari lompatannya dan akan segera melepaskan anak panah ketiga bersamaan dengan lecutan tangan kananku melemparkan pisau yang tadi terjatuh.

Pisau perempuan yang berkotbah di atas bukit dengan ritual kopinya kini bersarang di tenggorokan bapa tua bersamaan dengan anak panah ketiga yang menacap di tangan kananku. Tidak menembus karena ia mendarat pada siku. Bertanya, “sakitkah?” adalah cara untuk membuatku semakin emosi tak terkendali. Sebelum bangun, kuhantamkan gelas kopi ini pada pelipis orang tua itu dan membuat satu titik lagi aliran lava merah dari kepalanya. Ia terkapar. Ia sebentar lagi tewas.

Tattoo di paha perempuan itu menjelaskan semuanya. Mereka orang jaringan. Sialan, ternyata benar ada alat pelacak di uang terakhir yang kuterima dalam satu tas besar. Aku tidak terkejut, aku sadar aku abai tidak memeriksanya, aku sadar bahwa hal ini akan terjadi dalam bentuk kemungkinan dan peluang, karena hukum sebab akibat telah kujalani sebelumnya. Lalu semuanya menjadi tenang dan jelas dalam pengertian. Demikian lah alurnya dan aku ada di dalamnya. Seandainya bukan aku, alur akan terus berjalan dengan sang “aku” lain yang mengisi peran ini. Semuanya berjalan, waktu terus berlalu, aliran demikian lah adanya dan peran adalah keniscayaan. Sadar atau tidak sadar yang membedakan, memang tipis, setipis lingerie.

Menutup luka seadanya dan aku melompat masuk ke semak-semak. Tidak sampai dua puluh menit akan ada tim pembersih yang hadir untuk membereskan kotoran dan mayat. Mayat korban dalam keberhasilan misi atau mayat eksekutor dalam kegagalan misi. Prosedur yang aku ketahui, walau belum sempat aku terbiasa dengan itu. Tidak perlu memastikan prosedur itu berjalan atau tidak, aku melaju turun dengan menekan luka dan menuju penginapanku.

Aku tidak bodoh, dalam jaringan telah ada kesepakatan yang menjadi kode etik kegiatan. Penyelesaian dan pembersihan sampah divisiku dalam jaringan adalah dalam pertarungan dan bukan dalam tindakan diam-diam yang mematikan, seperti penembak jarak jauh. Bukan masalah kematian yang aku pedulikan, namun keberadaanku yang diakui sebagai sampah dalam jaringan lah yang membuatku sedikit kesal. Memang sebelum berhenti sudah ada yang mewanti-wanti, tidak semua akan menerima. Untung saja belum ada genap satu putaran matahari keterlibatanku maka mudah untuk mengakhiri, tapi tetap saja paku yang tertancap sedangkal apapun akan membekas saat dicabut.

Berharap pada kesepakatan kode etik, aku menuju penginapanku. Pendarahan telah berhenti, daun yang kukunyah dan kuletakan pada luka ternyata berguna, walau aku hanya membaca dari buku saja dan ini kali pertama melakukannya. Aku menaiki angkutan umum dan menurunkan lengan jaketku, mengambil telepon selular dan ternyata ada pesan masuk. “Kode etik terjaga. Pertarungan. Bapak dan kakak yang tidak puas pada perebut posisi sang anak, adik yang kemudian melepaskan kursi itu. Personal. Bukan urusan jaringan.” Yang langsung terhapus selesai dibaca. Oh, komunikasi jalur aman. Aku menghela napas lega, ternyata mereka. Saja. Berarti ada satu lagi. Si bungsu yang berapi-api.

Thursday, August 28, 2014

Bangunlah Bangun, Ketertiduran (cerpen)

28.08.2014/cimahi/amuristcave

Pengamen yang mengancam, menyanyi dengan paksaan dan lebih memaksa dalam meminta uang. Yang pura-pura tidur tolong buka matanya sebentar untuk kasih seribu rupiah saja untuk jasa kami, katanya. Atau; kami tidak berniat mengganggu hanya bernyanyi saja, jadi kasih saja seribu dua ribu supaya tidak ada gangguan. Ucap mereka di akhir lagu. Rasanya mengesalkan, namun bukankah kita semua adalah penuntut dan pemaksa dalam kehidupan ini, hanya dengan cara yang berbeda saja. Semacam kredit, bukankah dengan asas kebutuhan saat ini kita terpaksa untuk memaksa mengadakannya saat ini dengan cicilan sebagai media.

“Apa lihat-lihat?! Kenapa ngetawain, orang mana kamu?” Kata salah seorang pengamen kepadaku ketika mata kami beradu tatap. Ah, merepotkan. “Gak bung, maaf.” Balasku tidak ingin menambah kerepotan. “Halah, sok sekali ya ente.. mentang-mentang kami pengamen dikira bisa seenaknya direndahkan.” Ia kini mendekatiku dengan memasang muka berang. Masalah memang adalah bukti bahwa manusia itu hidup, dan beberapa membutuhkannya sebagai pengakuan akan kehadirannya. “Maaf bung,” jawabku, “Saya tidak merendahkan, tadi hanya lihat sekilas saja, maaf kalau bikin gak enak.”

Matanya masih menatapku tajam, aku mengalihkan tatapanku dari mukanya. Aku tidak ingin masalah dan kerepotan di dalam bus ini. “Lihat hanya sekilas, merendahkan sekali kamu.” Ia menyentak sambil memukulkan topinya ringan ke bahuku. Hemm.. masalah itu artinya segala alternatif adalah salah, bahkan tidak mengambil alternatif adalah kesalahan. Mencari masalah berarti mencari pengakuan, dalam istilah lain mencari pengalihan. Ada hal yang tidak mampu ditanggung sendirian dan butuh suatu pergulatan untuk mengalihkan energi yang tertahan. Seperti pemuda bertato yang kini aku beradu tatapan dengannya, kali ini tidak sekilas melainkan dalam dan menantang. Karena dalam permasalahan, sekejap atau selamanya adalah salah.

Aku berdiri dari tempat dudukku, namun ia mendorongku kembali terduduk. Posisi kursi yang sempit ini menyulitkan memang, apalagi emosiku yang bernama marah meningkat. Tinjuan kiriku pada paha kanannya membuat mukanya merendah dan kemudian tamparan kiriku mendarat dengan telak yang membuat dia terduduk di lantai bus. Temannya mendekat dan mengeluarkan pisau. Kondektur bus berteriak dan mendekati kami.

“Turun di sini! Kita selesaikan di luar!” Bentak pengamen yang memegang pisau itu mengarahkan mata tajamnya kepadaku. “Hei, kalau mau ribut jangan di sini, keluar kalian.” Kondektur bus tersebut sudah berada di belakang pengamen berpisau, menjaga jarak agar tidak terkena sabetannya kalau-kalau si pemegang pisau dikendalikan pisaunya sendiri. Pengamen yang terjatuh tadi bangkit berdiri dan berusaha menerjangku, aku menangkis dan menghempaskannya ke arah si pemegang pisau, kini mereka berdua berada di posisi yang sama. Bus berhenti di pinggir jalan.

“Saya gak cari masalah, mereka yang ngancam duluan.” Kataku kepada kondektur bus, “Anda tau hal ini, anda dengar dan lihat, semua orang di sini pun lihat kejadiannya. Saya gak akan turun di sini, ini bukan tujuan Saya.” Lanjutku. “Kalian sudah bikin keributan dan tidak nyaman di bus ini.” Balas kondektur tersebut. “Kalau begitu keluarkan mereka saja, pasti tenang di sini.” Kubalas sambil menunjuk dua pengamen yang berang dan panas hingga merah muka dan bergemeretak gigi mereka menahan amarah. Mereka pun menerjang kearahku. Ah sialan. Tidak bisa tidak, lepaskan pukulan.

...

Tidak ada benar dan tidak ada salah. Hanya ada sebab akibat, manusia-manusia yang hidup berdasarkan ketakutan menjadi korban definisi kedamaian. Takut akan konflik karena tidak ingin jauh terlibat, justru semakin dalam terlibat dalam keterjebakan. Sama-sama-saja. Berpura-pura tidak tahu, untuk apa membela kesusahan yang lain karena diri sendiri pun sudah terlalu susah untuk membantu kesusahan yang lain. Susah karena tertekan keadaan tidak perlu lah ditambah dengan mengambil bagian dari beban yang lain.

