Saturday, August 22, 2015
Petualang, pejalan, dan penduduk.
Dalam perjalanan, biasanya seorang pejalan akan bertemu penduduk di suatu wilayah. Bukankah seperti para pejalan, para penduduk itu pun bagian dari suatu perjalanan (travelling). Sang pejalan berpindah untuk menemukan pengetahuan yang tampaknya adalah dunia sang penduduk. Sedangkan sang penduduk menerima pengetahuan yang tampaknya adalah dunia si pejalan ini. Tanpa perlu berpindah tempat, pengetahuan itu diantarkan. Setiap kali berfoto dengan penduduk, apakah pejalan merasa lebih hebat dan lebih tinggi derajatnya hanya karena ia bergerak berpindah tempat sebagai salah satu indikator adanya perjuangan, sehingga mengabaikan bahwa esensi dari perjalanan adalah suatu penemuan akan hal baru yang tidak lebih rendah atau tertinggal. Bukahkah diam pun memiliki perjuangan dalam konsistensi agar tidak terjebak repetisi. Bukankah (lagi) perjalanan adalah suatu cara menarik konsistensi yang telah terlanjur terjebak dalam repetisi. Konsistensi berbeda dengan repetisi walau bentuknya sama yaitu rutinitas, pada umumnya. Bergerak lebih dalam pada suatu penemuan, bukankah tidak ada hal yang baru, kita saja yang baru mengetahui keberadannya. Kesadaran itulah yang sepertinya ingin diberikan perjalanan. Mengapa kita kaum modern yang lebih sering melakukan perjalanan daripada kaum tradisional, karena kita kaum yang telah terkondisikan secara instan berorientasi produk namun mengagungkan proses secara semu, sehingga sulit untuk melihat apa adanya karena proses dan produk dilihat terpisah & dihakimi sebagai hal yang berbeda. Mereka para penduduk yang menetap dan merasa tak butuh perjalanan, mungkin tidak sesulit itu. Kalau perjalanan untuk membersihkan pandangan, bersihnya pandangan tak seketagihan itu pada perjalanan. Bukankah hasil adalah proses dan proses adalah hasil. Demi keseimbangan, maka berbagi pengetahuan pun niscaya hadir. Sang Penduduk yang dibawakan pengetahuan oleh sang pejalan dalam suatu gerak perjalanan dan sang pejalan mengambil pengetahuan yang diletakan diam ber-ada dari sang penduduk. Kedua-duanya sama-sama membawa pengetahuan ini pulang. Bukan sebagai tambahan koleksi melainkan untuk menemukan suatu reduksi dengan keluasan bahwa semuanya hanyalah satu hal besar dan kita terjebak dalam mengaggungkan bagian-bagiannya saja, terjebak dalam ketagihan mengoleksi memori. Mungkin baik untuk menyebut istilah pejalan dan penduduk karena keduanya sama-sama petualang, satu bertualang dalam diam, yang lain bertualang dalam gerakan. Tiada beda, seperti tidak ada yang baru di bawah matahari. Lalu bagaimana dengan peziarah, musafir, pengelana yang selalu berpindah. Mungkin mereka mencari tempat pulang bersamaan dengan membawa isi rumahnya, yaitu kumpulan pengetahuannya sekaligus. Saat menemukan tempat, ia mendirikan rumah dan langsung mengisinya, dua misi dalam sekali terpenuhi. Apakah pengembara melakukan kedua peran pejalan dan penduduk bukan hal yang tidak mungkin, walau jelas tidak akan sedalam mengalami salah satunya saja. Dalam perjalanannya dia mengambil sekaligus mengantarkan pengetahuannya. Dalam pendudukannya yang menetap walau sementara, ia diantarkan pengetahuan sekaligus memberikan pengetahuan kepada pejalan. Hingga menemukan perhentiannya yang selalu kita sebut pulang. Bukannya kita semua mencari tempat pulang, dengan menetapkannya dari menemukannya terlebih dahulu. "Manusia hidup menunggu mati dan kebanyakan mengisinya dengan kebodohan."-Amuristism-. Bahkan penemuan pulang pun bisa jadi bukan menemukan setelah pencaharian, melainkan menemukan setelah berhasil membuang segala hal yang menghalangi keberadaanya. Bukankah itu selalu ada di situ. Kalau memang begitu, diam dan bergerak adalah sama. "Pikiran yang orisinil bukanlah pikiran yang melihat hal baru, melainkan yang menemukan hal-hal yang niscaya ada dari hal2 yang dianggap baru oleh zaman." -F. Nietzsche-.
Wednesday, August 5, 2015
Apteur Test.
Diam itu ternyata berdasarkan pemahaman, bukan penahanan.
Penyederhanaan berfokus pada laku membuat diam menjadi represif bukannya membebaskan.
Semakin dipuja dan diagungkan, semakin direndahkanlah kesejatiannya.
Jujurkah pada diri, diam mana yang menenangkan karena paham atau yang menggelisahkan karena nahan.
Apakah kita benar2 korban definisi terjebak keseharusnyaan?
Ironi dan paradoks, mungkin peringatan untuk kerentanan suatu "kata".
Karena inti dari kata adalah apa yg tidak terkatakan, namun tetap harus melalui perkataan.
Seperti kekasih seniman yang bercerita tentang definisi karyanya:
Jawaban datang saat diri tenang, bukankah kebutuhan jawaban hadir dari ketidak tenangan, ntar aja lah tunggu "iklan lewat" katanya. Perjumpaan menghasilkan karya, perpisahan menghasilkan mahakarya. Lalu, perjalanannya menghasilkan apa? Tanpa karya.
"Menyukai kopi tanpa gula (pahit) itu firasat, ke-ditinggal-pergi-an, tidak ada yg tidak pernah ditinggalkan dari secangkir rasa.
Lihat aroma, apakah tetap berada? Yang tersisa hanya 'rasa setelah' yg dalam Bahasa Sunda nya, "apteur test".
Monday, July 20, 2015
Ketagihan Lingerie
"Sebenarnya, hanya dua hal di dunia ini yang bikin ketagihan, kalau bukan kehadiran ya kesendirian, emang kamu ngebeer ngopi nyuntik ngesex ngegame bahkan travelling itu bisa kah tak sendiri atau tak bersama; tidak bisa tidak kan kalau bukan sendiri ya bersama, dan itu tidak masalah, see widely my dear, kita hanya mencari pembenaran toh perbedaannya di kesadaran saja, sadar ga kalau terjebak, berbahagialah yang tidak sadar, karena ketololan itu menyenangkan dalam pengulang-ulangannya dan bukankah semua orang masokis, sudah tau sakit menyakiti masih saja diulang lagi lalu lagi dan diulangi lagi, dengan laku abai & bebal, karena tidak bisa tidak itulah mari kita kalau tidak menyerah ya berserah, tipis kan perbedaan menyerah dan berserah, setipis lingerie ini. Jadi, kau akan berdiri di sana saja atau kemari samaku, jangan bilang terserah, itu tidak ada dalam pilihan." Thus spoke the astronaut.
Monday, July 13, 2015
Bagaimana Kalau
. Bagaimana kalau ternyata perjalanan & perjumpaan dengan alam adalah untuk kita meracau dan alam mendengarkan semuanya
. Sedangkan yang kita lakukan hanyalah diam tenang dan mendengarkan alam berbicara, apa yg kita dengar? Toh alam diam karena ingin mendengarkan kita bercerita
. Cerita tentang apa yang kau alami sebagai manusia selama ini
. Atau kita malah merayakan pencapaian pertemuan dengan alam dan tidak memenuhi tugas kita, bercerita kepada alam semesta
. Kalau setiap perjalanan petualangan itu membebaskan, kita tidak akan pernah bertemu lagi di tempat yang sama bukan
. Kalau ingin kembali lagi dan lagi, melakukan lagi dan lagi, berarti ada yang belum tuntas
. Dan itu adalah tugas kita bercerita kepada alam tentang apa yang kita alami sebagai manusia selama ini
. Kita pun malah diam, mendengarkan alam. Bukankah itu membalikan fakta & melempar tanggung jawab
. Yah, sekadar "bagaimana kalau," saja
. #seruputganas
. Sedangkan yang kita lakukan hanyalah diam tenang dan mendengarkan alam berbicara, apa yg kita dengar? Toh alam diam karena ingin mendengarkan kita bercerita
. Cerita tentang apa yang kau alami sebagai manusia selama ini
. Atau kita malah merayakan pencapaian pertemuan dengan alam dan tidak memenuhi tugas kita, bercerita kepada alam semesta
. Kalau setiap perjalanan petualangan itu membebaskan, kita tidak akan pernah bertemu lagi di tempat yang sama bukan
. Kalau ingin kembali lagi dan lagi, melakukan lagi dan lagi, berarti ada yang belum tuntas
. Dan itu adalah tugas kita bercerita kepada alam tentang apa yang kita alami sebagai manusia selama ini
. Kita pun malah diam, mendengarkan alam. Bukankah itu membalikan fakta & melempar tanggung jawab
. Yah, sekadar "bagaimana kalau," saja
. #seruputganas
Saturday, July 11, 2015
Lari kah, lari lah.
11juli2015, tambak, jakarta.
Hentakan yang tidak asing namun sepaham apapun, rasa tetaplah rasa, terasa. Cipratan darah telah mendarat di lantai. Mata yang lebam dan bengkak menutupi pandangan, mungkin kini telah sebesar bola tenis. Bagaimana aku tahu bahwa cipratan itu telah mendarat dengan mata yang tak mampu melihat, terdengar saja entah bagaimana.
