Sepertinya saat ini benar budaya mata, indikatornya adalah pengagungan pada keutamaan proses, bukan hasil. Manusia menjadi ternama dan tersohor oleh proses yang ia tunjukkan kepada banyak orang untuk memenuhi definisi suatu hasil, namun hasilnya tidak sesuai definisi.
Dengan alasan apresiasi, proses menjadi lebih penting daripada hasil, yang penting sudah berusaha terlepas dari hasilnya dekat atau jauh dari sempurna (definisi/ideal). Tapi, bukankah yang kita butuhkan adalah hasilnya. Juga, bukankah proses itu suatu hasil. Hanya proses adalah rangkaian hasil, hasil pengetahuan, hasil latihan, hasil kualitas mental, dll.
Kalau mengaggungkan proses, kopi nikmat menjadi hanya diplomasi apresiatif mata. Hasil yang penting, kopi yang nikmat, bukan kesempurnaan proses yang diseruput kan. Kalau tidak enak ya tidak enak apapun prosesnya, seagung apapun prosesnya. Itu hanya apresiasi diplomatif, alias bohong.
Tombak yang buruk pun tidak akan berguna, sesempurna apapun prosesnya. Bukan berarti menolak proses sempurna, tapi fokus pada hasil. Juga kesadaran bahwa proses pun adalah suatu hasil.
Dengan kecenderungan pada bentuk dan bukan fungsi, maka mata menjadi dominan daripada rasa. Apresiasi lebih pada kata pujian, bukan pada pilihan selalu menggunakan, ahli pedang tidak memuji tapi menggunakan pedang bagus itu bahkan dalam tidurnya.
Berdasarkan pemahaman tersebut di atas, maka: Rasa, bukan mata! Hasil, bukan proses!
Thursday, August 27, 2015
Saturday, August 22, 2015
Petualang, pejalan, dan penduduk.
Dalam perjalanan, biasanya seorang pejalan akan bertemu penduduk di suatu wilayah. Bukankah seperti para pejalan, para penduduk itu pun bagian dari suatu perjalanan (travelling). Sang pejalan berpindah untuk menemukan pengetahuan yang tampaknya adalah dunia sang penduduk. Sedangkan sang penduduk menerima pengetahuan yang tampaknya adalah dunia si pejalan ini. Tanpa perlu berpindah tempat, pengetahuan itu diantarkan. Setiap kali berfoto dengan penduduk, apakah pejalan merasa lebih hebat dan lebih tinggi derajatnya hanya karena ia bergerak berpindah tempat sebagai salah satu indikator adanya perjuangan, sehingga mengabaikan bahwa esensi dari perjalanan adalah suatu penemuan akan hal baru yang tidak lebih rendah atau tertinggal. Bukahkah diam pun memiliki perjuangan dalam konsistensi agar tidak terjebak repetisi. Bukankah (lagi) perjalanan adalah suatu cara menarik konsistensi yang telah terlanjur terjebak dalam repetisi. Konsistensi berbeda dengan repetisi walau bentuknya sama yaitu rutinitas, pada umumnya. Bergerak lebih dalam pada suatu penemuan, bukankah tidak ada hal yang baru, kita saja yang baru mengetahui keberadannya. Kesadaran itulah yang sepertinya ingin diberikan perjalanan. Mengapa kita kaum modern yang lebih sering melakukan perjalanan daripada kaum tradisional, karena kita kaum yang telah terkondisikan secara instan berorientasi produk namun mengagungkan proses secara semu, sehingga sulit untuk melihat apa adanya karena proses dan produk dilihat terpisah & dihakimi sebagai hal yang berbeda. Mereka para penduduk yang menetap dan merasa tak butuh perjalanan, mungkin tidak sesulit itu. Kalau perjalanan untuk membersihkan pandangan, bersihnya pandangan tak seketagihan itu pada perjalanan. Bukankah hasil adalah proses dan proses adalah hasil. Demi keseimbangan, maka berbagi pengetahuan pun niscaya hadir. Sang Penduduk yang dibawakan pengetahuan oleh sang pejalan dalam suatu gerak perjalanan dan sang pejalan mengambil pengetahuan yang diletakan diam ber-ada dari sang penduduk. Kedua-duanya sama-sama membawa pengetahuan ini pulang. Bukan sebagai tambahan koleksi melainkan untuk menemukan suatu reduksi dengan keluasan bahwa semuanya hanyalah satu hal