Aku terduduk di pinggir jalan setelah diturunkan akibat perkelahian. Dua pengamen itu terbaring pingsan di sisi jalan cukup jauh dariku setelah aku hantam di dalam bus, badan mereka pun dilemparkan oleh kondektur yang sebelumnya tidak berani menyentuh dan menegur mereka. Setelah mereka pingsan kupukul barulah muncul keberaniannya. Memang, ketidak mau terlibatan adalah salah satu hasil dari ketakutan, takut untuk terlibat karena definisi damai adalah tanpa konflik yang artinya berpura-pura tidak tau saja walau itu di depan mata. Yang penting diri tidak terikutkan kesulitan dan kesusahan karena kehidupan sendiri telah sulit dan susah. Yang damai-damai saja lah.

Ya, tidak ada benar tidak ada salah hanya ada sebab akibat. Kehidupan yang mengancam, tidak bisa tidak terlibat dan terseret di dalamnya. Candu kemapanan, idola pada kondisi kekayaan dan definisi kesuksesan. Manusia terkondisi untuk berkompetisi karena semua kini diseragamkan dan disamakan oleh agama bernama ‘beda itu dosa’ dengan uang sebagai tuhan. Meraih dan meraih, mendapatkan dan berjuang sekerasnya untuk mendapatkan, dengan cara apapun, bukankah kompetisi berarti harus mengungguli yang lainnya dalam hal yang sama. Seringkali juga berarti menyingkirkan kompetitor yang berjuang untuk hal yang sama tersebut. Lihatlah, para jamak korban definisi penyamaan.

Dengan terlibat dalam perkelahianku mungkin saja akan membawa kepada kerepotan yaitu diajak berkelahi juga, dengan keterlibatan seperti itu berarti melepaskan kegiatan yang sekarang sudah dipegang dan bisa saja berarti kehilangan. Manusia terkondisi telah diracuni definisi hak milik. Ketakutan sebagai tindakannya dan ketidak mau tahuan sebagai senjatanya. Semua sibuk masing-masing dengan urusan masing-masing dan tidak ada ruang selain daripada bagi pemenuhan memiliki dan takut kehilangan. Lebih baik berjalan dalam ketakutan daripada mengusahakan kebenaran dan tidak bisa lagi berjalan.

Wajar sebenarnya, seandainya di dalam bus tadi ada orang dengan tipe sepertiku mungkin dengan senang hati ia sudah terlibat perkelahian. Tapi, Sang kondektur yang mungkin memikirkan istri anaknya di rumah yang mungkin akan sedih kalau ia pulang dalam kondisi luka. Teman sebangku yang mungkin tidak mau terlibat karena takut kalau ada apa-apa dengan dirinya siapa yang bisa membayar cicilan kehidupan keluarganya. Segerombolan mahasiswa yang pura-pura tidak mendengar mungkin takut juga tidak bisa sampai tujuan dengan tenang kalau terlibat perkelahian. Mungkin saja tidak terpikirkan untuk melawan dengan keseragaman kata untuk meminta keributan dihentikan, karena ketakutan telah diposisikan sebagai sikap dasar. Wajar sebenarnya. Kita dikondisikan demikian bahkan sejak dari pikiran. Takut kehilangan, kehilangan ilusi.

...

Kedua pengamen sudah mulai sadar dan duduk di jalan, aku mendekati mereka dan berjongkok menatap mereka satu per satu. Aku lepaskan pukulan ke muka mereka bergantian dengan keras hingga mereka pun pingsan kembali. Aku berjalan menuju warung dan bertanya informasi tentang bus lain yang bisa aku tumpangi ke tujuanku. Ibu muda yang cantik dengan keringat mengkilat bersama dua anaknya yang bergelayutan pun memberikan jawaban. Dilanjutkan dengan peringatan, “Lebih baik cepetan pergi dari sini, mereka banyak temannya di sini.” Sambil menunjuk kedua orang yang kupingsankan.

Setelah pamit pergi, aku menaiki angkutan umum yang ada untuk mengejar bus yang biasanya akan berhenti di beberapa lokasi di daerah ini. Mungkin saja di lokasi perhentian bus nanti aku akan bertemu dengan teman-teman kedua orang ini yang juga mungkin akan mencari masalah dan mempermasalahkan. Namun, bukankah ini yang namanya keterjebakan, tidak bisa tidak untuk ke lokasi perhentian bus karena memang perlu mencari bus. Masalah nanti biarlah nanti menjadi masalah, yang penting ada kesadaran akan kemungkinan dan kewaspadaan dalam menjalaninya. Rasanya seperti kematian, bukankah terlalu banyak yang lupa kalau hidup adalah perjalanan menuju mati dan kewaspadaan pun digadaikan atas nama kemapanan.

Matahari jingga merayap masuk lewat kaca jendela, langit keemasan dengan awan yang berkilauan, angin menerpa seperti menampar sadarkan dari lamunan. Bangun lah bangun, berjalan lah dalam kesadaran karena terlalu lama kita berkegiatan dengan ketertiduran. Hangat sore yang memeluk dengan kursi penumpang yang semakin kosong di dalam angkutan ini, perhentianku katanya lima menit di depan. Ah, semoga tidak ada lagi kerepotan yang membuatku terpaksa menggerakan badan.

Dalam Nama Memori, Rasa, dan Definisi Kudusnya. (Cerpen)



28.08.2014/cimahi/amuristcave


Remang malam bersitegang dengan sorotan lampu tajam, monyet dalam tubuh babi besi yang tak bisa berhenti berloncatan kian kemari. Walaupun sudah berdasi tetap tidak menutupi naluri, untuk selalu terdistraksi dan ketagihan ilusi. Pengalihan dan pengalihan, pengalihan terhadap pengalihan, dan para jamak berkata itulah kenyataan. Bukankah semua sudah dipaparkan, hanya karena kesederhanaannya lah terabaikan terbuang dan teralihkan. Aku bangun hanya untuk melihat para manusia banyak yang masih tertidur*. Kata-kata itu rasanya tidak asing, seorang seniman pastinya.

Lamunanku berhenti seiring dengan segelas kopi terbang yang mendarat di meja. Oh, ternyata tidak terbang, pramusaji dengan senyum manis itu meletakannya dengan perlahan. Matanya cokelat. Seandainya dia bisa membaca pikiran, jelaslah untaian mantera dalam kepalaku berteriak, “Kopi pahit yang mendarat di atas meja bolehkan bersanding denganmu yang bersenyum manis mendarat pada pangkuan(ku).”

Gadis berambut polwan dengan senyum manis itu pun berlalu, mata cokelatnya masih terlekat erat pada crema kopi pekat ini. Aroma yang bercerita tak perlu waktu lama untuk membelai rasa, seperti pemantik api untuk jerami memori yang selalu sedia terbongkar terbakar. Bukankah manusia adalah gumpalan memori, kotak penyimpanan bagi rasa yang merendahkan dirinya oleh definisi, berulang-ulang menghasilkan kehausan dan kelaparan untuk selalu terulang. Apalah yang dibangkitkan memori selain daripada rasa. Karena rasa adalah segalanya, karena rasa bisa kadaluarsa, karenanya sebelum dingin sang pahit dan kebas sang indera mari menyeruput dengan ganas. Dalam nama memori, rasa, dan definisi kudusnya.

Kopi ini sempurna, karena ada yang menyeruputnya. Kopi ini sempurna, karena memori yang terulang oleh aromanya. Kopi ini sempurna, karena rasanya mengingatkan kalau pahit lah rasa dasar dari kehidupan. Lihat lah monyet-monyet berpakaian dalam babi besi yang lalu lalang mencari pengalihan. Walaupun sudah berpakaian tetap tidak menutupi naluri, untuk selalu terdistraksi dan ketagihan ilusi. Atas nama eksistensi diri menggenapi definisi, dengan gaya yang selalu serupa dan aroma yang begitu serakah ingin memiliki. Fabrikasi wewangian dalam satu botol harga jutaan, bau taik pun akan mendapatkan pujaan demi definisi untuk eksistensi. Lihatlah monyet-monyet yang kini keluar dari babi besinya untuk melakukan gerakan ketidak sadaran yang begitu dibanggakan sebagai ucapan salam dan pengakuan kehadiran. Aromanya merusak kopi ini.