Ah, bohong.. sebenarnya tidak kedua mata ini yang terbutakan, masih ada satu mata terbuka. Mata yang melihat kepalannya menuju kepalaku, tujuannya satu dan jelas, mengkanvaskanku. Sepaham apapun, semengerti apapun rasa tetaplah rasa, terasa. Aku tau bahwa setelah tinjunya menghantam kepalaku, lutut akan menyambut di liverku dan ditutup dengan kuncian pada kakiku yang akan membuatku jatuh tak mampu berdiri lagi.
Apa adanya demikian, demikianlah adanya terjadi. Badan yang telah lama tidak dilatih tidak bisa mengimbangi kecepatan penglihatan. Semua terjadi seperti prediksi dan yang bisa kulakukan adalah menepuk lantai tiga kali sebelum kaki patah atau lutut lepas dari sendinya. Lebih baik menyerah daripada tidak bisa berjalan pulang kan. Pertarungan selesai, teriakan kembali terdengar. Apapun itu, pujian, makian, kekecewaan, kesenangan, sama sama saja. Teriakan.
Kekalahan bukanlah yang pertama, materi yang dibawanya mungkin telah dipahami hingga sela-selanya. Namun, rasa tetaplah rasa, terasa. Kekalahan itu seperti sesak dan rasa tidak nyaman di tengah dada, katanya. Uang yang kuterima tidak banyak namun untukku ini lebih dari cukup. Bukan keuntungan yang kucari namun kehadiran yang perlu kuisi, sepertinya aku ketagihan dengan kehadiran. Perkelahian dan teriakan, kebanggaan dan uang kumal dalam amplop cokelat. Jauh-jauh dari itu membuatku tak tahan. Sepertinya benar, ketagihan.
Aku kembali ke kontrakanku, kamar yang cukup luas dengan harga murah, yang menyewakan seorang nenek tua yang hanya butuh sedikit keramaian karena anak-anaknya telah pindah. Kamar mandi menjadi tujuan pertama, menghilangkan kotoran dan bercak darah sebelum mengeras dan berkerak hingga terlalu sulit dilepaskan. Rasanya, seperti kenangan, terlalu lama dibiarkan dan ketika hendak dibuang kulit pun ikut terkelupas perih, membuat luka baru.
Dengan hanya handuk yang membungkus bagian bawah badan, kulemparkan amplop cokelat dengan jumlah setengah dari biasanya kudapat ke sisi kasur dan kulemparkan badanku ke kasur. Kekalahan itu menyesakan memang, walau bukan hal yang baru, tetap saja. Apalagi merasakan berat amplop yang jauh lebih ringan dibandingkan selama ini. Rasanya bobot massa gumpalan uang memiliki kemampuan menghina saat bobotnya ringan dan memuji saat bobotnya berat.
…
Di luar mulai ramai, sepertinya telah tengah hari karena kamar ini telah menjadi terang. Aku mengumpulkan kesadaran dan perlahan ingatan mulai kembali. Sepertinya tadi malam aku ketiduran dengan handuk yang entah dimana sekarang. Ketelanjangan ini membuatku melihat luka semalam, sekaligus membuka memori tentang perempuan itu. Hemmhh... memori itu kotak penyimpanan rasa, dan tersimpan di sudut-sudut bentuk dan waktu yang kita bilang suasana. Saat bertemu format suasana serupa, terbukalah kunci kotak itu. Juga, manusia itu gumpalan memori.
Aku mendapati diriku di dalam cermin dan segelas air telah kuminum. Udara yang masuk ke paru-paruku menyegarkan badan sekaligus menyadarkan bahwa benturan semalam pada sisi kanan perut cukup telak ternyata. Kondisi membentuk manusia dan waktu menyatakannya, pernyataannya kali ini adalah tentang pelarian. Pertanyaan retoris pun terlontar, “apa yang sedang aku lakukan disini?”
Setelah memutuskan untuk pindah dunia, meninggalkan yang lama dan masuk kepada yang baru, mengapa aku masih melakukan hal yang sama. Pertarungan jalanan, hanya kali ini tidak ada hati dan rasanya hampa. Memang, kita hidup dengan cara yang kita tahu saja, tapi rasanya pengulangan tanpa isi seperti ini hanyalah pelarian dan kesekadaran saja. Rasanya hanya menghabiskan energi yang sebenarnya tidak terpakai dimana-mana lagi, seperti penantian di satu sisi yang tidak diberi jiwa oleh kata “saling”.
Pada awalnya memang menyenangkan, ada rasa petualangan dan seperti ada secercah cahaya harapan. Aku bisa menjadi seorang yang aktual dan nyata, di dunia baru yang lebih bersih dari segala kotornya memori lampau dan sesaknya ketidak diakuinya keberadaan, pada awalnya. Pada akhirnya, aku sadar bahwa kekotoran memori itulah aku sendiri dan kesesakan itulah yang selalu kubawa berlari dan berakhir di sini. Mengulangi ketololan dalam aktualisasi diri, pengulangan tak ada isi sekadar merepetisi untuk menipu diri kalau semua ini benar. Lari kah?
Lari lah. Mungkin itu yang akan dia katakan kalau sekarang melihat kondisi ini. Sudah tidak mungkin lagi untuknya menjahit luka di badan dan mengompres lebam di wajah. Ia telah berlalu. Ah, bukan... Ia telah kutinggalkan berlalu. Dengan keangkuhanku yang tinggi, dengan kepercayaan diri yang terlalu, dan kebanggaan semu hasil penyangkalan kemungkinan, aku membuangnya dengan mengondisikan bahwa dia yang membuangku.
Aku berjalan dengan cukup sesak, sepertinya trauma pada liver ini masih cukup besar efeknya. Setelah menghabiskan segelas air, aku menjatuhkan badan yang telah habis ini ke sofa dan membiarkan linu mengisi sendi, dan perih membelai kulit. Apa yang tersisa dari ini, dan apakah hanya sisa yang nanti akan bisa kuberikan. Telah habis diri ini, bahkan kalau tak menyangkal, telah kuhabiskan diri ini untuk hal yang sebenarnya dari awal tidak kuinginkan. Tapi, aku ketagihan dan tidak bisa tidak untuk menolaknya.
Rasanya ingin kembali, mungkin dengan segala yang telah berbeda. Tidak akan ada hal yang sama, paku yang telah tertancap saat dicabut pun akan meninggalkan bekas. Kalau terus aku berada dalam pelarian ini, tidak akan ada hal lain selain pengulangan dan kesekadaran. Belum waktunya untuk rutinitas bertahan hidup. Energi ini masih ada untuk suatu perubahan dan perkembangan. Kali ini aku tidak ingin menyangkal. Lebih baik berada dalam kesungguhan, walau penolakan sebagai bayarannya.
Kembali, kembalilah. Bukan kepada organisasi, bukan kepada tipu-tipu aktualisasi diri oleh kekuatan dan keterjebakan keputus asaan yang terimplementasi dalam pemusnahan. Namun sungguh kembali ke awal, kepada kesungguhan yang ada jauh sebelum kisah ini. Sebelum aku menjadi aku, saat aku masih adalah aku sendiri. Sekarang atau tidak akan bisa lagi sama sekali. Sekarang, saat masih ada energi untuk kembali dengan kaki sendiri.
Pintu diketuk, namaku disebut. Rupanya empunya kosan datang membawakan makanan. Kue manis yang melengkapi pencerahaan pagi ini. Terimakasih kuucapkan. Barang yang sedikit ini kukemas sambil melahap kue. Uang dalam amplop kusisihkan untuk membayar sewa dan biaya perjalanan. Sebelum ada alasan-alasan dan pembenaran hadir, lebih baik segera pergi dari sini. Lari kah? Lari lah. Kali ini, aku berlari pulang. Kepada pulang, yang ada jauh sebelum awalan.
Luka di badan cukup menyulitkan, setidaknya sampai dengan stasiun. Aku hanya perlu bertahan sepuluh jam ke depan, karena saat pulang selalu ada dua kemungkinan, sambutan yang hangat yang melegakan atau sambutan keras yang menunjukkan sisa paku yang telah tertancap di memori. Apapun itu, demikian lah adanya. Sebelum semakin jauh tersesat, lebih baik sekarang pulang.
Monday, February 2, 2015
Karena rasa ... (cerpen)
01.02.2015/Jakarta/matraman-salemba
Repetisi tiada henti, bukankah kontradiksi yang membuat gerakan. Kalau manusia tidak munafik tidak akan pernah ada lah perkembangan sebagai akibat dari gerakan. Kehancuran pun suatu perkembangan, awal perkembangan mungkin tepatnya. Lagipula apa itu kehancuran, semata konsep atas perubahan yang tidak sesuai dengan ekspektasi subjektif korban definisi.
Kalau melihat secara terbalik, kehancuran di jaman ini bukanlah hancurnya rawa dan pepohonan menjadi kompleks perumahan para jamak, melainkan pecahnya perkerasan jalan akibat tumbuhnya benih pohon dari dalam tanah. Atau, akibat perkembangan akar pohon besar yang mencari nutrisi dari tanah yang ditutupi aspal atau hamparan komposisi beton dengan perbandingan 1:2:3 untuk semen:pasir:kerikil kalau tidak salah. Atau, perbandingan pengetahuan:keserakahan:ketololan.
Kalau dilihat secara terbalik mungkin demikian, kalau dilihat secara lurus ya ketololan itu adalah perjalanan melintasi berbagai tempat tanpa tahu tujuan dan bukannya mengumpulkan harta demi persiapan hidup di masa depan. Sekilas terlintas kutipan “manusia itu hidup menunggu mati dan banyak yang mengisinya dengan kebodohan.” Ah, apa pula itu kebodohan. Subjektif dan terlalu relatif. Seperti kematian.