besar dan kita terjebak dalam mengaggungkan bagian-bagiannya saja, terjebak dalam ketagihan mengoleksi memori. Mungkin baik untuk menyebut istilah pejalan dan penduduk karena keduanya sama-sama petualang, satu bertualang dalam diam, yang lain bertualang dalam gerakan. Tiada beda, seperti tidak ada yang baru di bawah matahari. Lalu bagaimana dengan peziarah, musafir, pengelana yang selalu berpindah. Mungkin mereka mencari tempat pulang bersamaan dengan membawa isi rumahnya, yaitu kumpulan pengetahuannya sekaligus. Saat menemukan tempat, ia mendirikan rumah dan langsung mengisinya, dua misi dalam sekali terpenuhi. Apakah pengembara melakukan kedua peran pejalan dan penduduk bukan hal yang tidak mungkin, walau jelas tidak akan sedalam mengalami salah satunya saja. Dalam perjalanannya dia mengambil sekaligus mengantarkan pengetahuannya. Dalam pendudukannya yang menetap walau sementara, ia diantarkan pengetahuan sekaligus memberikan pengetahuan kepada pejalan. Hingga menemukan perhentiannya yang selalu kita sebut pulang. Bukannya kita semua mencari tempat pulang, dengan menetapkannya dari menemukannya terlebih dahulu. "Manusia hidup menunggu mati dan kebanyakan mengisinya dengan kebodohan."-Amuristism-. Bahkan penemuan pulang pun bisa jadi bukan menemukan setelah pencaharian, melainkan menemukan setelah berhasil membuang segala hal yang menghalangi keberadaanya. Bukankah itu selalu ada di situ. Kalau memang begitu, diam dan bergerak adalah sama. "Pikiran yang orisinil bukanlah pikiran yang melihat hal baru, melainkan yang menemukan hal-hal yang niscaya ada dari hal2 yang dianggap baru oleh zaman." -F. Nietzsche-.
Wednesday, August 5, 2015
Apteur Test.
Diam itu ternyata berdasarkan pemahaman, bukan penahanan.
Penyederhanaan berfokus pada laku membuat diam menjadi represif bukannya membebaskan.
Semakin dipuja dan diagungkan, semakin direndahkanlah kesejatiannya.
Jujurkah pada diri, diam mana yang menenangkan karena paham atau yang menggelisahkan karena nahan.
Apakah kita benar2 korban definisi terjebak keseharusnyaan?
Ironi dan paradoks, mungkin peringatan untuk kerentanan suatu "kata".
Karena inti dari kata adalah apa yg tidak terkatakan, namun tetap harus melalui perkataan.
Seperti kekasih seniman yang bercerita tentang definisi karyanya:
Jawaban datang saat diri tenang, bukankah kebutuhan jawaban hadir dari ketidak tenangan, ntar aja lah tunggu "iklan lewat" katanya. Perjumpaan menghasilkan karya, perpisahan menghasilkan mahakarya. Lalu, perjalanannya menghasilkan apa? Tanpa karya.
"Menyukai kopi tanpa gula (pahit) itu firasat, ke-ditinggal-pergi-an, tidak ada yg tidak pernah ditinggalkan dari secangkir rasa.
Lihat aroma, apakah tetap berada? Yang tersisa hanya 'rasa setelah' yg dalam Bahasa Sunda nya, "apteur test".
Monday, July 20, 2015
Ketagihan Lingerie
"Sebenarnya, hanya dua hal di dunia ini yang bikin ketagihan, kalau bukan kehadiran ya kesendirian, emang kamu ngebeer ngopi nyuntik ngesex ngegame bahkan travelling itu bisa kah tak sendiri atau tak bersama; tidak bisa tidak kan kalau bukan sendiri ya bersama, dan itu tidak masalah, see widely my dear, kita hanya mencari pembenaran toh perbedaannya di kesadaran saja, sadar ga kalau terjebak, berbahagialah yang tidak sadar, karena ketololan itu menyenangkan dalam pengulang-ulangannya dan bukankah semua orang masokis, sudah tau sakit menyakiti masih saja diulang lagi lalu lagi dan diulangi lagi, dengan laku abai & bebal, karena tidak bisa tidak itulah mari kita kalau tidak menyerah ya berserah, tipis kan perbedaan menyerah dan berserah, setipis lingerie ini. Jadi, kau akan berdiri di sana saja atau kemari samaku, jangan bilang terserah, itu tidak ada dalam pilihan." Thus spoke the astronaut.