Lakukan dengan cepat, tepat dan tanpa jejak, instruksinya. Hadir di tengah ruangan, membuat keributan, dan mendapatkan perhatian seluruh kehadiran, aksiku. Tak perlu perkelahian, tak perlu saksi mata dan jerit ketakutan, instruksinya. Memprovokasi satu orang dari kawanan, terlibat baku hantam dan teriakan makian, aksiku. Segera setelah selesai dengan sasaran, tinggalkan dengan ketenangan dan ketidak adanya perhatian, instruksinya. Tinju yang beterbangan, gelas dan besi peralatan makan yang liar berayunan, teriakan yang mengundang satuan pengamanan dan lemparan keras pada tubuh penuh penyamaran yang terempas keras di halaman belakang, aksiku. Sebuah pukulan yang sengaja kuterima mengantarkan pada drama pingsan di sisi tempat sampah jalan belakang. Aku pun ditinggalkan dengan persepsi telah dipingsankan, dengan kesadaran aku pun pingsan.

Suasana telah sunyi, kugulirkan bola perangkap cahaya ini ke sudut mata, memastikan tidak ada sebentuk manusia pun yang melihat kebangkitanku. Sepi. Tubuh ini kutegakkan, kumis dan janggut palsu yang gatalnya tak tertahankan langsung kulepas dengan keras. Perih dan sakit lebih kunikmati daripada gatal dan gerah. Jaket kulit model tahun delapan puluhan kulepaskan dengan telah menggunakan sweater model tahun dua ribuan di dalamnya. Kugulung jaket itu dengan kumis dan janggut palsu, kacamata dan topi ala seniman yang kupakai di dalam kedai barusan dengan penuh perjuangan menahan rasa gelisah tak nyaman. Selepas kuseberangi jalan yang ramai dengan monyet berbabi besi langsung kumasukan ke dalam tempat sampah besar lah gulungan penyamaran itu. Sekilas terpikirkan, seandainya pada jamak mampu dengan mudah menggulung dan membuang penyamaran mereka yang bernama kenormalan, mungkin yang kulakukan barusan tak perlu kulakukan barusan.

…

“Sudah kukatakan, lakukan dengan tenang, perlahan, rapi dan tanpa keributan. Tapi sekarang lihatlah, semua media di televisi memberitakan kematian akibat perkelahian di restoran. Kau tahu kan media televisi kita seperti apa, melebih-lebihkan untuk menaikkan rating dan tujuannya adalah pemasukan. Uang. Kau tahu, uang!!” Katanya sambil melemparkan satu tas kain berkapasitas 40L berisi sejumlah uang yang telah kami sepakati di awal pertemuan. Aku tidak masalah dengan tindakannya melemparkan tas yang didefinisikan sebagai ketidak sopanan atau ketidak ramahan atau ketidak beretikaan ini. Definisi hanyalah beban bagi pikiranku yang haus akan kekosongan dan kesederhanaan. Uangnya yang kupedulikan, walau tidak kuhitung jumlahnya, terlalu malas.

Aku mengangkat tas dan merasakan beratnya saja, sedikit mengayunkannya untuk mengetahui apakah isinya benar-benar kertas yang saat ini begitu dituhankan saja atau ada embel-embel lain seperti bubuk mesiu yang diatur detakan waktu. “Kenapa? Kau takut kalau ada bahan peledak di dalam tas itu yang akan menghabisi nyawamu?” Katanya sinis. “Tidak,”jawabku, “kalau terlalu berat, aku akan buang yang membuatnya berat, itu saja. Soal nyawa yang habis, saatku mati adalah saat dimana aku mati. Ketakutan tidak akan menjawab kapan.” Aku mengambil tas ransel yang telah kusiapkan dan memindahkan isi dari tas kain ke dalamnya.

“Aku tahu, percuma berbicara panjang denganmu. Kau abai. Tapi tetap saja aku tidak suka dengan cara barbar seperti itu di saat aku telah instruksikan secara perlahan dan tenang. Walau tujuan tercapai, tetap saja. Mungkin aku akan pertimbangkan untuk menggunakan jasamu di lain waktu. Mengingat jaringan yang mendukungmu, aku tidak heran dengan keegoisanmu dan ketidak takutanmu untuk seenaknya. Ditambah lagi mungkin kematian adalah yang kau inginkan.” Ia melanjutkan kekesalannya karena instruksi yang tidak kupatuhi dan sikap abaiku.

Aku memandangnya dan berkata, “Saat perkelahian terjadi, sepertinya terjadi adu pukul asal-asalan, tapi patahnya leher sasaran kita dari perkelahian berantakan itu apakah suatu ketidak sengajaan yang kulakukan atau memang sudah diniatkan. Entahlah, yang penting tujuan terpenuhi dan apapun caranya maka demikian lah jalannya.” Tidak berniat untuk menjelaskan, aku hanya sekilas menggambarkan bagaimana aku menyelesaikan tugasku dengan sempurna, seperti kopi dengan aroma yang sempurna sebelum teracuni wewangian fabrikasi. Dia diam.

Aku selesai memindahkan. Tidak ada saling bertatapan, tidak perlu pengucapan salam, tidak perlu ada norma aturan, aku telah selesai dan dia pun telah selesai. Aku berlalu lewat pintu belakang yang tenang tak terperhatikan dengan aroma sisa-sisa hal yang tidak diinginkan. Dia melalui pintu dengan yang penuh keanggunan, keberanian, dan keteguhan menjalani kehidupan seperti karyawan yang baru mendapatkan kenaikan jabatan dan kemampuan menambah cicilan.

…

“Sasaran kita adalah anak dari pemilik toko senjata ilegal yang sudah setengah tahun ini memberi pasokan kepada geng motor. Kita mengincar anaknya untuk melemahkan posisi target utama mengingat dia disokong oleh oknum militer. Dengan memancing emosinya, diharapkan dia akan melakukan kesalahan dalam tindakan dan di situ bisa kita serang untuk melumpuhkan pergerakannya. Dari situ kau tidak perlu tahu, yang perlu kau tahu adalah tugasmu sebagai langkah awal skenario ini yaitu merusak kondisi emosional dengan kematian anaknya. Bayaranmu lebih dari cukup. Kami memilihmu karena ketidak mau tahuanmu dan kepentinganmu yang hanya pada uang. Bagaimana?” Aku ingat, malam itu bulan terlalu terang dan terlalu dingin, belum purnama namun rasanya sudah sangat mengancam, tanpa ada bintang terlihat dan hanya angin dingin yang menusuk terlalu dalam. Aku pun mengiyakan dengan bertanya, “Kapan?”

…

Salah atau benar itu rasanya ilusi, seperti etika dan moral semuanya berlandaskan ketakutan. Ketakutan yang melahirkan ketakutan, seperti pabrik yang memproduksi pangan dengan menghabisi lahan pertanian. Kebodohan itu tetap berada di dalamnya dan bertindak sebagai bagian dari produksi-konsumsi yang para jamak itu sebut dengan kebudayaan. Kusebut distribusi keterjebakan, karena tidak bisa tidak. Petani pun menggunakan tangan yang biasanya untuk mencangkul itu sebagai sarana menyuntik larutan kimia pemodifikasi genetik kepada padi jagung semangka tomat apel dan segala hal yang akan kita makan. Ya, keterjebakan. Tidak bisa tidak untuk menjadi bodoh dan terlibat. Kita makan.

Bahkan pengabaian pun keterlibatan, pembuangan pun keterlibatan, dan perlawanan pun keterlibatan. Lihatlah monyet-monyet muda dalam babi besi yang berkelojotan tak bisa diam, bukankah tidak ada perbedaan mereka denganku. Hidup adalah kekalahan yang tertunda** benarlah demikian karena monyet muda tadi pun akan memandang pilu monyet-monyet muda dalam babi besi di kemudian hari. Saat mereka telah menjadi monyet tua dalam kandang yang tidak tahu harus melakukan apa lagi**. Perlawanan dan pengabaian dengan penolakan ini pun tidak jauh beda, berakhir pada tanah yang sama sebagai kompos.

Kita semua berperan, terhanyut, dan terjebak, tidak bisa tidak, hanya ada sebab akibat. Aku menaiki bus malam yang akan melakukan perjalanan delapan jam ke timur. Meninggalkan kota dingin yang kini pengap menuju kota lambat yang semoga saja masih sesantai dulu kuingat.


