Friday, September 30, 2011

otolog

by Leo Amurist on Monday, March 22, 2010 at 2:33am


Leo Amurist Kau tak mengenalku, tak perlu pula mengenalku. Kenalilah dirimu sendiri, baru bisa kau hadapi aku. -amoure d' amurist-
7 minutes ago · Comment · LikeUnlike
Leo Amurist
Leo Amurist
wuih, masih sadar cuy??!!
ngapain lo? mikirin apa?
7 minutes ago ·
Leo Amurist
Leo Amurist
jiaahhh..
nglihat apdet status jam segini
yang bikin kamu tau aku masih sadar
tapi mana kamu tau kenapa, mana kamu tau mikirin apa
yang kamu tau aku masih sadar
6 minutes ago ·
Leo Amurist
Leo Amurist
yoi, prematur, kalau hanya menilai dari satu hal saja
5 minutes ago ·
Leo Amurist
Leo Amurist
sayangnya, hati manusia itu prematur
pemikirannya melantur
perkataan ngawur
blur
4 minutes ago ·
Leo Amurist
Leo Amurist
dalam laut aja ga bisa diukur
apalagi dalamnya pikiran
terlebih lagi dalamnya hati
gak sedalam pijak kaki
3 minutes ago ·
Leo Amurist
Leo Amurist
nyiksa...
terbiasa
tak berasa
sisa
2 minutes ago ·
Leo Amurist
Leo Amurist
pergi aja lah
buat seolah-olah meninggalkan
padahal ditinggalkan
udah biasa kan
harusnya jadi terbiasa... See More
dan tak berasa
sebab sayap itu rangkaian sisa sisa asa
about a minute ago ·
Leo Amurist
Leo Amurist
drama!
a few seconds ago ·
Leo Amurist
Leo Amurist
Kau tak mengenalku, tak perlu pula mengenalku. Kenalilah dirimu sendiri, baru bisa kau hadapi aku.
-amoure d' amurist-
a few seconds ago ·
Write a comment...

Setan Gergaji (Srek kesrek kesrek kesrek..) hayah..

by Leo Amurist on Thursday, March 25, 2010 at 10:51pm



Lalu kapan berakhir dengan kebas
Lama waktu tak membuat terbiasa dan terbebas
Tetap tajam bergerigi
Bergerak pelan pelan gerogoti

Bahkan terpidana mati yang habis tangis
Sungguh terisak oleh lembut yang bengis

Jagoan penjara ketat
Preman tahanan rakyat
Tak juga bisa lewati
Maka dari itu menutupi

Setan ada di dalam hati
dan dia membawa gergaji
Yang terasa saat sepi
Tak tertahankan sendiri

Bahkan terpidana mati yang habis tangis
Sungguh terisak oleh lembut yang bengis

Setan itu bernama . . . . .

Gombalisasi lagi..

by Leo Amurist on Tuesday, March 9, 2010 at 7:22pm
 
 
Emosi tinggi, logika tersingkiri
Hati yg menari, otak mulai ngeri.
Bahaya.. bahaya.. digenggamnya jiwa manusia.
Yang kan remuk redam saat kami bergandeng erat.
Berjuta akar yang kan terkoyak putus melecut.
Beribu orang kn memandang tarian ini dengan kecut.
Bahaya.. bahaya.. saat mekar kata: Putuskan ikat cinta kasihmu itu dan mari bersamaku..

Baladatak Romansa 4 : Sessi Diskusi Seksi

by Leo Amurist on Tuesday, March 9, 2010 at 8:30pm
 
 
Ego 09 Maret Duaribu Sepuluh

#
Letih untuk lelah
Jenuh untuk bosan
Jalani dan hadapi lakon pilihan
Nyatakan dan katakan semua
Biar mendengar, tahu, bahkan menertawakan
Terlalu ingin terbang untuk gapai angan
Dan semua hinaan kan mendapat pangkat persetan

#
Perih teriris namun tak ingin lepaskan
Rasanya begitu sempurna saat terlukakan
Karena rasa ingin semakin tajam dengan kehadiran
Semakin menyayat hadapi yang hanya bisa jadi angan

#
Api ini terpendam tak berdaya
Hanya hangatkan rasa hati dan angan pikiran
Agar tetap liar bergerak dalam imajinasi
Karena realita tak sampai, tak tergapai
Terdahului seperti terbangun dikala bermimpi

@
Berpijak pada angin membawa duri pada pundak
Bersayap kuat tegar menantang angin yang menghempaskan
Rantai besi tak berarti, harap mimpi masih belum berposisi
Bukan dahan tuk hinggap bersarang dan teduh dari terik hujan
Hanya menikmati ketidak jelasan melawan semua kenyataan

Ada nanti semua mulai pudar dan berakhir dan berawal lagi
Hanya ingin nikmati masa ini dengan menjadi raja ego tinggi