Monday, July 13, 2015
Bagaimana Kalau
. Bagaimana kalau ternyata perjalanan & perjumpaan dengan alam adalah untuk kita meracau dan alam mendengarkan semuanya
. Sedangkan yang kita lakukan hanyalah diam tenang dan mendengarkan alam berbicara, apa yg kita dengar? Toh alam diam karena ingin mendengarkan kita bercerita
. Cerita tentang apa yang kau alami sebagai manusia selama ini
. Atau kita malah merayakan pencapaian pertemuan dengan alam dan tidak memenuhi tugas kita, bercerita kepada alam semesta
. Kalau setiap perjalanan petualangan itu membebaskan, kita tidak akan pernah bertemu lagi di tempat yang sama bukan
. Kalau ingin kembali lagi dan lagi, melakukan lagi dan lagi, berarti ada yang belum tuntas
. Dan itu adalah tugas kita bercerita kepada alam tentang apa yang kita alami sebagai manusia selama ini
. Kita pun malah diam, mendengarkan alam. Bukankah itu membalikan fakta & melempar tanggung jawab
. Yah, sekadar "bagaimana kalau," saja
. #seruputganas
. Sedangkan yang kita lakukan hanyalah diam tenang dan mendengarkan alam berbicara, apa yg kita dengar? Toh alam diam karena ingin mendengarkan kita bercerita
. Cerita tentang apa yang kau alami sebagai manusia selama ini
. Atau kita malah merayakan pencapaian pertemuan dengan alam dan tidak memenuhi tugas kita, bercerita kepada alam semesta
. Kalau setiap perjalanan petualangan itu membebaskan, kita tidak akan pernah bertemu lagi di tempat yang sama bukan
. Kalau ingin kembali lagi dan lagi, melakukan lagi dan lagi, berarti ada yang belum tuntas
. Dan itu adalah tugas kita bercerita kepada alam tentang apa yang kita alami sebagai manusia selama ini
. Kita pun malah diam, mendengarkan alam. Bukankah itu membalikan fakta & melempar tanggung jawab
. Yah, sekadar "bagaimana kalau," saja
. #seruputganas
Saturday, July 11, 2015
Lari kah, lari lah.
11juli2015, tambak, jakarta.
Hentakan yang tidak asing namun sepaham apapun, rasa tetaplah rasa, terasa. Cipratan darah telah mendarat di lantai. Mata yang lebam dan bengkak menutupi pandangan, mungkin kini telah sebesar bola tenis. Bagaimana aku tahu bahwa cipratan itu telah mendarat dengan mata yang tak mampu melihat, terdengar saja entah bagaimana.
Ah, bohong.. sebenarnya tidak kedua mata ini yang terbutakan, masih ada satu mata terbuka. Mata yang melihat kepalannya menuju kepalaku, tujuannya satu dan jelas, mengkanvaskanku. Sepaham apapun, semengerti apapun rasa tetaplah rasa, terasa. Aku tau bahwa setelah tinjunya menghantam kepalaku, lutut akan menyambut di liverku dan ditutup dengan kuncian pada kakiku yang akan membuatku jatuh tak mampu berdiri lagi.
Apa adanya demikian, demikianlah adanya terjadi. Badan yang telah lama tidak dilatih tidak bisa mengimbangi kecepatan penglihatan. Semua terjadi seperti prediksi dan yang bisa kulakukan adalah menepuk lantai tiga kali sebelum kaki patah atau lutut lepas dari sendinya. Lebih baik menyerah daripada tidak bisa berjalan pulang kan. Pertarungan selesai, teriakan kembali terdengar. Apapun itu, pujian, makian, kekecewaan, kesenangan, sama sama saja. Teriakan.
Kekalahan bukanlah yang pertama, materi yang dibawanya mungkin telah dipahami hingga sela-selanya. Namun, rasa tetaplah rasa, terasa. Kekalahan itu seperti sesak dan rasa tidak nyaman di tengah dada, katanya. Uang yang kuterima tidak banyak namun untukku ini lebih dari cukup. Bukan keuntungan yang kucari namun kehadiran yang perlu kuisi, sepertinya aku ketagihan dengan kehadiran. Perkelahian dan teriakan, kebanggaan dan uang kumal dalam amplop cokelat. Jauh-jauh dari itu membuatku tak tahan. Sepertinya benar, ketagihan.