*Leonardo Da Vinci 
**Chairil Anwar 
***Soe Hok Gie

Wednesday, July 30, 2014

Biarkan Pagi Bangun Kesiangan (cerpen)

30.07.2014/cimahi/amuristcave



Masyarakat ini seperti manusia-manusia yang kehilangan identitasnya, maksudnya kehilangan jati diri untuk menjadi seperti yang dipilih berdasarkan pengertian, bukan sekadar jadi seperti yang diinginkan. Definisi menjadi seperti yang diinginkan lah yang membuatnya kehilangan identitas, rasanya seperti dicabut dari pola hidup tradisional namun gagal masuk ke dalam pola hidup modern. Manusia-manusia ‘kampungan’ kalau para jamak bilang, untuk masyarakat asli yang teracuni modernisasi dan kemajuan teknologi komunikasi. Manusia-manusia ‘gak gaul’ kalau para jamak bilang, untuk masyarakat yang lahir dalam budaya baru, yang dinamakan modern ini, namun tidak bisa mengikuti gaya hidup dan tren yang saat ini sedang digandrungi. Satu lagi, ‘gak update’ untuk orang-orang yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan tren yang terjadi sekejap saja.

Anak-anak usia belasan, dengan dandanan berwarna warni, dengan simbol-simbol idealisme yang tidak dimengerti, dengan mengidolakan sosok yang sering muncul di televisi atau dalam pembicaraan komunitasnya, gaya hidup yang dirasa menolak keteraturan, kebebasan bahkan hingga perilaku kebablasan. Sekelompok anak muda mungkin belum kepala dua usianya, tiga lelaki dan satu perempuan, yang satu lelaki menuangkan minuman dalam botol dengan berbungkus plastik, yang satu memegang dua gelas yang sedang diisikan, sedangkan lelaki yang terakhir sedang menggesek-gesekkan pinggang bawahnya yang posisinya adalah kemaluannya ke pantat si perempuan yang tertawa-tawa. Definisi gaul untuk masyarakat di sisi kota besar memang seperti ini rasanya, sekarang jam tiga sore dan memang seperti ini yang seringkali kulihat kalau melewati jalan perkampungan ini.

Satu-satunya yang membuatku memilih jalan ini adalah udaranya yang masih sedikit lebih bersih daripada daerah kota yang sedang aku tuju ini, walaupun mengambil jalan memutar tidak masalah. Permukiman padat di tanah yang belum banyak perkerasan jalan, di tengahnya melintanglah jalan negara atas nama pembangunan dan modernisasi. Ada pembukaan jalan, akan ada pertemuan kebudayaan, ada pertemuan kebudayaan akan ada penyerapan dan penyesuaian, ada penyerapan akan ada perubahan, ada perubahan maka akan hadir kemunduran seiring dengan kemajuan. Keseimbangan seperti dalam pertarungan, bukankah inti dari kemenangan adalah yang berhasil mempertahankan keseimbangan dirinya paling lama. Tiba-tiba aku dengar teriakan dan makian, aku melihat spion dan mendapati seorang ibu mengusir kelompok anak-anak tadi, mereka pun pergi sambil tertawa. Sekilas aku melihat penis yang telah keluar dari celana menggantung dan si perempuan yang sedang menaikkan celananya. Yah begitulah manusia dengan kemanusiaannya.

Tangan kanan ini masih terasa cukup linu setiap motor melintasi jalan berbatu dan lubang yang cukup dalam. Sebulan sudah dari pertarungan terakhirku, ehmm… perkelahian berbayar lebih tepatnya. Dua puluh juta rupiah masuk ke dalam kantong pribadi, karena ternyata penonton hari itu bukan orang sembarangan. Apa pula definisi orang sembarangan dan bukan orang sembarangan. Apakah para haus darah yang memiliki uang berkelebihan dan mampu membuat manusia bertarung dengan manusia lainnya dan menikmati darah tanpa harus berdarah adalah bukan orang sembarangan.

Apakah anak-anak tadi yang mengidolakan gaya hidup bebas dan keren dari definisi televisi tentang kejantanan dan kebebasan, tentang emansipasi perempuan, dan keberanian yang terbukti dari kemampuan menenggak minuman keras oplosan (kimia sintetik) dan memanifestasikan perlawananan dan kemajuan jaman dengan perilaku seks bebas seperti anjing, adalah orang sembarangan. Lalu, manusia atau orang sepertiku yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan dan mendapatkan gaji tetap setiap bulannya, hanya caraku adalah mendapatkan uang sebulan satu kali untuk bertahan hidup dengan membuang darah dan mematahkan tulang, bukan bagian dari keduanya kah. Oh iya, mungkin istilahnya adalah orang biasa.

Jalan kecil sudah kulewati dan kini beralih ke jalan besar, banyak sekali mobil para pelarian yang melintas di jalan besar ini. Pelarian dari kepenuhan akan tuntutan pekerjaan, kehidupan, pemenuhan syarat keberadaan dan pengakuan, konflik dan ketakutan terlibat lebih dalam, peraturan dan ketidak berdayaan. Orang-orang biasa yang telah selesai menunaikan kewajiban pekerjaannya yang ingin sekadar menikmati suasana tenang dan udara pegunungan sambil mengisi perutnya di tempat makan. Hanya satu hal yang sedikit lucu, tempat mereka menuju telah ada banyak rumah makan dan beragam dari yang biasa saja sampai yang menawarkan kemewahan, juga mereka yang menuju tempat itu tidak hanya beberapa melainkan banyak dan selalu bertambah. Jadi, dimana ketenangan yang mereka cari kalau semua orang biasa sepulang kerja ke tempat itu dan dimana udara pegunungan kalau semua yang ke sana menggunakan kendaraan pribadi dan masing-masing menyumbang polusi dari mesin pembakar uang itu.

Tidak ada yang salah dengan dunia, semua berjalan sejalan dengan seperti yang memang sedang berjalan, karena demikianlah jalannya. Posibilitas, probabilitas, dan kausalitas. Aku menyadari ada rasa muak, jengah, marah, menolak, dan ingin menghancurkan dan aku menyadari aku memiliki kesadaran untuk sadar bahwa aku merasa. Cukup menenangkan, apalagi dengan pengetahuan kalaupun ada satu mobil yang berhasil kubakar sebagai tanda perlawanan tidak akan mengubah alur pergerakan yang memang sudah demikian lah adanya. Aku mengambil arah yang berlawanan dengan orang-orang biasa yang sedang berburu suasana ini, yang biasa kupanggil dengan para jamak. Aku sedang menuju alam kota bukan alam pegunungan, ada janji yang harus kutepati. Bukankah memang janji hadir untuk memenuhi pilihan diingkari atau ditepati, tidak bisa tidak. Kita semua memang korban dari definisi.

Sebentuk keanggunan di bawah payung besar di teras halaman sebuah kedai kopi. Rambut panjang legam terurai jatuh begitu lembutnya, bibir yang berkilau lembab sepertinya sejuk embun pagi ada padanya, mata tajam yang menatap ingin tahu itu pasti diterjemahkan sebagai godaan bagi para pejantan yang membalas tatapnya, kulit cokelat yang manis dan lembut mulus seperti menyanyikan kehalusan sambil berbisik-bisik meminta untuk dibelai dengan perlahan. Ah, cantik! Maka karena cantik itu luka, tak lama kemudian sesosok pejantan mendekatinya dan meraih tangannya dan merangkul pinggulnya yang ternyata berkurva indah menuju meja kasir, sang luka yang menyender manja pada lelaki yang sedang membayar pesanan makanannya yang telah habis, sang lelaki yang berpunya untuk memenuhi fungsi penyedia pangan, transportasi, akomodasi, dan pengawal.

“Kemungkinan besar kau akan berpikir bahwa hubungan mereka adalah transaksi seksual kan.” Perkataan ini membuyarkan lamunanku. Aku tertawa dan membalas, “Yah.. pola nya memang seperti itu kan, dan memang tidak ada yang salah, seperti tidak ada yang benar, dengan hal itu. Alirannya memang begitu kan.” Dia meletakkan cangkir kopinya dan berkata, “Apakah kamu sudah mendapat pengertian atau ini hanya bagian dari kelakuan?”

“Entahlah, yang pasti aku merasa lebih tenang dan lepas karena pengaruh dari sekitar yang tidak lagi mendefinisi rasa apa yang perlu aku lakoni.” Jawabku.