Mati menurut siapa dalam konteks apa dengan batasan apa dan untuk keperluan apa. Mati menurut dokter adalah saat organ vital penunjang kehidupan tidak lagi berfungsi, seperti jantung yang tidak berdetak memompa darah ke seluruh tubuh. Mati menurut teknisi mekanik adalah saat tidak adanya gerakan lagi dari suatu unit, katakanlah unit manusia. Lalu manusia yang bergerak tanpa jantung yang berdetak membuat kematian relatif. Ah, simplifikasi atau ketololan kah opini semacam ini?
Satu orang mati, seratus orang menghadiri pemakaman. Sembilan puluh sembilan sepakat bahwa orang ini mati, satu orang berkata orang itu tidak mati hanya hibernasi dan akan bangun lagi nanti. Maka kematian pun menjadi tidak mutlak. 99 orang pun bersekongkol menyingkirkan si 1% ini, alih-alih kematian menjadi mutlak, kematian pun menjadi politik.
Kebenaran itu pembenaran, objektivitas itu semu, subjektivitas relatif mutlak, kolektivitas lah yang kita amini sebagai kebenaran, dan itu pun relatif. Ke-relatif mutlak-an lain adalah, makin banyak makin benar. Banyak sekali orang mencari kebenaran sejati, mudah saja sebenarnya. Kumpulkan lah semua orang-orang yang mencari kebenaran sejati itu dan sepakati satu hal maka jadilah itu kebenaran. Lima milyar homo sapiens, dari delapan milyar yang menjangkiti bumi, berkata matahari terbit dari Barat dan tenggelam di laut maka demikianlah kebenaran yang tidak bisa disangkal.
“Lalu, dimana Timur?”
“Tidak ada lagi Timur, karena lima milyar ini bersepakat menghilangkan kata timur dari kamus bahasa mereka.”
“Ahahahaha… tadinya aku berpikir kau semacam kaum sofis modern yang mengimani segala hal relatif dan yang terpenting adalah bagaimana cara berbicara sehingga orang-orang meyakini hal tersebut adalah kebenaran.”
“Tadinya ya.” Ujarku sambil menyeruput kopi ini dengan memberi nada tanya yang tanggung dan tidak berharap jawaban walau membuka kemungkinan untuk mendapatkan respon balik.
“Yap. Tapi rasanya akan lebih tepat kalau mengkategorikanmu sebagai kaum pesimis, yang sinis menghadapi dunia dan saat lapar menjadi sarkastik. Mungkin seorang nihilis. Seperti merasa terjebak dalam kemanusiaan yang dibenci karena tidak bisa tidak adalah seorang manusia. Kelucuan yang menurutku keluguan, manusia yang membenci manusia karena tidak terima dirinya adalah manusia. Hal ini biasanya akan berkaitan dengan latar belakang, kekecewaan, dendam, perilaku tidak adil, dan…”
“Oi.. oi..” Aku menghentikan racauannya yang seksi. Bukan tidak mau menerima tapi, “Aku tidak mengerti terlalu jauh kalau kau mengupas dengan pisau psikologis seperti itu, yang aku tau tentang hal semacam itu hanyalah manusia saat ini adalah akibat dari mimpi dan imajinasi seksual mereka, seperti kaum banyak bicara (sambil menunjuk diriku dan dirinya) yang katanya adalah akibat kekurangan kepuasan oral saat masih kecil, yah.. mungkin sang ibu hanya sebentar menetekinya. Tapi itu pun samar, aku hanya sekilas dengar.”
“Dan itu pun tidak tepat, jadi… “
“Ah.. gak usah dibahas, kau bisa membuatku mabuk tanpa minuman beralkohol nanti.”
“Hahahahah… Baiklah.” Tawanya manis juga.
“Bukankah nihilis pun masuk kaum sofis yah.”
“Hey, katamu tidak usah dibahas, sendirinya.” Katanya sambil menyenggol lenganku kemudian tertawa manis. Manis dan nakal, dengan mata penasaran dan telinga yang kehausan. Seakan ingin membongkar semua isi pemikiran manusia di depannya dengan melepas liarkan semua pemikirannya sebagai pancingan, melalui bibir manis dengan titik tahi lalat mungil di sudut bibir atasnya. Rapi dalam balutan pakaian kerja wanita yang entah lah apa namanya, bahkan istilah blouse dan blazer saja membingungkan. Namun, sewaktu-waktu mampu untuk menerkam melumat hancurkan tanpa menelan lawan bicaranya.
Kedai kopi ini tidak nyaman. Kopi tidak enak, terlalu banyak manusia, walau semuanya tidak saling menghiraukan dan sibuk masing-masing tetap saja, kita semua berebut udara yang sama. Ya berebut, bukan berbagi. Sepertinya budaya masa kini sedemikian merasuk ke dalam manusia, hingga ke titik bagaimana manusia bernapas mencerminkan budaya kompetisi yang sedang mengalir deras saat ini.
Kebersamaan bukan kesamaan, persamaan bukan penyamaan. Sayang, dewasa itu saat kata tak menguak emosi. Waktu berlalu begitu cepat, segala hal hanya sekejap lewat, tiada yang mengganggu dan tiada yang menakuti. Kehadiran saja sudah cukup lah. Kata-kata ini tertempel dengan indah sebagai hiasan dalam bingkai di dinding utama ruangan ini. Bukan kata-kata yang indah hanya tertempel dengan indah, seperti meledek kontradiksi sekaligus mengagungkannya.
Kaum yang memuja kesamaan dan para jamak yang mengusahakan penyamaan. Para pengkhawatir masa depan yang membuang masa kini. Selalu berbicara nanti bagai kecanduan kemapanan dan ketakutan. Kita semua memang masokis namun hanya sedikit yang mau menggunakan kata ini sebagai pengakuan, istilah kerennya adalah keluar zona nyaman. Seperti menarik siput untuk keluar dari rumahnya dan memaksanya jadi tangguh di bawah paparan ultra violet yang jatuh menerpa secara perpendikular.
Keluar zona nyaman untuk berjuang dan di dalamnya untuk berkarya. Dalam perjuangan ada pengalaman, dalam pengalaman ada pembelajaran. Dalam karya ada perlawanan, dalam perlawanan ada aktualisasi diri. Kini semua orang dipaksa untuk berjuang, berpengalaman, dan belajar tanpa sempat berkarya. Demi memenuhi fungsi produksi monopoli, dengan manusia sebagai sumber daya. Kalau semua berkarya, tidak akan ada kelompok yang menjadi kaya.
“Kemapanan itu candu yah.” Katanya sambil memberikan beberapa dokumen permintaanku. “Semua orang bekerja dengan tujuan menjadi mapan untuk memiliki simpanan masa depan dan menggadaikan masa sekarang. Dalam drama jenjang karir dan prestise berdasarkan akumulasi harta, kita semua berkompetisi.” Lanjutnya.
“Yah, sama-sama saja. Kemapanan seperti itu saja sebenarnya yang terlalu digembar-gemborkan. Bukankah kemapanan bisa juga untuk seorang ibu penjaga kios bertahun-tahun dan semua kebutuhan yang dia perlukan terpenuhi. Mungkin yang kita lihat anaknya tidak bisa sekolah dan mendapatkan pendidikan, namun bukankah pendidikan anak pada dasarnya adalah kebutuhan orang tua dan bukan anak itu. Bahkan pada aslinya adalah kebutuhan perusahaan dan dengan kebutaan kita menjadikannya kebutuhan. Lalu untuk menyembuhkan atau menghindari kebutaan tersebut kita pun menjadi perlu pendidikan. Ah lingkaran setan sialan dan bisa saja ternyata ibu penjaga kios itu dengan kemapanannya adalah satu dari banyak orang yang terbebaskan dari jebakan rasa membutuhkan pendidikan untuk anaknya.” Aku meracau sambil sekilas memeriksa dokumen ini.
“Kau seksi saat meracau, mau melanjutkan racauan itu di tempatku malam ini? Daripada susah lagi mencari penginapan.” Katanya. Aku memandanginya, perempuan matang usia tiga puluhan, dengan kebebasan dan pilihan, dengan penentangan dan perlawanan, dengan kebanggaan dan kekuasaan. Bukan menjadi musuh dari dunia namun merupakan bagian dari dunia ini. Dunia adalah gerakan dan kontrakdiksi lah dasarnya. Demi keseimbangan, peran “wanita” perlu didampingi peran “perempuan”.
“Hahahahaha… baru saja kita ketemu tiga kali. Ini lah pertemuan yang ketiga kan.” Aku membalas bingung. Karena aku mau sekaligus aku tidak mau. Bukankah ini hanya repetisi-repetisi tiada henti yang tidak bisa tidak akan mengalir sedemikian adanya. Dengan atau tanpa keterlibatan subjek, peran akan terisi dan alur akan terus mengalir, dengan melibatkan subjek-subjek yang dengan ketidak sadaran malah menjadi objek. Aku adalah subjek bagi objek yang juga adalah aku. Aku itu apa.
“Lalu?” Tanyanya.
“Mau?” Balasku.
“Mau.” Tegasnya.
“…” Terdiam saking banyaknya gerakan dalam pemikiran dan perasaan.
“Hahahhaa.. senyamanmu lah.” Akhirnya Ia bersuara, “Dasar pemikir, tidak bisa kah kau lepaskan dirimu pada perasaan dan melepaskan kendali pada liarnya hasrat dan naluri pelepasan itu sendiri.”
“Perasaan itu ilusi pemikiran. Kita semua korban definisi.”