Aku kembali ke kontrakanku, kamar yang cukup luas dengan harga murah, yang menyewakan seorang nenek tua yang hanya butuh sedikit keramaian karena anak-anaknya telah pindah. Kamar mandi menjadi tujuan pertama, menghilangkan kotoran dan bercak darah sebelum mengeras dan berkerak hingga terlalu sulit dilepaskan. Rasanya, seperti kenangan, terlalu lama dibiarkan dan ketika hendak dibuang kulit pun ikut terkelupas perih, membuat luka baru.
Dengan hanya handuk yang membungkus bagian bawah badan, kulemparkan amplop cokelat dengan jumlah setengah dari biasanya kudapat ke sisi kasur dan kulemparkan badanku ke kasur. Kekalahan itu menyesakan memang, walau bukan hal yang baru, tetap saja. Apalagi merasakan berat amplop yang jauh lebih ringan dibandingkan selama ini. Rasanya bobot massa gumpalan uang memiliki kemampuan menghina saat bobotnya ringan dan memuji saat bobotnya berat.
…
Di luar mulai ramai, sepertinya telah tengah hari karena kamar ini telah menjadi terang. Aku mengumpulkan kesadaran dan perlahan ingatan mulai kembali. Sepertinya tadi malam aku ketiduran dengan handuk yang entah dimana sekarang. Ketelanjangan ini membuatku melihat luka semalam, sekaligus membuka memori tentang perempuan itu. Hemmhh... memori itu kotak penyimpanan rasa, dan tersimpan di sudut-sudut bentuk dan waktu yang kita bilang suasana. Saat bertemu format suasana serupa, terbukalah kunci kotak itu. Juga, manusia itu gumpalan memori.
Aku mendapati diriku di dalam cermin dan segelas air telah kuminum. Udara yang masuk ke paru-paruku menyegarkan badan sekaligus menyadarkan bahwa benturan semalam pada sisi kanan perut cukup telak ternyata. Kondisi membentuk manusia dan waktu menyatakannya, pernyataannya kali ini adalah tentang pelarian. Pertanyaan retoris pun terlontar, “apa yang sedang aku lakukan disini?”
Setelah memutuskan untuk pindah dunia, meninggalkan yang lama dan masuk kepada yang baru, mengapa aku masih melakukan hal yang sama. Pertarungan jalanan, hanya kali ini tidak ada hati dan rasanya hampa. Memang, kita hidup dengan cara yang kita tahu saja, tapi rasanya pengulangan tanpa isi seperti ini hanyalah pelarian dan kesekadaran saja. Rasanya hanya menghabiskan energi yang sebenarnya tidak terpakai dimana-mana lagi, seperti penantian di satu sisi yang tidak diberi jiwa oleh kata “saling”.
Pada awalnya memang menyenangkan, ada rasa petualangan dan seperti ada secercah cahaya harapan. Aku bisa menjadi seorang yang aktual dan nyata, di dunia baru yang lebih bersih dari segala kotornya memori lampau dan sesaknya ketidak diakuinya keberadaan, pada awalnya. Pada akhirnya, aku sadar bahwa kekotoran memori itulah aku sendiri dan kesesakan itulah yang selalu kubawa berlari dan berakhir di sini. Mengulangi ketololan dalam aktualisasi diri, pengulangan tak ada isi sekadar merepetisi untuk menipu diri kalau semua ini benar. Lari kah?
Lari lah. Mungkin itu yang akan dia katakan kalau sekarang melihat kondisi ini. Sudah tidak mungkin lagi untuknya menjahit luka di badan dan mengompres lebam di wajah. Ia telah berlalu. Ah, bukan... Ia telah kutinggalkan berlalu. Dengan keangkuhanku yang tinggi, dengan kepercayaan diri yang terlalu, dan kebanggaan semu hasil penyangkalan kemungkinan, aku membuangnya dengan mengondisikan bahwa dia yang membuangku.