“Hahaha… begitu pun tidak salah.” Tawanya manis, dan selalu mempesona. Juga, selalu aku suka. Cantik itu luka dan kecerdasan itu matahari, cantik itu luka dan ketenangan itu bulan purnama, cantik itu luka dan keramahan itu embun pagi, cantik itu luka dan penerimaan itu adalah rasa pulang. Entah bagaimana bentukmu aku sudah tidak tahu lagi, tapi saat kamu di dekatku aku tahu itu kamu, karena kamu berada maka aku berada, karena aku merasa maka kita bersama, kecerdasan yang mengimbangi tanpa memberi jawaban, ketenangan yang menjawab tanpa harus melakukan analisa, keramahan yang meredakan emosi tanpa harus berkata perintah, dan penerimaan yang begitu menenangkan tanpa harus mengukuhkan dan memaksa keberadaan. Itulah kamu, per-empu-an-ku.

Desah yang bercerita apa yang sudah dilewati, erangan yang meluapkan rasa-rasa yang terpendam, belum waktunya ketika itu untuk bercerita, belum waktunya ketika itu untuk meluapkan perasaan. Sekarang lah waktunya, diantara sentuhan lembut saling berbalas renggut, cumbuan berlanjut yang sejuk namun sekaligus sakit tapi juga yang tidak bisa terhentikan, pergumulan dengan drama dan peran pun kita lakukan sekarang dengan menggadaikan aturan dan keseharusnyaan menjadikannya sakral karena jiwa yang terlibat dalam pelukan-pelukan. Sejak kapan kita berpakaian, bukankah sejak semula kita telanjang, kedalaman masing-masing yang selalu terjamah oleh diam dan petualangan-petualangan yang terbagikan oleh kemalasan dan kemanjaan. Tak perlu bercerita apa yang sudah dilewati cukup kecupi saja bibir ini, tak perlu menahan dendam emosi karena peran lagi cukup sentuhi dan belai saja tubuh ini, tak perlu mengungkapkan makna apa yang didapatkan cukup mengeranglah kalau memang tak tertahankan, tak perlu menasehati dengan larangan dan perintah cukup mendesahlah untuk membagikan anjuran dan pilihan, tak perlu lagi mendefinisi cukup saling menyerahkan dan melepas terbangkan jiwa dan angan karena arah tujuan kita bersamaan, dan tak perlu lagi merasakan cukup tinggalkan semua indera bersamaan dengan persetubuhan yang mengalir seperti arus kehidupan mengalir ada adanya sedemikian begitunya saja.

Malam ini bulan tiada, pertemuan terakhir kami adalah purnama. Remang-remang cahaya dari lalu lalang kendaraan di bawah sana cukup memberi suasana kehidupan di malam yang biasanya kelam. Bidadari sedang terlelap dan serigala kehausan sedang meminum sisa beer yang terabaikan selama persejiwaan kami. Beer yang sudah tidak dingin lagi itu seperti air kencing. Seperti berkasih-kasihan yang sudah tidak panas lagi itu seperti menyantap makanan sisa kemarin. Kaleng kosong kulemparkan ke tempat sampah, mataku mulai berat saatnya untuk melepas kesadaran. Hey, mendekatimu seperti membuka pintu rumah dengan kunci yang ada dalam genggaman, melingkarkan tanganku memelukmu seperti masuk ke dalam keheningan yang sakral, dan mengecup tengkuk dan bahumu adalah mengunci pintu agar tidak ada yang lain masuk ke dalam kesucian jiwa yang telah bersatu. Mari tidur dan biarkan pagi yang buta mengurus malam yang terabaikan, lalu nanti mari membiarkan pagi bangun kesiangan.

Tuesday, July 29, 2014

Amplop itu Cokelat, Cokelat itu Amplop (cerpen)

29.07.2014/cimahi/amuristcave

Menyebalkan memang, melihat para manusia berkumpul dan menggumpal di depan toko belanjaan. Bukan untuk memenuhi kebutuhan melainkan untuk menunaikan kewajiban. Kewajiban penerimaan sosial akan keberadaannya, yang sekarang rasanya di banding luruskan dengan daya beli. Ada suatu acuan produk yang perlu dimiliki sebagai bukti eksistensi, produk tersebut pun memiliki kelasnya yang biasa terindikasi dengan harga. Semakin tinggi harga maka semakin tinggi kastanya, maka penerimaan pun berlanjut pada pengelompokan. Dengan barang yang sama, kehadiran yang diakui dalam kelompok yang berbeda. Gumpalan tuntutan yang menggerakan kemanusiaan oleh dasar ketakutan. Memang lah ketakutan itu bukan pada hal yang tidak diketahui, namun pada takut akan kehilangan hal-hal yang diketahui.

Matahari jingga terik menusuk kulit, namun udara tetap dingin membelai bersama angin. Cuaca yang membuat perut ini seringkali mulas dan berakhir dengan kentut berbau tajam pada level minimal, mencret pada level maksimalnya. Motor ini melaju tersendat, terhalang gumpalan manusia yang keluar masuk toko pakaian dan aksesoris, belum penjual yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Cepat sekali perubahan terjadi, empat tahun lalu di jalan ini sangat jarang bisa ditemui manusia saking sepinya. Begitu muncul satu toko yang menjual syarat utama keberadaan seorang manusia muda, maka para kaum eksistensialis korban definisi ketakutan berbeda dan ditolak menjadi berkumpul di sini. Bahkan warung tempat biasa mengopi dan memaki kemanusiaan karena pengelas-kelasannya kini diisi dengan laki-laki dan perempuan muda saling memamerkan bukti keberadaan dan kelas keberadaannya.

Lepas dari kubangan definisi dan tuntutan yang berkompetisi untuk dipenuhi yang akan melahirkan sikap menghakimi, kulajukan besi merah berroda dua ini ke lokasi parkir yang paling sepi, sempit dan dekat jalan besar. Pertimbanganku; mudah keluar dan tidak akan ada motor lain yang parkir ganda. Kalaupun ada motor lain yang parkir itu berarti menghalangi, kalau menghalangi berarti akan kuseret seperlunya untuk membuat jalan keluar bagiku nanti. Ehm.. aku terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan itu. “Pak, titip motor ya.. Saya hanya sebentar, jangan ada yang halangin. Sekalian titip helmnya ya.” Kataku kepada bapak tua tukang parkir yang kebetulan mendekat sambil kusisipkan uang dua ribu rupiah. Dia mengiyakan dengan senyumnya yang khas.

Dua ribu rupiah, sebesar itulah jasa merebut lahan umum menjadi fasilitas parkir kendaraan pribadi. Seharga itulah trotoar yang dikorupsi untuk menjadi tempat berdiri motor-motor para simpanse berjalan tegak yang sudah lupa bagaimana cara untuk berjalan. Termasuk Saya, monyet yang sedang berdrama sebagai manusia. Bukankah manusia sudah punah, seiring dengan dua ribu rupiah yang menjadi perkelahian tukang parkir yang menyebabkan tumpahnya darah satu dari mereka. Seharga dua ribu rupiah untuk membeli kerendahan hati mengalah sehingga makian yang keluar oleh pengendara mobil besar saat ada pejalan kaki yang berusaha menyeberang dan menghalangi posisi parkir mobilnya yang terlihat mahal namun tetap saja parkir di atas pedestrian.

Kaki ini menaiki tangga samping bangunan dua tingkat yang sudah berdiri sejak jaman pemerintahan Hindia Belanda. Kusam dan muram warna tangganya, tidak ada yang memerhatikan karena semua orang masuk melalui pintu depan yang terang dan berwarna, memesan makanan rumahan dengan harga kemahalan, duduk dan berbincang mengenai pendapatan dan pengeluaran, atau tentang apa yang sudah dimiliki saat ini, juga seringkali tentang berapa keperawanan perempuan kuliahan yang sudah diambil malam kemarin dan sasaran di malam-malam berikutnya. Kaum terpelajar yang tidak terdidik, orang pintar yang bodoh, generasi cemerlang yang tolol.

Pintu besi kuketok tiga kali dengan jeda satu detik kemudian dua kali dan terdengar suara berat kunci besi bergeser. Aku selalu kurang nyaman dengan ruangan ini walaupun aku menyukai kegelapan, aromanya terlalu darah. Ruanganku yang gelap dan kelam beraroma matahari dan kopi, memang ada aroma darah tapi tidak seperti ruangan ini, yang terlalu. Aku mengambil milikku, amplop cokelat standar pabrikan yang dengan halus membuat kita berpikir bahwa amplop adalah cokelat dan cokelat adalah amplop. Indoktrinasi lembut yang meracuni, bukankah kita semua memang sudah teracuni, bahkan sejak dari pikiran, kita sudah.