“Ya, makhluk-makhluk terkondisi yang penuh dengan hasrat untuk berkuasa.” Ia menambahkan kutipan.
“Gumpalan padat memori, yang adalah kotak penyimpanan rasa yang dengan mudahnya kita reduksi dengan definisi.” Aku menambahkan opini.
“Hahahaha.. kau. Aku suka kamu.”
“Aku pun suka kamu.”
“Mari menginap lah di tempatku malam ini kalau begitu, mungkin tiga empat malam ke depan juga.”
“Kenapa tidak sekalian kau ajak aku untuk tinggal selamanya bukan semalam saja kalau untuk mengikuti perasaan yang adalah segalanya itu.”
“Karena rasa bisa kadaluarsa.”
“Hahahahaha…” Aku kaget bahwa kata-kata itu akhirnya kutemukan juga. Menemukan manusia sejenis dalam arus drama yang terlalu berlebihan memuja rasa sehingga malahan mereduksinya. Seperti ciuman yang dilakukan sesekali dengan ciuman yang dilakukan sejam sekali. Rasanya, terbiasa jadi biasa.
Pemeriksaan dokumen telah selesai, semuanya lengkap. Aku tinggal mempersiapkan diri. Dokumen ini semacam surat perjanjian yang merupakan hal umum dalam aturan pertarungan jalanan. Tentang kemampuan diri, perjanjian keuangan, ikatan-ikatan kode etik pertarungan di dalam dan di luar arena dan asuransi. Begitulah.
“Kenapa?” Tanyanya dalam satu kata kunci yang membongkar paketan cabang pertanyaan dan ekor-ekornya. Aku mengerti maksudnya.
“Bukan uang, hanya rindu saja. Bukankah kita menjalani hidup dengan cara yang kita tahu dan hanya begitu saja. Aku rindu aroma keringat dan darah. Benturan dan suara retak tulang. Hal-hal menjijikan dan mengerikan menurut opini jamak. Tapi sekali lagi kan, kita menjalani hidup dengan cara yang kita tahu. Saja.”
“Ya, rindu. Seperti memori yang membawa rasa rindu. Rindu yang katamu adalah definisi yang sebenarnya mereduksi rasa itu sendiri, rasa yang sebenarnya tidak perlu didefinisi yang terkandung dalam memori. Iya kan.” Senyumnya sungguh, liar seperti hutan dan nyaman seperti gunung. Apa pula liar itu, bukankah itu definisi juga. Aduh, pikiran. Memang, pikiran manusia itu seperti monyet liar yang tidak bisa diam dan meloncat kesana kemari.
“Malam ini, Aku bisa ikut beristirahat di tempatmu?” Aku bertanya hal retoris dengan rasa sebagai pijakannya, sialan.
Tatapan dalam yang menantang namun tak mengalahkan, meneduhkan dan tidak mengurangi kewaspadaan, keterbukaan akan segala kemungkinan, bergaris-garis cahaya yang menembus rimbun dedaunan melukiskan kehangatan yang juga dingin, kebersamaan yang hadir dari kemampuan untuk tegar berdiri masing-masing. Keagungan yang menggoda awan dan menyentuh sudut bibirnya, belaian angin sentuhan lembut pipi langit oleh jemari bumi.
Senyumnya sungguh, liar seperti hutan dan nyaman seperti gunung. Gestur yang mengajak mengikuti, gandengan yang tidak berniat melepaskan, rangkulan yang memberi rasa seperti pulang. Bukankah kita pergi untuk pulang dan pulang untuk pergi kembali. Repetisi oh repetisi, kali ini berhenti sejenak dalam rasa adalah segalanya, sebelum nanti rasa kadaluarsa.
Friday, January 16, 2015
KO/tbah/Pi di Atas Bukit (cerpen)
KOtbahPI di Atas Bukit.
15.01.2015/Jakarta/freedom-proklamasi
Gersang dan berdebu, panas dan penuh pelari yang bertahan dalam kebergerakan. Banyak sekali yang takut akan diam, sepertinya jeruji definisi begitu menyiksa laku tenang berjalan daripada liar bergerak. Kera-kera-kera.. yang begitu diagung-agungkan saat ini. Aktif bergerak adalah peribadatan tertinggi kepada agama angka dan akumulasinya menentukan martabat kemanusiakeraannya.
Kompetisi dimulai dari tembakan mulai bintang fajar, cahaya dari timur, raja dari raja yang yang tersangkalkan namun diidolakan. Satu jalan beribu kendaraan berjuta manusianya, bergerak bersamaan karena beda itu dosa. Ah sayangnya, persamaan kini menjadi penyamaan dan kebersamaan adalah kesamaan. Penyederhanaan memang menjadi rumit, bukan karena keragamannya namun karena keseragamannya dan gumpalan kesamaan yang memuakkan tak terelakan.
Tidak bisa tidak, derap kaki seperti tentara berpacu di depan pintu kamar kayu. Sengaja cermin terpasang untuk penerangan karena cahaya telah dimonopoli gedung tinggi. Anjing! Ah salah, makian ini sudah tidak aktual lagi. Monyet! Hemm.. rasanya masih kurang juga. Manusia! Mungkin spesies ini lebih pas sebagai makian saat ini. Tidak ada obrolan hanya ketergesaan, buru-buru tidak ada lagi digantikan buru memburu. Seperti manusia jaman batu berburu babi hutan, manusia modern berburu angkutan terpadu yang sekali telan bisa dua ratus orang.
Keluar dari penangkaran masuk ke dalam kandang perahan. Bagaimana kalian menjalani kemanusiaan, sempat kuintip beberapa kali setiap pagi kalah cepat dengan kembalinya kesadaranku. Ah seperti babi, menunduk merendahkan pandangan menatapi langkah tak rela terpaksa namun penuh bangga. Mungkin babi bukan menunduk malu pada dirinya namun malu pada manusia yang meniruinya.
Kebanggaan yang diumbar lewat kotak suara, yang bahkan saat ini tidak lagi menjadi kotak bagi suara. Ia disangkal sebagai media suara menjadi media visual dengan berbagai sosial dalam jaringan yang membuat manusia seperti kuda terikat tali pada kursi plastik yang bahkan tak tertancap di tanah. Mentalitas budak dalam budaya angka, memang begitu seharusnya dan apa masalahnya. Mempermasalahkannya lah yang menjadi masalah. Kita hanya berbeda.
Kemanusiaanmu yang di pagi hari berburu angkutan masal dengan tertunduk memandangi layar ponsel pintar, dengan kemanusiaanku yang terpaksa bangun untuk melemaskan otot untuk menghindari sakit di leher. Kemanusiaanmu di siang hari yang memandangi keluasan dunia yang terlalu luas namun serupa tapi tak sama dengan layar monitor yang melaju kencang kemana pun sesukanya, dengan kemanusiaanku yang hanya seputar dua puluh kilometer dengan keberagaman namun berpola dari laku manusia dari bawah selokan hingga atap bangunan.
Beda itu dosa, klasifikasi berdasarkan berat recehan di dalam selangkangan pada budaya angka oleh iman kepada agama kuasa membuat dua nilai bagi kemanusiaan yaitu jelas dan tidak jelas. Mungkin kemanusiaanmu yang jelas dan kemanusiaanku yang tidak jelas. Bahkan aku menjadi manusia tidak jelas sedangkan kau manusia jelas. Akan menjadi jelas bagiku untuk menjadi sama denganmu karena kamu adalah kalian, karena kejamakan adalah banyak dan kebenaran sebanding dengan kuantitas.
Belokan kanan di pertengahan perjalanan ini selalu membuat penasaran, terlalu sering diabaikan tapi rasanya kali ini waktunya untuk melewati. Hari ketujuh di sini berarti sudah enam kali mengabaikan, kali ketujuh ini rasanya bolehlah menjadi yang pertama. Aku mengambil belokan ke kanan, jalan kecil menanjak yang selalu membuat penasaran dan terabaikan. Sekilas terlintas para jamak dengan moto kera dan laku babinya, tidak salah dan tidak masalah pun adalah cerminan bahwa spesies bias identitas itu mengandung aku di dalamnya.
Mau kemana? Tanya bapak tua yang sedang mengambil rumput di semak pinggi jalan. Mau ke atas pak, ada apa ya di sana? Anda baru di sini? Iya Pak, Saya hanya penasaran saja untuk ke sana. Oh yasudah hati-hati lah, katanya. Di sana ada restoran yang selalu ramai di akhir pekan oleh mobil-mobil dan orang-orang yang mencuri hiburan. Ya, mencuri. Bahkan daerah terpencil pun selama ada akses jalan tidak akan lepas dari jamahan monyet-monyet muda di dalam babi besi. Jika arah yang kau lalui telah memiliki jalurnya, berarti kau sedang mengikuti jejak orang lain. Seperti ini kah maksud perkataan itu, lalu apakah harus ku melalui semak belukar di sisi kiri kanan jalan ini dan membuat jalur yang baru. Merepotkan. Kaki ini melangkah menyusuri tanjakan mengikuti jalan. Tujuanku hanya untuk tau saja.
Napas sedikit terengah, otot kaki masih mampu walau rasanya tidak seperti biasa. Seminggu ini terlalu longgar aku menggunakan badan ini. Seperempat tahun dengan kebiasaan itu apakah masih bisa tangan ini mematahkan leher dengan sekali ayunan, atau sapuan kaki ini mengeluarkan isi lutut dengan satu putaran. Apakah masih mampu melakukan akselerasi mendadak masuk ke dalam area pertahanan lawan sebelum sikap siaga bertahan pertarungan sempat dilakukan. Ah, memori dan repetisi, lintasan pikiran yang telah menjadi kebiasaan segera berhenti seiring dengan kesadaran bahwa aku sedang merepetisi memori. Manusia memang gumpalan memori dengan karya yang hanya lah repetisi. Tidak bisa tidak terlarut di dalamnya, untuk tak hanyut hanya berharap pada kesadaran keterlarutannya. Itu pun kalau tidak lupa.