Api kecil menari teriup angin, indah membakar-bakar
Selesai semua, jangan pernah diprediksi apalagi dianggap janji
Selalu ada dua sisi kontroversi dari sisa api
Selalu tak terprediksi kemana angin berlari-lari
Seperti bumi diam yang sebenarnya tak tenang
Air yang sejuk tenang mengalir yang sebenarnya menghancurkan

Benturkan jangan sesuaikan
Buah hadir dalam keberhargaan oleh kepenuhan penerimaan
Bukankah dari awal selalu ada pilihan
Yang harus dijalankan tuntas saat masuk pada satu belokan

#
Diam tenang tak buat hancurkan
Terima dan tahan untuk tak sia-siakan
Pilihan yang masih buat bimbang
Bertahan?
Tinggalkan?
Api kecil yang menari tertiup angin. Angin tertarik hati panasnya api
Aliran air yang mengikis terarah goyangan bumi. Bumi bergoyang tergelikan air
Seperti yang tercontohkan
Jawabannya: keinginan!


Soundtrack : Lagu Doraemon Indonesia

Aku ingin begini .
Aku ingin begitu .
Ingin ini , ingin itu banyak sekali . .

Semua, semua, semua
Dapat dikabulkan
dapat dikabulkan dengan kantong ajaib

Aku ingin terbang bebas di angkasa
"Hey! Baling-baling Bambu!!"

La,la,la
Aku sayang sekali...
Doaremon...

La,la,la aku sayang sekali
Doraemon...

repost (cinta mula-mula)

by Leo Amurist on Friday, March 12, 2010 at 12:13pm


note nya bung 'Burhan Rimungguh'
lumayan bikin geli hati setelah bikin baladatak romansa
gini isinya:

Belajar dri seorang teman; ...Permulaan cinta adalah mengikhlaskan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri tapi membiarkan diri kita yang berubah oleh karena memahaminya. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan dalam diri orang yang kita cinta.
Janganlah benci terhadap cinta, karena itu bukanlah bagian dirinya, itu hanyalah campur tangan dari perasaan yang mengkontaminasi pikiran dan dengan mudah untuk disesatkan. Cinta membangkitkan kekuatan bukan kelemahan...

Kita dilahirkan memiliki hati yang jauh didalam diri, mengingatkan kita bahwa cinta yang tulus adalah cinta yang datang dari lubuk hati yang paling dalam. Cinta mengajarkan kita lemah lembut dan pengendalian diri, cinta memberikan kesabaran bukan pemaksaan diri, cinta dapat membunuh kekuasaan dan kebencian dengan sempurna. Hidup ini menjadi lebih indah dengan cinta.
Itulah cinta, anugerah terbesar didunia, yang tidak akan lekang oleh waktu. Cinta mengaktualisasi lewat expresi, gejolak rasa, yang hidup dalam diri kita.
Jika cinta yang kita tanam pada hati seseorang yang kita cintai mendapat ujian berat hingga pada akhirnya ia dapat bertahan, mungkin itulah yang dinamakan cinta sejati; tulus, tanpa pamrih dan apa adnya.

Cinta; kekuatan terbesar di alam semesta ini, kekuatan itulah yang memampukan seorang anak manusia bertahan hingga akhir ajalNya.
Rasio dan logika-pun tak dapat menjelaskan apa arti cinta, mengapa cinta ada, darimana asalnya. Tapi kita dapat merasakanya. Mungkin suatu hari sumber cinta sendiri yg dapat menjelaskannya, mengatakanya secara langsung, sehingga kita yang sekarang merasakanya hanya dapat mengucap syukur dan dapat memaknainya dengan lebih bijaksana.

Baladatak Romansa 5 : Cinta Mati

by Leo Amurist on Saturday, March 13, 2010 at 11:31am
 
 
 
Ego 12 Maret Duaribu Sepuluh

Berbalas hati teringini, menjumpai seluruhnya hanya mimpi, sungguh kecewa berharap mati. Memberi serasa sepenuh hati, prediksi-prediksi seakan janji. Semua kepenuhan harapan diserahkan pada angan, dengan berjinjit tinggikan badan menggantungkannya di sisi awan. Mengingini memiliki, beri semua berharap seperti prediksi, beracuan nilai moral adat kebiasaan balas budi. Berharap hujan, air di tempayan ditumpahkan.

Menggenggam mengendalikan, membuat seperti keinginan, mencintai refleksi diri dari membuat pribadi seperti yang dikehendaki. Ikat-ikat pekerti, matematika terima memberi, hitung-hitung rasa hati, keseimbangan terdefinisi sebagai persamaan. Perbandingan memberi gelar, tak tahu diri, tiada berbudi pekerti. Menerima terdefinisi membalas beri saat nanti, hidup menjadi hutang kehidupan tentang melunasinya.