“Gak dilihat dulu isinya?” Si babi itu berkata. Aku memanggilnya babi bukan hanya karena perawakannya yang bagaikan perut semuanya, tapi karena ketamakannya dan sikap rakusnya yang luar biasa. “Bukannya sudah ada pegawaimu yang memastikan jumlahnya pas, untuk memastikan tidak lebih lah yang ada dalam amplop ini.” Aku menjawab dengan datar. Bukan sok datar, tapi karena memang datar. Semua hal ini sudah menjadi biasa bagiku, bukan karena terbiasa namun karena aku melihat dengan apa adanya. Terbiasa itu seperti suatu ketagihan akan ilusi yang membuat suatu penolakan dengan membuang. Lalu, makin kita membuang maka makin erat lah ikatan kita dengan hal itu.

“Hahahahaha... ya ya kau tau kan aku tidak rela kalau ada kelebihan satu rupiah pun dari jatah yang sudah seharusnya, keadilan kan seperti itu.” Katanya sambil tertawa. Aku kesal, aku merasa kesal, aku tau aku merasa kesal, dan aku pun tau tabiat dari si babi memang seperti itu, maka aku memilih untuk pergi dan sebelum melangkah keluar pintu aku berkata, “Kalau pun kurang, malam ini aku akan datang lagi dan bisa kutagih, kalau dipersulit ya aku tinggal cari bandar yang lain kan.” Ia mengacungkan jempolnya yang sebesar perut, karena memang ia babi dari posturnya yang adalah perut semua, lalu kembali tertawa.

Kumasukan amplop itu ke dalam tas pinggang sambil melangkah turun, aku berjalan ke arah motorku dan bersiap untuk berlalu. Malam ini akan merepotkan sepertinya, karena lawanku terkenal dengan kecepatannya dan berat daya serangnya dengan bobot 120 kg, tinggi 187 cm, mendalami teknik aikido untuk mengimbangi latihan kick boxingnya, laki-laki dengan umur 27 tahun. Secara hitungan kertas sepertinya taruhan malam ini akan lebih banyak kepadanya. Yah.. karena aku pasti menang, berarti malam ini aku akan untung besar. Hemm… sebuah perjalanan tampaknya sudah bisa kulakukan.

…

Lalu dengan tangan kanan yang patah, pelipis mata kiri pecah, hidung berdarah, aku bertanya bagaimana cara merubuhkan beruang boxing ini. Teriakan-teriakan semakin memenuhi ruangan, semuanya mengganas meminta darah muntah dan tulang patah. Tangan kanan yang tidak bisa lagi dipakai, tendangan kirinya tidak kusangka sekeras itu. Kalau tidak sambil melompat tadi, mungkin tulang tangan ini bisa keluar dari kandang dagingnya. Sialan, sakit. Mata kiri pun tidak bisa terbuka, terhalang darah mengering. Harus cepat selesai dan bukan aku yang rubuh pastinya. Aku mencari amarah dari gumpalan perasaanku, aku mencari ketakutan dari pikiranku yang meronta, aku butuh keduanya untuk energi melepaskan serangan terakhir.

Pertahanan terbaik adalah serangan, saat ini hanya itu yang ada di pikiranku. Aku belum tau bagian mana yang akan kuhancurkan untuk merubuhkan manusia satu ini. Ia mulai mendekatiku yang sedang memegangi tangan kanan dan kesulitan melihat dengan sebelah mata. Aku berusaha berdiri dengan telapak bagian depan kakiku dan meminimalisir kontak tumit dengan lantai papan ini agar reaksiku bisa cepat, tapi rasa sakit cukup membuat sulit. Lagipula ini bukan saatnya untuk bereaksi, bukankah dalam pertarungan, reaksi adalah kekalahan karena yang namanya reaksi selalu hadir setelah aksi. Keterlambatan adalah kematian.

Aromanya adalah tendangan ke arah kepala, cepat dan rasanya kuat. Tengkorakku tidak akan sanggup meredam benturannya. Arahnya kuyakin dengan pasti akan menyerang kepala kiriku dengan tendangan kanan karena mata kiriku sudah mati terkena pukulannya tadi. Amarah dan ketakutan yang kucari rasanya samar, apakah aku mulai terbiasa sehingga rasa menjadi kadaluarsa. Bahan bakar untuk energi benar-benar kubutuhkan saat ini. Dia semakin mendekat, semakin cepat dan langkahnya mulai masuk ke dalam area jangkauanku, dan “reaksi adalah keterlambatan dan keterlambatan adalah kematian, hanya kematian lah yang berarti kekalahan bagi seseorang yang sudah masuk lumpur pertarungan bayaran, menang atau mati,” maka lakukan aksi.

Aku menjatuhkan diriku karena betis sudah tidak bisa mengangkat tumit, kulempar tangan kiriku ke belakang agar bisa berguling cepat dengan bahu ini dan mendekati kaki kanan miliknya yang mulai terangkat lepas dari lantai alas pertarungan. Dengan segenap ketidak tahuan, ketidak pastian, ketidak adaan pilihan, aku beraksi hanya dengan tujuan mematahkan lutut kanan yang ada dalam area jangkauanku saja. Dapat! Lutut kanan yang terjepit antara kedua kakiku, secepat mungkin tangan kiri kugunakan sebagai penyaluran berat badanku dan sedikit putaran dengan hentakan seluruh kemarahan dan ketakutanku, suara ledakan pun terdengar keras seperti batang pohon yang patah. Lalu erangan yang menggelegar dan teriakan yang terhenti, sunyi.

Whhoooaaaaa… tidak ada lima detik kesunyian, teriakan penonton kembali begemuruh. Emosi dan semangat para manusia-manusia haus darah yang tidak ingin terkena darah jangankan seciprat, setitik pun tidak mau, kembali tumpah dan kini lebih ruah. Aku berhasil mematahkan lutut kanan si beruang boxing ini, dan sekarang ia sedang mengerang memegang lututnya, menatap penuh dendam. Aku berdiri, merasakan kesenangan dan kemarahan yang berubah menjadi kepuasan, seketika muncul rasa ingin meminum darah. Aku hanya merasakan saja, rasanya kuat sekali. Aku hanya merasakannya saja. Sambil berdiri dan menatap beruang yang sedang mengerang memupuk dendam, aku menang.

Amplop itu cokelat dan cokelat itu amplop. Manis yang aslinya adalah pahit, bukankah dengan kemasan semua hal bisa berubah dengan mudah, bahkan yang bertolak belakang. Keseharusnyaan itu membangkitkan rasa perlawanan, itu saja yang kusadari dan kurasakan karena demikianlah adanya.

Saturday, July 26, 2014

Apa Perkara nya (cerpen)

25.07.2014/cimahi/amuristcave

All you need is love.. all you need is love.. all you need is love, love.. love is all you need..* terdengar jelas di samar-samar pemandangan dalam remang merah cokelat ruangan. Seorang lelaki muda terduduk sendiri dengan botol beer ketiga, Ia permainkan bibir botol dengan jari telunjuknya sambil ikut bernyanyi bisik-bisik melantunkan lagu ini. Sepasang kekasih tampak sedang bercerita dengan mesra, tangan perempuan yang tak lepas dari bahu lelakinya dan senyum keduanya yang terlalu dalam untuk disaksikan, tidak jarang wajah mereka bertemu dalam kecup-kecupan yang rasanya pun menyebalkan.

“Hey, what does it matter?” Apa perkara nya, apa urusannya. Ah, iya. Bukankah suatu kewajaran. Sepasang manusia yang sedang mengalami peningkatan kinerja hormon ditambah rangsangan-rangsangan indera dan definisi yang telah tertanam dalam. Seorang manusia yang tertekan oleh keinginan dan tuntutan dan menjadikannya terlalu pribadi oleh definisi-definisi yang diimaninya, bertemu dengan kodaya masa kini dimana semua tergantung pada distraksi, salah satunya minuman yang sedikit keras. Lalu aku di sini sedang apa? Seketika kesadaranku muncul.