Aku melihat suatu rumah yang kecil di atas bukit itu. Jalan setapak berbatu yang padat pun terlihat seiring dengan langkahku menyelesaikan pendakian yang kira-kira tiga kilometer dari belokan jalan besar tadi. Tiga kilometer tanjakan curam berkelok. Aku mulai bisa melihat kota ini dari posisi sekarang, sepertinya berada di puncak bukit tempat warung tersebut aku bisa melihat keseluruhan kota ini. Pantas saja jamak mengincar lokasi ini untuk mencuri hiburan, karena dengan demikian jamak bisa lepas dari kemanusiaannya yang telah terdefinisi angka dan berkutat dengan drama kompetisinya. Lucu, kalau tidak suka mengapa menjalani dan berkeras pada pembenaran-pembenaran definitif, pun telah sadar bahwa kebenaran tersebut adalah kolektif. Tidak lucu, karena semua terjadi oleh kebebasan dan keterjebakan pun bentuk kebebasan dalam memilih untuk terjebak. Wajar adanya dan demikianlah alurnya. Kera dalam pikiranku berlonjakan.
Kaki ini tidak melangkah ke jalan setapak perkerasan batu yang tadi kulihat melainkan memasuki semak dan mencari pohon kuat yang ada di sana. Tidak jauh kalau memanjat, tidak apalah sedikit menguji kemampuan tubuh ini, lama tidak terbentur dan tergores, hanya saja kali ini tumbuhan dan bebatuan bukan pukulan tendangan dan senjata yang bermaksud mematikan. Satu lompatan, beberapa tarikan, sejumlah tolakan, dan rasanya begitu melegakan. Badan ini masih bisa kukendalikan, mungkin tidak seterampil jemari yang menari di atas layar sentuh dan sesigap mata yang menangkap pemberitahuan di pojok perambahan dalam jaringan internet, namun kemampuan tiap orang berbeda kan. Aku mampu melemparkan tubuh ini ke atas pohon dan dengan tepat menangkap dahan kuat untuk menarik badan menambah ketinggian, sedangkan ada yang lain yang mampu cepat menangkap pemberitahuan komentar dari unggahan fotonya untuk kemudian bereaksi dengan komentar tepat di bawahnya sebelum komentari lain menduduki posisi itu.
Srak.. srak.. hap.. tap! Suara itu tampaknya membuat wanita penjaga warung menoleh ke belakangnya dan menemukan ku. “Kamu datang dari semak itu?” Ia bertanya. “iya,” kataku, “memanjat pohon.” Sambungku sebelum pertanyaan standar ‘bagaimana?’ muncul. Ia diam, sebelum sempat bertanya sudah kujawab.
“Warungnya buka?” Aku bertanya.
“Iya, hanya karena bukan akhir pekan tidak semua menu ada.”
“Tidak apa, aku hanya ingin segelas kopi yang bukan sachetan.”
“Ada. Pakai gula atau tidak”
Aku terdiam dengan pertanyaan ini, bukan bingung menentukan berapa takaran gula yang akan kuajukan tapi karena di kejamakan bentukan definisi yang membentuk pertanyaan ‘berapa sendok gulanya?’ ada bentukan definisi lain yang mungkin tidak banyak yang menanyakan hal ini. Memang, pertanyaan ‘berapa sekop gulanya?’ pun termasuk kedalam keunikan yang jauh lebih unik. Hanya, sepertinya kasus pertanyaan itu sangat jarang diketemukan dalam skenario meminum kopi. “Tidak usah pakai gula, polos saja.” Jawabku.
“Pecinta kopi ternyata ya?” Ia menyahut dengan nada retoris dalam kalimat tanya.
“Bukan, hanya menikmati pahitnya rasa saja, rasa kopi.”
“Begitulah, banyak yang memesan kopi namun yang diinginkan adalah rasa manis. Kenapa tidak memesan air gula saja.” Wanita itu berkata datar sambil mengangkat air yang telah mendidih. Aku suka dengan caranya membuat kopi. Mendidihkan air, menyiram gelas dengan air panas untuk menghangatkannya, mengambil bubuk kopi seperlunya dan menutupnya kembali. Menuangkan pada gelas hangat yang kering dan menyeduh seperempatnya dengan air mendidih yang telah didiamkan beberapa detik itu.
Dari tempat dudukku aroma kopi mulai menghalau pandangan. Sejak tadi aku berusaha untuk melihat kota ini keseluruhan dari ketinggian tempat ini namun ritual kopi di atas bukit yang Ia lakukan seakan mencuri sebagian perhatian, dan kini aromanya mencuri seluruhnya. Selesai dengan memasak bubuk kopi dengan teknik seperempat gelasnya , Ia menuangkan air hingga penuh satu takaran cangkir dan mengaduknya sebentar, menutup cangkir keramik dengan tutup keramik pula dan menhidangkannya di depanku. “Tunggu sebentar ya, sekitar tiga puluh detik baru dibuka tutupnya. Kopinya akan jadi enak diseruput nanti.” Katanya sambil berlalu dan tidak ada terimakasih dari bibirku. Terpesona.
Apakah monyet atau babi. Apakah dia manusia atau dewa. Apakah dia aku atau aku adalah dia. Apakah apakah dan kenapa kera di dalam pikiran ini mulai bergerak pun aku tahu jawabannya karena memang demikian lah alurnya sesuai hukum utama tritunggal maha niscaya; kemungkinan/posibilitas, peluang/probabilitas, dan sebab akibat/kausalitas. Seketika kesadaran hadir dan untunglah kesadaran hadir untuk menyadari aliran keniscayaan pikiran dan pemikiran, perbandingan dan pembenaran, penilaian dan penghakiman. Begitulah adanya dan adanya lah demikian maka setelah beberapa saat aku pun menghirup aroma kopi ini dan menyeruputnya dengan ganas.
“Ngapain?” Wanita itu bertanya. Ia masih muda mungkin di bawah usiaku angka durasi hidupnya.
“Lihat-lihat aja” Kataku sambil tidak terlalu lama melekatkan pandangan padanya dan kembali memandangi seluruh kota dari serambi warung yang posisinya memang diatur sedemikian sehingga pas sekali untuk menangkap pemandangan.
“Dengan posisi ini, kita bisa melihat segalanya tanpa terlibat di dalamnya. Tidak ada yang melihat kita namun kita bisa melihat semuanya.” Ia berkata.
“Semuanya namun tidak segalanya. Mungkin. Kita bisa melihat semuanya secara menyeluruh namun bapak tua tadi yang sedang mengambil rumput tidak bisa terlihat, kan.” Balasku.
“Saat kita memandang bapak tua tadi, maka tidak bisa kita melihat seluruh kota. Saat kita melihat seluruh kota, tidak dapat kita melihat setitik manusia yang sedang mengambil rumputnya. Ia berada sebagai bagian dari keseluruhan seperti melihat bapak tua tadi tidak membuat kita melihat tahi lalat di pelipis kirinya, namun melihat tahi lalat di pelipis kirinya membuat kita tidak bisa melihat bapak tua itu, demikianlah tahi lalat di pelipis kirinya adalah bagian dari si bapak tua.”
“Iya, maka pentinglah untuk tidak selalu melihat dari serambi yang sama dan perlu untuk melihat dari jendela itu atau serambi belakang itu, atau mungkin berpindah ke teras depan yang langsung berbatasan dengan jurang.” Kataku sambil menunjuk beberapa tempat yang ada di sana. “Bapak tua itu, tinggal di sini?” Lanjutku.
“Iya dan iya.” Jawabnya sambil tersenyum. Sialan, manis.
“Tidak sambil mengopi juga?” Aku mengalihkan keterpesonaanku.
“Tidak, aku tidak suka rasanya tapi aku menikmati aromanya.”
Aku tersenyum pada bibir, namun tertawa pada hati. Kalimat ini pernah kudapatkan dulu. Hahahaha.. sungguh manusia adalah gumpalan memori dan pengulangan tiada henti, maka dengan kecepatan yang melebih kesadaran, refleks, aku menjawab kalimat yang sebetulnya pernah kuucapkan dulu, “Kalau begitu ini kopi kita, ku yang menyeruput dan kau yang menghirup.” Tidak sampai seperempat detik kesadaran hadir bahwa kalimat itu kuucapkan dan pengucapan itu pun berdasarkan memori dan repetisi. Ia tertawa dan memandangiku dengan mata yang juga tertawa. Entah apa maksudnya namun bukankah dia dengan dunianya dan aku dengan duniaku. Dunia yang adalah kotak bagi memori memori.
Aku tidak bertanya dan dia tidak membahas. Selesai tawa itu terjadi kami pun sama-sama memandangi keseluruhan kota di bawah bukit tempat beradanya warung ini. Hening dan kini giliran angin yang berbincang dengan dedaunan. Kopiku tinggal setengah. Tidak terbiasa menyeruput kopi yang dingin, aku selalu menghabiskan kopi selagi dalam keadaan hangat.
Kopiku pun selesai dan wanita ini masih duduk dengan tenang di sebelahku memandangi awan dan tangannya menggenggam kursi kayu tempat kami meletakkan pantat dan pemikiran. Aroma kopi akhirnya selesai dari kerongkongan dan tenggorokanku. Bukan rasa kopi yang membuatnya menjadi kopi namun setelah rasa itulah yang menjadikannya. After taste is everything, katanya dan aku mengerti betul apa maksudnya walau hanya dalam lingkup secangkir kopi.