Lupa tiap jiwa memanggul dunianya, pikiran terkungkung butakan mata, lalu anggap semua sama. Bagai katak dalam tempurung. Telinga tertutup, jelas terdengar cerita hanya dari empunya mulut. Lain mulut, tak bersuara tak bersua rasa tak perlu berasa di jiwa. Kecewa ingini mati waktu sadari semua tak seindah prediksi, terlalu banyak faktor dikurangi, tiada penerimaan diri bahwa telah melupai dan tak rendah hati mengakui eksistensi. Dasar-dasar bangunan pribadi yang terhilangkan, muncul tak peduli menari-nari riang. Prediksi bukan janji, takkan selalu tertepati, kaki kerelaan sulit memijak bumi, sayap angan terus buat melayang di awang-awang mimpi.

Kecewa ingini mati, rasa tak berbalas hati. Marahi diri, yang tak mengakui eksistensi. Kaki kerelaan tak memijak bumi, sayap mimpi terus tinggikan hati, emosi menjadi tak terkendali. Cintai refleksi diri, dari membuat pribadi seperti terkehendaki, prediksi bukanlah janji. Semua yang tak tertepati, membuat cermin menjadi musuh abadi. Buruk rupa cermin dibelah. Tak sebiji pun seperti prediksi, muncul janji yang kan buat hati mati.

Harga terlalu tinggi, untuk diri yang terkungkung mimpi. Tak mau sekadar angkat topi, merasakan teriknya mentari, agar kaki kerelaan turun memijak kembali, bawa teduh di bawah pohon yang menaungi. Malah menutupi seluruh wajah, butakan mata tulikan telinga, melayang semakin tinggi. Prediksi bawa terbang meninggi, menuju terbakar hati oleh matahari. Tak ada pengakuan, tak melahirkan kerelaan, hutang tak terlunaskan, mari menghubungi kematian. Diri yang tak mendapatkan, sungguh bermaksud memusnahkan, agar tiada lain merasakan angan harapan yang olehnya tak bisa ternyatakan.

Keraskan angan menjadi baja tahan segala zaman, tajamkan prediksi menjadi janji yang siap menusuk mati kala tak terlunaskan. Memberi semua dengan matematika keseimbangan dan ikat moral pekerti kebiasaan. Menunggu sang refleksi diri ternyatakan dari benih yang telah ditanamkan, penuh ancaman agar sang keinginan terrealisasikan. Memupuk emosi yang yang memberanikan, menghunus pedang-pedang kecewa yang mematikan, kala semua tak sejalan seiring keinginan. Mengembangkan ketidak terbukaan, menutup indera dari keluasan yang membebaskan, tiada pengakuan tiada penerimaan. Pemberian tak berjiwa kerelaan, tak melahirkan penerimaan akan pemberian tak sesuai harapan. Tuntutan. Tiada penerimaan berjiwa kerelaan.

Cinta mati..

Cintai.. atau mati.


Soundtrack:
D’Masiv – Cinta Ini Membunuhku
(telah diedit pada kata “acuh”)

kau membuat ku berantakan
kau membuat ku tak karuan
kau membuat ku tak berdaya
kau menolakku tak acuhkan diriku

bagaimana caranya untuk
meruntuhkan kerasnya hatimu
ku sadari ku tak sempurna
ku tak seperti yang kau inginkan

kau hancurkan aku dengan sikapmu
tak sadarkah kau telah menyakitiku
lelah hati ini meyakinkanmu
cinta ini membunuhku
bagaimana caranya untuk
meruntuhkan kerasnya hatimu
ku sadari ku tak sempurna
ku tak seperti yang kau inginkan

tik tik tik

by Leo Amurist on Monday, March 15, 2010 at 7:52pm


Dengar rintik itu
yang biasa kuat mencuri-curi
kini hanya pelan menari-nari
pelan sekali..

Sejuk-sejuk dingin
aroma sepi yang menusuk tak mati
makin membuat merasai
gelap yang sunyi

Sedikit luntur rasa benci
yang biasa muncul saat hujan berlari-lari
mungkin sakit kakinya hari ini
hingga putuskan untuk tak mencuri

Mari berdamai malam ini
hanya malam ini
aku simpan di sela hati
kata-kata ini:
"I hate rain, but she loves me!"

Biar sesekali berduaan kita di sini
mencoba saling mengerti
hanya malam ini
setelahnya mungkin kembali aku benci

Setelah sembuh kakimu dan mulai bisa berlari
berlari dan mencuri
aku akan kembali benci
ay het reiyn bat si lovs mi

Sekali ini berdamai dengan sang pencuri
yang biasanya sadari sendiri
karena terluka kaki
karena rasa kasihan yang sedang ingin dirasai

gema/15032010

*GEMA= GEje MAmpus!