Lalu lintas padat di akhir pekan, semua orang berebutan mencari jalur yang terus berjalan, menambahkan kesemrawutan sebagai aroma khas kepadatan jalan. Perlahan namun pasti, walaupun banyak kendaraan memaksa masuk dari sisi kiri kanan dan memperlambat laju motor ini, tapi tetap saja motor ini akan maju. Permasalahan bukan ada pada motor yang menyusul dari sisi kiri kanan merebut ruang lajur lain atau trotoar, kemudian memaksa masuk ke celah tipis antara mobil di depan dan motor yang sedang kukendarai. Masalah muncul saat pemikiranku bernyanyi keseharusnyaan dan marah karena ekspektasi tidak terjadi, menyalahkan realita karena tidak sesuai ide, yang membuatku menekan klakson lama dan memaki, kalau perlu turun dari motor dan berkelahi dengan para bajingan koruptor ruang jalan.

Namun, aku diam. Bukankah aku tetap maju walau sedikit lebih lambat karena terhambat. Bukankah natural manusia seperti itu, selalu ingin berkuasa. Kompetisi dan perebutan adalah hal yang sangat manusiawi. Lalu, apa perkaranya? Sejenak ada rasa lucu saat pengendara ini dengan kencang merebut lahan, kemudian kembali masuk ke jalurnya dengan merebut jalurku, dan kemudian kembali di posisi mengantri sama sepertiku. Begitu ada kesempatan lagi, mereka melakukan perebutan ruang lagi, dan memaksa kembali ke jalurnya dan pemaksaan masuk ke celah sempit dan kembali kepada posisi mengantri lagi. Apa tidak lelah? Apa tidak sadar kalau itu melelahkan? Apa tidak merasa boros? Atau apakah tidak sadar kalau itu semacam pemborosan? Energi, emosi, dan pikiran. Yah, sudahlah. Apa perkaranya, bukankah memang seperti itu adanya.

Kebodohan menurutku mungkin kepandaian buat yang lain, kesabaran menurutku mungkin kebodohan untuk yang lain, dan kesadaran menurutku merupakan ketidak berdayaan bagi yang lain. Lalu apa perkaranya, karena itu memang seperti itulah adanya. Apa masalahnya karena bukan itu masalahnya, sekalipun memang ada masalah tidak lain pikiran definitifku yang teradu dengan definisi mereka yang membuat rasa tidak nyaman yang merupakan manifestasi dari definisi juga yang mengantarkan kepada konflik, pertentangan, bahkan hingga perkelahian. Lalu dengan sukses aku pun tertarik ke dalam level mereka. Ah, maka dengan kesadaran pun aku memilih diam dan mengakui memang begitu adanya, aku tidak menertawakan atau merendahkan pemotor yang daritadi menyalip menyusul melawan arus dan memaksa ambil posisi dan meninggalkan aku tadi di belakang, kini berhenti di garis lampu merah yang sama, tepat di sebelahku. Apa perkaranya, memang begitulah adanya, kebodohan itu nyata. Tugasku hanya menyadarinya saja.

Lampu hijau menyala, para pembalap pun berlomba siapa duluan yang melewati garis untuk menyeberang ke jalan di depan, lalu berhenti seketika karena ada mobil di depannya. Dengan sewajarnya aku maju dan terhenti juga di posisi mereka menunggu mobil ini melaju. Aku mengambil sisi kanan jalan untuk masuk ke dalam kompleks perumahan yang aku tuju. Belokan semakin dekat, laju motor semakin kulambatkan kemudian ambil belokan kanan.

Dua rumah, dua pemilik, satu urusan. Kini aku berada di depan rumah tujuanku. Sebenarnya urusanku dengan dua orang, kebetulan saja kedua orang ini tinggal di rumah yang berhadapan terpisah jalan kompleks. Untung saja kompleks ini kecil, cukup malas juga kalau selesai dengan urusan di rumah yang satu perlu melakukan perjalanan untuk ke rumah yang lainnya. Baiklah, mulai dari yang mana? Aku melihat rumah mana yang termudah untuk aku masuki dan aku memilih yang satu ini. Pagar putih cukup tinggi dengan mata tombak di ujung pagar sebagai pengaman sekaligus hiasan. Jarak antara mata tombak dengan balkon di lantai atas lebih renggang dibandingkan rumah yang satunya. Baiklah rumah yang ini dulu.

Tanganku menggenggam erat bagian atas pagar, lutut kutekuk, betis dan paha siap untuk berkontraksi. Seketika aku menghentakkan kaki dan menarik tubuhku dengan tangan yang mencengkeram pagar dengan cepat, mengatur posisi tubuh agar muat di celah antara mata tombak dan sisi bawah balkon lantai atas, dan kemudian aku berhasil masuk ke dalam rumah ini dengan pendaratan yang sempurna. Tidak ada mata tombak yang merobek pakaianku, baguslah kalau begitu. Malas juga rasanya kalau harus menjahit.

“Hey, ngapain kau!?” teriakan si pemilik rumah yang sadar kalau aku baru saja berhasil melompati pagarnya. “Aku sudah berjanji, dan itu perlu ditepati. Bukan perkara kan, karena memang sudah seperti itulah alurnya,” kataku sambil mengambil balok kayu yang kebetulan terlihat di sisi tembok rumah ini. Dia tampak panik dan berusaha menutup pintu, namun aku berhasil menahan pintu itu tetap terbuka dengan melemparkan balok kayu yang menghalangi pintu bertemu dengan kusen. Belum sempat si pemilik rumah kaget, langsung kutendang pintu itu hingga ia terpental masuk ke dalam rumahnya.

Anak dan istrinya terkejut, aku pun terkejut. Balok kayu kuambil kembali dan sekejap aku melompat maju dan menghantam kepala si pemilik rumah. Ia pingsan, istrinya berteriak histeris, anak lelakinya beringas. Menerjangku dengan amarah, dan yah melawan manusia yang sedang marah itu terlalu mudah. Satu tendangan kiriku ke pelipis kanannya membuatnya tidur dan tidak mengganggu urusanku. Aku berjalan ke dapur, mencari pisau daging dan segayung air. Sang istri masih berteriak meracau histeris, dan itu sangat mengganggu.

Kusiramkan segayung air itu ke muka istri berisik dan membuatnya diam, lalu melihat tajam ke tangan kananku yang memegang pisau daging. “Berteriak lagi, kupotong lehermu, “ kataku dan dia diam. Baguslah. Ah, apakah perbuatan ini salah? Tiada salah tiada benar, ada sebab ada akibat, bukankah alur kehidupan memang seperti itu, alur kemanusiaan pun seperti itu adanya, bukankah janji memang dibuat untuk ditepati. Apa masalahnya? Apa perkaranya? Bukankah memang seperti itu. Pilihan selalu ada saat kita telah membuat pilihannya. Memang begitu adanya dan apa lah masalah kalau bukan mempermasalahkan yang sebenarnya sudah memang seperti itu adanya.

Karena segayung air yang kuniatkan untuk menyadarkan si pemilik rumah telah kugunakan untuk menyiram muka istrinya dan aku malas untuk mengambil air lagi, kutampar saja dia hingga sadar. Plak.. plak.. plak.. dan pada tamparan ketiga matanya terbuka. Terbelalak malahan. “Ingat janjiku kan, bapak monyet,” kataku sambil tersenyum dan memegang jempol tangan kanannya sambil mendekatkan pisau. Ah, sekilas aku menyesal mengapa pisau daging yang kuambil dan bukannya gunting besar. Namun, itu bukan masalah, yang menjadi masalah adalah kalau aku mempermasalahkan hal ini, bukan kah adanya adalah pisau daging di tangan kananku dan jempok si bapak monyet di tangan kiriku. Apa masalahnya? Apa perkaranya? Selain ketidak terimaan pikiran dan pemikiranku akan keadaan yang memang adanya demikian.

Karena berontak, kutamparkan sisi pisau yang tumpul ke wajah si bapak monyet dan ia terdiam. Bukan karena sakitnya namun karena terkejut bahwa mukanya ditampar dengan pisau. Dalam pikirannya pisau itu tajam dan bila mengenai muka tentu saja akan merobek kulitnya dan membelah daging mukanya, ia tidak memerhatikan bahwa aku menampar dengan sisi tumpul pisau dan ia terlalu sibuk dengan pikiran dan definisinya tentang pisau dan muka.

Kesempatanku, selagi ia diam kuarahkan tangan kanannya ke lantai dan kutekan dengan tanganku menyisakan jempol yang terbuka bebas. Pisau daging kudekatkan, dengan sedikit tekanan lepas lah jempol kotor itu dari tangan sang penjilat yang biasa kupanggil dengan gelar si bapak monyet. Darah tertumpah ke lantai keramik putih, terciprat ke beberapa bagian rumah saat si bapak monyet menarik tangan kanannya ke arah dada dan menekannya dengan tangan kirinya. Ia kesakitan, kaget, ketakutan, marah, dan tidak berdaya. Apa masalahnya? Apa perkaranya? Bukankah memang begitu adanya.