Bau darah membuatku siaga. Bukan bau darah segar yang tumpah namun bau darah yang penuh dengan nafsu membunuh, panas dan pengap. Sebilah pisau melentin sempurna dari arah kiriku ke arah pusat keningku dengan ujung tajamnya yang tahu pasti arah tujuannya. Gelas kopi kuhentakan ke kiri dan tubuh ini kulemparkan ke kiri oleh kontraksi otot pinggang kiri, leher kiri, dan tolakan otot betis dan paha kaki kanan. Sempat. Telinga kananku sepertinya terkena, karena aliran panas membelai leher kananku.
Kepalaku di dadanya, tepatnya telinga kiriku menempel di dadanya. Wanita kopi yang mempesona dan terlalu pandai untuk menjadi gadis desa penjaga warung kopi di atas bukit. Ritual kopinya bagaikan kotbah, yang selalu berisi tentang pola kemanusiaan dan menggambarkan pengulangan-pengulangan. Kini kedua tangannya memegang belati, yang kiri yang kuelakan dan berhasil mengoyak daun telinga kananku, yang kanannya kupegang dengan tangan kiri dengan kuat agar dalam posisi kepalaku dempet dengan dadanya tidak ada belati yang menembus leherku. Satu hentakan kuat dari otot kaki kiriku melentingkan badanku sehingga puncak kepala ini menghantam dagunya. Dagu yang seandainya kami berciuman akan kupegang lembut dengan telunjuk dan ibu jariku.
Pecah! Dagunya berdarah, pandangannya sekilas membuyar, pisau tangan kirinya lepas dan pilihan ada padaku, mengambil pisau itu dan memberi waktu bagi penglihatannya untuk kembali normal untuk kemudian menyerangnya dengan senjata atau melakukan satu jurus pukulan keras ke ulu hati untuk memecahkan lambungnya dan menjatuhkannya. Aku bukan orang yang sabar, hentakan kaki kanan dan ayunan tangan kanan melesat ke arah pusat badan sang perempuan yang pernah begitu mempesonakan, aku.
Belum sempat meledak, tangan kananku terempas ke arah kanan dan kulihat sebatang kayu menancap pada kulitnya. Tidak sampai menembus karena otot sedang kontraksi penuh dan keras seperti kayu. Ya, kayu, karena masih bisa tertancap anak panah. Kepalanku gagal mendarat pada solar plexusnya namun mendarat pada dada kirinya tepat di garis posisi jantung. Tidak telak meledak hanya menghantam dengan setengah kuat. Aku ikuti jalur anak panah ini dan menemukan bapak tua pengambil rumput yang sedang melepaskan anak panah kedua kearah titik vital di antara kedua mata.
Sekejap telapak tangan kiri menghentikan laju anak panah mendarati keningku, yang kali ini anak panah itu menembus telapak tanganku. Seperti paku pada telapak tangan yang mengikat para jamak pada kekang ponsel pintar dan papan tombol komputer nya, siksaan yang tidak membawa keselamatan. Posisi tubuhku menurun dan gerakan bapak tua tadi mendekat sambil menarik anak panah ketiga. Kini ia ada di atasku, mengambang hasil dari lompatannya dan akan segera melepaskan anak panah ketiga bersamaan dengan lecutan tangan kananku melemparkan pisau yang tadi terjatuh.
Pisau perempuan yang berkotbah di atas bukit dengan ritual kopinya kini bersarang di tenggorokan bapa tua bersamaan dengan anak panah ketiga yang menacap di tangan kananku. Tidak menembus karena ia mendarat pada siku. Bertanya, “sakitkah?” adalah cara untuk membuatku semakin emosi tak terkendali. Sebelum bangun, kuhantamkan gelas kopi ini pada pelipis orang tua itu dan membuat satu titik lagi aliran lava merah dari kepalanya. Ia terkapar. Ia sebentar lagi tewas.
Tattoo di paha perempuan itu menjelaskan semuanya. Mereka orang jaringan. Sialan, ternyata benar ada alat pelacak di uang terakhir yang kuterima dalam satu tas besar. Aku tidak terkejut, aku sadar aku abai tidak memeriksanya, aku sadar bahwa hal ini akan terjadi dalam bentuk kemungkinan dan peluang, karena hukum sebab akibat telah kujalani sebelumnya. Lalu semuanya menjadi tenang dan jelas dalam pengertian. Demikian lah alurnya dan aku ada di dalamnya. Seandainya bukan aku, alur akan terus berjalan dengan sang “aku” lain yang mengisi peran ini. Semuanya berjalan, waktu terus berlalu, aliran demikian lah adanya dan peran adalah keniscayaan. Sadar atau tidak sadar yang membedakan, memang tipis, setipis lingerie.
Menutup luka seadanya dan aku melompat masuk ke semak-semak. Tidak sampai dua puluh menit akan ada tim pembersih yang hadir untuk membereskan kotoran dan mayat. Mayat korban dalam keberhasilan misi atau mayat eksekutor dalam kegagalan misi. Prosedur yang aku ketahui, walau belum sempat aku terbiasa dengan itu. Tidak perlu memastikan prosedur itu berjalan atau tidak, aku melaju turun dengan menekan luka dan menuju penginapanku.
Aku tidak bodoh, dalam jaringan telah ada kesepakatan yang menjadi kode etik kegiatan. Penyelesaian dan pembersihan sampah divisiku dalam jaringan adalah dalam pertarungan dan bukan dalam tindakan diam-diam yang mematikan, seperti penembak jarak jauh. Bukan masalah kematian yang aku pedulikan, namun keberadaanku yang diakui sebagai sampah dalam jaringan lah yang membuatku sedikit kesal. Memang sebelum berhenti sudah ada yang mewanti-wanti, tidak semua akan menerima. Untung saja belum ada genap satu putaran matahari keterlibatanku maka mudah untuk mengakhiri, tapi tetap saja paku yang tertancap sedangkal apapun akan membekas saat dicabut.
Berharap pada kesepakatan kode etik, aku menuju penginapanku. Pendarahan telah berhenti, daun yang kukunyah dan kuletakan pada luka ternyata berguna, walau aku hanya membaca dari buku saja dan ini kali pertama melakukannya. Aku menaiki angkutan umum dan menurunkan lengan jaketku, mengambil telepon selular dan ternyata ada pesan masuk. “Kode etik terjaga. Pertarungan. Bapak dan kakak yang tidak puas pada perebut posisi sang anak, adik yang kemudian melepaskan kursi itu. Personal. Bukan urusan jaringan.” Yang langsung terhapus selesai dibaca. Oh, komunikasi jalur aman. Aku menghela napas lega, ternyata mereka. Saja. Berarti ada satu lagi. Si bungsu yang berapi-api.
Kompetisi dimulai dari tembakan mulai bintang fajar, cahaya dari timur, raja dari raja yang yang tersangkalkan namun diidolakan. Satu jalan beribu kendaraan berjuta manusianya, bergerak bersamaan karena beda itu dosa. Ah sayangnya, persamaan kini menjadi penyamaan dan kebersamaan adalah kesamaan. Penyederhanaan memang menjadi rumit, bukan karena keragamannya namun karena keseragamannya dan gumpalan kesamaan yang memuakkan tak terelakan.
Tidak bisa tidak, derap kaki seperti tentara berpacu di depan pintu kamar kayu. Sengaja cermin terpasang untuk penerangan karena cahaya telah dimonopoli gedung tinggi. Anjing! Ah salah, makian ini sudah tidak aktual lagi. Monyet! Hemm.. rasanya masih kurang juga. Manusia! Mungkin spesies ini lebih pas sebagai makian saat ini. Tidak ada obrolan hanya ketergesaan, buru-buru tidak ada lagi digantikan buru memburu. Seperti manusia jaman batu berburu babi hutan, manusia modern berburu angkutan terpadu yang sekali telan bisa dua ratus orang.
Keluar dari penangkaran masuk ke dalam kandang perahan. Bagaimana kalian menjalani kemanusiaan, sempat kuintip beberapa kali setiap pagi kalah cepat dengan kembalinya kesadaranku. Ah seperti babi, menunduk merendahkan pandangan menatapi langkah tak rela terpaksa namun penuh bangga. Mungkin babi bukan menunduk malu pada dirinya namun malu pada manusia yang meniruinya.
Kebanggaan yang diumbar lewat kotak suara, yang bahkan saat ini tidak lagi menjadi kotak bagi suara. Ia disangkal sebagai media suara menjadi media visual dengan berbagai sosial dalam jaringan yang membuat manusia seperti kuda terikat tali pada kursi plastik yang bahkan tak tertancap di tanah. Mentalitas budak dalam budaya angka, memang begitu seharusnya dan apa masalahnya. Mempermasalahkannya lah yang menjadi masalah. Kita hanya berbeda.
Kemanusiaanmu yang di pagi hari berburu angkutan masal dengan tertunduk memandangi layar ponsel pintar, dengan kemanusiaanku yang terpaksa bangun untuk melemaskan otot untuk menghindari sakit di leher. Kemanusiaanmu di siang hari yang memandangi keluasan dunia yang terlalu luas namun serupa tapi tak sama dengan layar monitor yang melaju kencang kemana pun sesukanya, dengan kemanusiaanku yang hanya seputar dua puluh kilometer dengan keberagaman namun berpola dari laku manusia dari bawah selokan hingga atap bangunan.
Beda itu dosa, klasifikasi berdasarkan berat recehan di dalam selangkangan pada budaya angka oleh iman kepada agama kuasa membuat dua nilai bagi kemanusiaan yaitu jelas dan tidak jelas. Mungkin kemanusiaanmu yang jelas dan kemanusiaanku yang tidak jelas. Bahkan aku menjadi manusia tidak jelas sedangkan kau manusia jelas. Akan menjadi jelas bagiku untuk menjadi sama denganmu karena kamu adalah kalian, karena kejamakan adalah banyak dan kebenaran sebanding dengan kuantitas.
Belokan kanan di pertengahan perjalanan ini selalu membuat penasaran, terlalu sering diabaikan tapi rasanya kali ini waktunya untuk melewati. Hari ketujuh di sini berarti sudah enam kali mengabaikan, kali ketujuh ini rasanya bolehlah menjadi yang pertama. Aku mengambil belokan ke kanan, jalan kecil menanjak yang selalu membuat penasaran dan terabaikan. Sekilas terlintas para jamak dengan moto kera dan laku babinya, tidak salah dan tidak masalah pun adalah cerminan bahwa spesies bias identitas itu mengandung aku di dalamnya.
Mau kemana? Tanya bapak tua yang sedang mengambil rumput di semak pinggi jalan. Mau ke atas pak, ada apa ya di sana? Anda baru di sini? Iya Pak, Saya hanya penasaran saja untuk ke sana. Oh yasudah hati-hati lah, katanya. Di sana ada restoran yang selalu ramai di akhir pekan oleh mobil-mobil dan orang-orang yang mencuri hiburan. Ya, mencuri. Bahkan daerah terpencil pun selama ada akses jalan tidak akan lepas dari jamahan monyet-monyet muda di dalam babi besi. Jika arah yang kau lalui telah memiliki jalurnya, berarti kau sedang mengikuti jejak orang lain. Seperti ini kah maksud perkataan itu, lalu apakah harus ku melalui semak belukar di sisi kiri kanan jalan ini dan membuat jalur yang baru. Merepotkan. Kaki ini melangkah menyusuri tanjakan mengikuti jalan. Tujuanku hanya untuk tau saja.
Napas sedikit terengah, otot kaki masih mampu walau rasanya tidak seperti biasa. Seminggu ini terlalu longgar aku menggunakan badan ini. Seperempat tahun dengan kebiasaan itu apakah masih bisa tangan ini mematahkan leher dengan sekali ayunan, atau sapuan kaki ini mengeluarkan isi lutut dengan satu putaran. Apakah masih mampu melakukan akselerasi mendadak masuk ke dalam area pertahanan lawan sebelum sikap siaga bertahan pertarungan sempat dilakukan. Ah, memori dan repetisi, lintasan pikiran yang telah menjadi kebiasaan segera berhenti seiring dengan kesadaran bahwa aku sedang merepetisi memori. Manusia memang gumpalan memori dengan karya yang hanya lah repetisi. Tidak bisa tidak terlarut di dalamnya, untuk tak hanyut hanya berharap pada kesadaran keterlarutannya. Itu pun kalau tidak lupa.
Aku melihat suatu rumah yang kecil di atas bukit itu. Jalan setapak berbatu yang padat pun terlihat seiring dengan langkahku menyelesaikan pendakian yang kira-kira tiga kilometer dari belokan jalan besar tadi. Tiga kilometer tanjakan curam berkelok. Aku mulai bisa melihat kota ini dari posisi sekarang, sepertinya berada di puncak bukit tempat warung tersebut aku bisa melihat keseluruhan kota ini. Pantas saja jamak mengincar lokasi ini untuk mencuri hiburan, karena dengan demikian jamak bisa lepas dari kemanusiaannya yang telah terdefinisi angka dan berkutat dengan drama kompetisinya. Lucu, kalau tidak suka mengapa menjalani dan berkeras pada pembenaran-pembenaran definitif, pun telah sadar bahwa kebenaran tersebut adalah kolektif. Tidak lucu, karena semua terjadi oleh kebebasan dan keterjebakan pun bentuk kebebasan dalam memilih untuk terjebak. Wajar adanya dan demikianlah alurnya. Kera dalam pikiranku berlonjakan.
Kaki ini tidak melangkah ke jalan setapak perkerasan batu yang tadi kulihat melainkan memasuki semak dan mencari pohon kuat yang ada di sana. Tidak jauh kalau memanjat, tidak apalah sedikit menguji kemampuan tubuh ini, lama tidak terbentur dan tergores, hanya saja kali ini tumbuhan dan bebatuan bukan pukulan tendangan dan senjata yang bermaksud mematikan. Satu lompatan, beberapa tarikan, sejumlah tolakan, dan rasanya begitu melegakan. Badan ini masih bisa kukendalikan, mungkin tidak seterampil jemari yang menari di atas layar sentuh dan sesigap mata yang menangkap pemberitahuan di pojok perambahan dalam jaringan internet, namun kemampuan tiap orang berbeda kan. Aku mampu melemparkan tubuh ini ke atas pohon dan dengan tepat menangkap dahan kuat untuk menarik badan menambah ketinggian, sedangkan ada yang lain yang mampu cepat menangkap pemberitahuan komentar dari unggahan fotonya untuk kemudian bereaksi dengan komentar tepat di bawahnya sebelum komentari lain menduduki posisi itu.
Srak.. srak.. hap.. tap! Suara itu tampaknya membuat wanita penjaga warung menoleh ke belakangnya dan menemukan ku. “Kamu datang dari semak itu?” Ia bertanya. “iya,” kataku, “memanjat pohon.” Sambungku sebelum pertanyaan standar ‘bagaimana?’ muncul. Ia diam, sebelum sempat bertanya sudah kujawab.
“Warungnya buka?” Aku bertanya.
“Iya, hanya karena bukan akhir pekan tidak semua menu ada.”
“Tidak apa, aku hanya ingin segelas kopi yang bukan sachetan.”
“Ada. Pakai gula atau tidak”
Aku terdiam dengan pertanyaan ini, bukan bingung menentukan berapa takaran gula yang akan kuajukan tapi karena di kejamakan bentukan definisi yang membentuk pertanyaan ‘berapa sendok gulanya?’ ada bentukan definisi lain yang mungkin tidak banyak yang menanyakan hal ini. Memang, pertanyaan ‘berapa sekop gulanya?’ pun termasuk kedalam keunikan yang jauh lebih unik. Hanya, sepertinya kasus pertanyaan itu sangat jarang diketemukan dalam skenario meminum kopi. “Tidak usah pakai gula, polos saja.” Jawabku.
“Pecinta kopi ternyata ya?” Ia menyahut dengan nada retoris dalam kalimat tanya.
“Bukan, hanya menikmati pahitnya rasa saja, rasa kopi.”
“Begitulah, banyak yang memesan kopi namun yang diinginkan adalah rasa manis. Kenapa tidak memesan air gula saja.” Wanita itu berkata datar sambil mengangkat air yang telah mendidih. Aku suka dengan caranya membuat kopi. Mendidihkan air, menyiram gelas dengan air panas untuk menghangatkannya, mengambil bubuk kopi seperlunya dan menutupnya kembali. Menuangkan pada gelas hangat yang kering dan menyeduh seperempatnya dengan air mendidih yang telah didiamkan beberapa detik itu.
Dari tempat dudukku aroma kopi mulai menghalau pandangan. Sejak tadi aku berusaha untuk melihat kota ini keseluruhan dari ketinggian tempat ini namun ritual kopi di atas bukit yang Ia lakukan seakan mencuri sebagian perhatian, dan kini aromanya mencuri seluruhnya. Selesai dengan memasak bubuk kopi dengan teknik seperempat gelasnya , Ia menuangkan air hingga penuh satu takaran cangkir dan mengaduknya sebentar, menutup cangkir keramik dengan tutup keramik pula dan menhidangkannya di depanku. “Tunggu sebentar ya, sekitar tiga puluh detik baru dibuka tutupnya. Kopinya akan jadi enak diseruput nanti.” Katanya sambil berlalu dan tidak ada terimakasih dari bibirku. Terpesona.
Apakah monyet atau babi. Apakah dia manusia atau dewa. Apakah dia aku atau aku adalah dia. Apakah apakah dan kenapa kera di dalam pikiran ini mulai bergerak pun aku tahu jawabannya karena memang demikian lah alurnya sesuai hukum utama tritunggal maha niscaya; kemungkinan/posibilitas, peluang/probabilitas, dan sebab akibat/kausalitas. Seketika kesadaran hadir dan untunglah kesadaran hadir untuk menyadari aliran keniscayaan pikiran dan pemikiran, perbandingan dan pembenaran, penilaian dan penghakiman. Begitulah adanya dan adanya lah demikian maka setelah beberapa saat aku pun menghirup aroma kopi ini dan menyeruputnya dengan ganas.
“Ngapain?” Wanita itu bertanya. Ia masih muda mungkin di bawah usiaku angka durasi hidupnya.
“Lihat-lihat aja” Kataku sambil tidak terlalu lama melekatkan pandangan padanya dan kembali memandangi seluruh kota dari serambi warung yang posisinya memang diatur sedemikian sehingga pas sekali untuk menangkap pemandangan.
“Dengan posisi ini, kita bisa melihat segalanya tanpa terlibat di dalamnya. Tidak ada yang melihat kita namun kita bisa melihat semuanya.” Ia berkata.
“Semuanya namun tidak segalanya. Mungkin. Kita bisa melihat semuanya secara menyeluruh namun bapak tua tadi yang sedang mengambil rumput tidak bisa terlihat, kan.” Balasku.