“Kenapaaa? Kenapaaaa..!” Sang istri mulai berkata dengan gemetar dan histeris, ia tidak berteriak. Berarti ancamanku tadi melalui siraman air segayung berhasil. Aku menjawab, “Kami pernah ada janji, kalau sampai kebun yang kutanami ini ada satu saja pohon yang ditebang untuk dijadikan garasi bagi untuk keperluan bisnis pengelasan besi miliknya, akan kupotong jarinya. Itu janjiku. Waktu itu dia pun bilang bahwa kebun itu akan menjadi garasi apapun yang terjadi. Itu janjinya. Ia telah menepati janjinya, menyewa orang saat aku tidak sedang mengawasi kebunku, sudah ada dua pohon besar yang dimatikan. Satu pohon telah tumbang, yang satunya masih berdiri dan sempat kuhentikan walau harus mematahkan hidung salah satu orang suruhannya. Maka, karena dia telah menepati janjinya, aku menepati janjiku, kan. Apa masalahnya? Apa perkaranya? Bukankah memang demikian adanya, demikian alurnya, dan adanya demikianlah peran yang kita sedang mainkan.”

Sang istri mulai terisak, menangis, marah, dendam, dan tak berdaya. Kehidupan memang berjalan dengan hukum posibilitas, probabilitas, dan kausalitas. Pembalasan dendam salah satu bentuknya, seperti sorot mata perempuan yang sekarang sedang memeluk lelakinya, terlepas dari benar atau salah karena memang tiada benar atau salah hanya ada sebab akibat dan yang paling mutlak hanyalah pemutlakan dan yang paling benar adalah pembenaran. Pikirannya sedang teracuni pembenaran akan pembalasan dendam kepadaku, namun apakah itu masalah? Apakah perkaranya? Memang demikian lah adanya bukan. Kita semua berperan dan tugas kita hanya menyadari kalau peran itu kita lakukan dan kita melakukannya dengan kepenuhan.

Tiba-tiba dari belakangku muncul sesosok lelaki yang bergegas masuk namun langkahnya terhenti seiring dengan gerakan menolehku dan tatapan mataku kepadanya. Ia, yang kupanggil dengan nama si bapak tikus. Koruptor yang pernah punya dendam kepadaku karena aku membongkar tindak korupsinya mencuri uang komunitas tempat aku pernah bernaung di dalamnya. Sepertinya Ia mendengar keributan dan kemudian keluar rumah dan kemari. Rumahnya tepat di depan rumah ini, rumah yang juga aku punya urusan dengan pemiliknya, ya dia, si bapak tikus. Ah, beruntungnya aku tidak perlu masuk ke rumahnya karena kini dia sudah di sini.

Belum sempat ia bergerak, aku sudah menerjang lututnya dengan tumitku. Patah. Ah, terlalu keras sepertinya tendanganku, bunyi patahnya seperti ranting yang rapuh, mungkin bukan terlalu keras tendanganku tapi dia yang sudah tua. Apa perkaranya, memang begitu adanya. Kuambil pergelangan tangan kanannya, kukunci dan tekan di lantai, pisau daging masih di tangan kananku. “Aku berjanji pada dua orang, suamimu: si monyet dan orang ini: si tikus.” Kataku sambil memandang istri yang menangis menguatkan suaminya yang darahnya masih mengalir dari tangan kanannya yang semakin menularkan merah ke bagian dada kaos yang dipakainya.

Please don’t spoil my day, I’m miles away, and after all I’m only sleeping…* kini yang terdengar jelas di samar-samar pemandangan dalam remang merah cokelat ruangan. Seorang lelaki muda terduduk sendiri dengan botol beer keempat, masih Ia permainkan bibir botol dengan jari telunjuknya sambil ikut bernyanyi bisik-bisik melantunkan lagu ini. Sepasang kekasih tampak masih bercerita dengan mesra, tangan perempuan yang masih tak lepas dari bahu lelakinya dan senyum keduanya yang masih terlalu dalam untuk disaksikan, tidak jarang wajah mereka bertemu dalam kecup-kecupan yang rasanya pun menyebalkan.

Aku merasakan ada rasa jijik dalam pikiranku atas tindakan ini dan ada hasrat untuk memberikan mereka saran agar mencari ruangan untuk sang lelaki menumpahkan spermanya ke si perempuan. Seperti anjing yang mengencingi wilayah kekuasaannya, demi kepuasan birahi keduanya agar tenanglah gejolak manifestasi definisi dalam pikiran dua manusia yang sedang dipenuhi hormon ini. Namun, kesadaran yang sama pun berkata apa masalahnya? Apa perkaranya? Bukankah memang demikian adanya. Kesadaran memanggil pengertian, dan pengertian memanggil kesadaran.

Aku melepaskan pandanganku dari pasangan itu, juga dari beberapa orang yang baru datang yang dengan refleks tadi aku melihat kepada mereka, aku juga melepaskan pandangan dari beer dalam botol pesananku yang ada di depanku ini yang sudah kuminum setengahnya. Oh iya, aku baru ingat kenapa aku ada di sini. Sepanjang perjalanan selesai menunaikan janjiku, aku merasa kesal dan rasa kesal itu tidak bisa serta merta hilang. Bukan kah tidak baik untuk membuang rasa itu, seperti menekan rasa itu pun tidak baik. Maka, beer menjadi satu hal yang terlintas dan menawarkan bantuan dalam menerima rasa kesal itu. Bersamanya kulalui rasa kesal ini, kemudian menerimanya, dan merelakannya karena bukan masalah lah suatu rasa itu karena memang begitu adanya.

Sudah satu jam sepertinya aku di sini sambil memandangi jam tanganku dan mengambil bungkusan dari tas pingganggku. Rasa kesalku yang muncul karena pilihanku mengambil pisau daging dan bukannya gunting besar kini sudah selesai, mereda dan lenyap seiring dengan penerimaan bahwa memang begitu adanya. Kubuka bungkusannya untuk memastikan dua jempol tangan kanan itu masih ada dan darahnya tidak mengotori tasku, karena sebelumnya kedua jari itu kubakar di bagian terpotongnya dengan menempelkannya pada leher knalpot motorku yang panas baru kemudian aku pergi dari lokasi tugasku.

Masih ada dan bersih. Oke. Kubungkus dengan rapi, kembali kumasukan ke dalam tas dan menutup risletingnya dengan baik dan sadari saat melakukannya. Aku menghabiskan sisa setengah botol beer pesananku. Pusing juga rasanya, aku memang tidak kuat minum tapi bukan berarti aku tidak menyukai minum. Lagipula tidak perlu menjadi kuat minum untuk menikmati minuman. Bukan menolak bahwa kekuatan dan daya tahan menenggak minuman pun salah satu cara menikmati minuman, hanya membuka pandangan kalau bukan hanya itu satu-satunya cara menikmati minuman dan buktinya adalah aku, yang menikmati minuman dengan cara yang jauh dari daya tahan dan kekuatan. Setelah membayar di kasir aku beranjak dengan kuda besi merah ini, warnanya darah dan baunya pun masih darah, ah.. kenapa tadi kubakar jempol itu dengan menempelkannya ke leher knalpot, terlintas namun tidak menjadi masalah, dan bukan perkara, karena begitulah adanya.

*lirik dari lagu the beatles

Monday, July 14, 2014

Day#1 "Sang Pendendam"

12 Juli 2014

Manusia menilai untuk mengetahui lalu menghakimi saat gagal memahami. Saat pertarungan abadi berlangsung, yaitu antara apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan, saat itulah tindakan menjadi penuh dengan penghakiman. Bahkan, lebih menghakimi dari perkataan. Saat kata-kata adalah menusuk jiwa hingga manusia terkapar terluka tak berdaya di tanah, perbuatan dan tindakan menghakimi adalah menginjak remuk hancurkan manusia tak berdaya itu tanpa ampun. Dari debu menjadi debu, dari abu kembali pada abu, dari keinginan menjadi penghakiman, dari harapan menjadi penghukuman. Apakah tindakanku ini sebuah penghakiman atau penghukuman. Siapakah aku selain pembalas dendam, karena aku tidak bijaksana lah untuk menjadi seorang hakim dan tidak pandai lah untuk menjadi seorang algojo.

-Sang Pendendam-