“Saat kita memandang bapak tua tadi, maka tidak bisa kita melihat seluruh kota. Saat kita melihat seluruh kota, tidak dapat kita melihat setitik manusia yang sedang mengambil rumputnya. Ia berada sebagai bagian dari keseluruhan seperti melihat bapak tua tadi tidak membuat kita melihat tahi lalat di pelipis kirinya, namun melihat tahi lalat di pelipis kirinya membuat kita tidak bisa melihat bapak tua itu, demikianlah tahi lalat di pelipis kirinya adalah bagian dari si bapak tua.”
“Iya, maka pentinglah untuk tidak selalu melihat dari serambi yang sama dan perlu untuk melihat dari jendela itu atau serambi belakang itu, atau mungkin berpindah ke teras depan yang langsung berbatasan dengan jurang.” Kataku sambil menunjuk beberapa tempat yang ada di sana. “Bapak tua itu, tinggal di sini?” Lanjutku.
“Iya dan iya.” Jawabnya sambil tersenyum. Sialan, manis.
“Tidak sambil mengopi juga?” Aku mengalihkan keterpesonaanku.
“Tidak, aku tidak suka rasanya tapi aku menikmati aromanya.”
Aku tersenyum pada bibir, namun tertawa pada hati. Kalimat ini pernah kudapatkan dulu. Hahahaha.. sungguh manusia adalah gumpalan memori dan pengulangan tiada henti, maka dengan kecepatan yang melebih kesadaran, refleks, aku menjawab kalimat yang sebetulnya pernah kuucapkan dulu, “Kalau begitu ini kopi kita, ku yang menyeruput dan kau yang menghirup.” Tidak sampai seperempat detik kesadaran hadir bahwa kalimat itu kuucapkan dan pengucapan itu pun berdasarkan memori dan repetisi. Ia tertawa dan memandangiku dengan mata yang juga tertawa. Entah apa maksudnya namun bukankah dia dengan dunianya dan aku dengan duniaku. Dunia yang adalah kotak bagi memori memori.
Aku tidak bertanya dan dia tidak membahas. Selesai tawa itu terjadi kami pun sama-sama memandangi keseluruhan kota di bawah bukit tempat beradanya warung ini. Hening dan kini giliran angin yang berbincang dengan dedaunan. Kopiku tinggal setengah. Tidak terbiasa menyeruput kopi yang dingin, aku selalu menghabiskan kopi selagi dalam keadaan hangat.
Kopiku pun selesai dan wanita ini masih duduk dengan tenang di sebelahku memandangi awan dan tangannya menggenggam kursi kayu tempat kami meletakkan pantat dan pemikiran. Aroma kopi akhirnya selesai dari kerongkongan dan tenggorokanku. Bukan rasa kopi yang membuatnya menjadi kopi namun setelah rasa itulah yang menjadikannya. After taste is everything, katanya dan aku mengerti betul apa maksudnya walau hanya dalam lingkup secangkir kopi.
Bau darah membuatku siaga. Bukan bau darah segar yang tumpah namun bau darah yang penuh dengan nafsu membunuh, panas dan pengap. Sebilah pisau melentin sempurna dari arah kiriku ke arah pusat keningku dengan ujung tajamnya yang tahu pasti arah tujuannya. Gelas kopi kuhentakan ke kiri dan tubuh ini kulemparkan ke kiri oleh kontraksi otot pinggang kiri, leher kiri, dan tolakan otot betis dan paha kaki kanan. Sempat. Telinga kananku sepertinya terkena, karena aliran panas membelai leher kananku.
Kepalaku di dadanya, tepatnya telinga kiriku menempel di dadanya. Wanita kopi yang mempesona dan terlalu pandai untuk menjadi gadis desa penjaga warung kopi di atas bukit. Ritual kopinya bagaikan kotbah, yang selalu berisi tentang pola kemanusiaan dan menggambarkan pengulangan-pengulangan. Kini kedua tangannya memegang belati, yang kiri yang kuelakan dan berhasil mengoyak daun telinga kananku, yang kanannya kupegang dengan tangan kiri dengan kuat agar dalam posisi kepalaku dempet dengan dadanya tidak ada belati yang menembus leherku. Satu hentakan kuat dari otot kaki kiriku melentingkan badanku sehingga puncak kepala ini menghantam dagunya. Dagu yang seandainya kami berciuman akan kupegang lembut dengan telunjuk dan ibu jariku.
Pecah! Dagunya berdarah, pandangannya sekilas membuyar, pisau tangan kirinya lepas dan pilihan ada padaku, mengambil pisau itu dan memberi waktu bagi penglihatannya untuk kembali normal untuk kemudian menyerangnya dengan senjata atau melakukan satu jurus pukulan keras ke ulu hati untuk memecahkan lambungnya dan menjatuhkannya. Aku bukan orang yang sabar, hentakan kaki kanan dan ayunan tangan kanan melesat ke arah pusat badan sang perempuan yang pernah begitu mempesonakan, aku.
Belum sempat meledak, tangan kananku terempas ke arah kanan dan kulihat sebatang kayu menancap pada kulitnya. Tidak sampai menembus karena otot sedang kontraksi penuh dan keras seperti kayu. Ya, kayu, karena masih bisa tertancap anak panah. Kepalanku gagal mendarat pada solar plexusnya namun mendarat pada dada kirinya tepat di garis posisi jantung. Tidak telak meledak hanya menghantam dengan setengah kuat. Aku ikuti jalur anak panah ini dan menemukan bapak tua pengambil rumput yang sedang melepaskan anak panah kedua kearah titik vital di antara kedua mata.
Sekejap telapak tangan kiri menghentikan laju anak panah mendarati keningku, yang kali ini anak panah itu menembus telapak tanganku. Seperti paku pada telapak tangan yang mengikat para jamak pada kekang ponsel pintar dan papan tombol komputer nya, siksaan yang tidak membawa keselamatan. Posisi tubuhku menurun dan gerakan bapak tua tadi mendekat sambil menarik anak panah ketiga. Kini ia ada di atasku, mengambang hasil dari lompatannya dan akan segera melepaskan anak panah ketiga bersamaan dengan lecutan tangan kananku melemparkan pisau yang tadi terjatuh.
Pisau perempuan yang berkotbah di atas bukit dengan ritual kopinya kini bersarang di tenggorokan bapa tua bersamaan dengan anak panah ketiga yang menacap di tangan kananku. Tidak menembus karena ia mendarat pada siku. Bertanya, “sakitkah?” adalah cara untuk membuatku semakin emosi tak terkendali. Sebelum bangun, kuhantamkan gelas kopi ini pada pelipis orang tua itu dan membuat satu titik lagi aliran lava merah dari kepalanya. Ia terkapar. Ia sebentar lagi tewas.
Tattoo di paha perempuan itu menjelaskan semuanya. Mereka orang jaringan. Sialan, ternyata benar ada alat pelacak di uang terakhir yang kuterima dalam satu tas besar. Aku tidak terkejut, aku sadar aku abai tidak memeriksanya, aku sadar bahwa hal ini akan terjadi dalam bentuk kemungkinan dan peluang, karena hukum sebab akibat telah kujalani sebelumnya. Lalu semuanya menjadi tenang dan jelas dalam pengertian. Demikian lah alurnya dan aku ada di dalamnya. Seandainya bukan aku, alur akan terus berjalan dengan sang “aku” lain yang mengisi peran ini. Semuanya berjalan, waktu terus berlalu, aliran demikian lah adanya dan peran adalah keniscayaan. Sadar atau tidak sadar yang membedakan, memang tipis, setipis lingerie.
Menutup luka seadanya dan aku melompat masuk ke semak-semak. Tidak sampai dua puluh menit akan ada tim pembersih yang hadir untuk membereskan kotoran dan mayat. Mayat korban dalam keberhasilan misi atau mayat eksekutor dalam kegagalan misi. Prosedur yang aku ketahui, walau belum sempat aku terbiasa dengan itu. Tidak perlu memastikan prosedur itu berjalan atau tidak, aku melaju turun dengan menekan luka dan menuju penginapanku.
Aku tidak bodoh, dalam jaringan telah ada kesepakatan yang menjadi kode etik kegiatan. Penyelesaian dan pembersihan sampah divisiku dalam jaringan adalah dalam pertarungan dan bukan dalam tindakan diam-diam yang mematikan, seperti penembak jarak jauh. Bukan masalah kematian yang aku pedulikan, namun keberadaanku yang diakui sebagai sampah dalam jaringan lah yang membuatku sedikit kesal. Memang sebelum berhenti sudah ada yang mewanti-wanti, tidak semua akan menerima. Untung saja belum ada genap satu putaran matahari keterlibatanku maka mudah untuk mengakhiri, tapi tetap saja paku yang tertancap sedangkal apapun akan membekas saat dicabut.
Berharap pada kesepakatan kode etik, aku menuju penginapanku. Pendarahan telah berhenti, daun yang kukunyah dan kuletakan pada luka ternyata berguna, walau aku hanya membaca dari buku saja dan ini kali pertama melakukannya. Aku menaiki angkutan umum dan menurunkan lengan jaketku, mengambil telepon selular dan ternyata ada pesan masuk. “Kode etik terjaga. Pertarungan. Bapak dan kakak yang tidak puas pada perebut posisi sang anak, adik yang kemudian melepaskan kursi itu. Personal. Bukan urusan jaringan.” Yang langsung terhapus selesai dibaca. Oh, komunikasi jalur aman. Aku menghela napas lega, ternyata mereka. Saja. Berarti ada satu lagi. Si bungsu yang berapi-api.
Subscribe to:
Posts (Atom)