Aku berjalan dengan cukup sesak, sepertinya trauma pada liver ini masih cukup besar efeknya. Setelah menghabiskan segelas air, aku menjatuhkan badan yang telah habis ini ke sofa dan membiarkan linu mengisi sendi, dan perih membelai kulit. Apa yang tersisa dari ini, dan apakah hanya sisa yang nanti akan bisa kuberikan. Telah habis diri ini, bahkan kalau tak menyangkal, telah kuhabiskan diri ini untuk hal yang sebenarnya dari awal tidak kuinginkan. Tapi, aku ketagihan dan tidak bisa tidak untuk menolaknya.
Rasanya ingin kembali, mungkin dengan segala yang telah berbeda. Tidak akan ada hal yang sama, paku yang telah tertancap saat dicabut pun akan meninggalkan bekas. Kalau terus aku berada dalam pelarian ini, tidak akan ada hal lain selain pengulangan dan kesekadaran. Belum waktunya untuk rutinitas bertahan hidup. Energi ini masih ada untuk suatu perubahan dan perkembangan. Kali ini aku tidak ingin menyangkal. Lebih baik berada dalam kesungguhan, walau penolakan sebagai bayarannya.
Kembali, kembalilah. Bukan kepada organisasi, bukan kepada tipu-tipu aktualisasi diri oleh kekuatan dan keterjebakan keputus asaan yang terimplementasi dalam pemusnahan. Namun sungguh kembali ke awal, kepada kesungguhan yang ada jauh sebelum kisah ini. Sebelum aku menjadi aku, saat aku masih adalah aku sendiri. Sekarang atau tidak akan bisa lagi sama sekali. Sekarang, saat masih ada energi untuk kembali dengan kaki sendiri.
Pintu diketuk, namaku disebut. Rupanya empunya kosan datang membawakan makanan. Kue manis yang melengkapi pencerahaan pagi ini. Terimakasih kuucapkan. Barang yang sedikit ini kukemas sambil melahap kue. Uang dalam amplop kusisihkan untuk membayar sewa dan biaya perjalanan. Sebelum ada alasan-alasan dan pembenaran hadir, lebih baik segera pergi dari sini. Lari kah? Lari lah. Kali ini, aku berlari pulang. Kepada pulang, yang ada jauh sebelum awalan.
Luka di badan cukup menyulitkan, setidaknya sampai dengan stasiun. Aku hanya perlu bertahan sepuluh jam ke depan, karena saat pulang selalu ada dua kemungkinan, sambutan yang hangat yang melegakan atau sambutan keras yang menunjukkan sisa paku yang telah tertancap di memori. Apapun itu, demikian lah adanya. Sebelum semakin jauh tersesat, lebih baik sekarang pulang.
Monday, February 2, 2015
Karena rasa ... (cerpen)
01.02.2015/Jakarta/matraman-salemba
Repetisi tiada henti, bukankah kontradiksi yang membuat gerakan. Kalau manusia tidak munafik tidak akan pernah ada lah perkembangan sebagai akibat dari gerakan. Kehancuran pun suatu perkembangan, awal perkembangan mungkin tepatnya. Lagipula apa itu kehancuran, semata konsep atas perubahan yang tidak sesuai dengan ekspektasi subjektif korban definisi.
Kalau melihat secara terbalik, kehancuran di jaman ini bukanlah hancurnya rawa dan pepohonan menjadi kompleks perumahan para jamak, melainkan pecahnya perkerasan jalan akibat tumbuhnya benih pohon dari dalam tanah. Atau, akibat perkembangan akar pohon besar yang mencari nutrisi dari tanah yang ditutupi aspal atau hamparan komposisi beton dengan perbandingan 1:2:3 untuk semen:pasir:kerikil kalau tidak salah. Atau, perbandingan pengetahuan:keserakahan:ketololan.
Kalau dilihat secara terbalik mungkin demikian, kalau dilihat secara lurus ya ketololan itu adalah perjalanan melintasi berbagai tempat tanpa tahu tujuan dan bukannya mengumpulkan harta demi persiapan hidup di masa depan. Sekilas terlintas kutipan “manusia itu hidup menunggu mati dan banyak yang mengisinya dengan kebodohan.” Ah, apa pula itu kebodohan. Subjektif dan terlalu relatif. Seperti kematian.
Mati menurut siapa dalam konteks apa dengan batasan apa dan untuk keperluan apa. Mati menurut dokter adalah saat organ vital penunjang kehidupan tidak lagi berfungsi, seperti jantung yang tidak berdetak memompa darah ke seluruh tubuh. Mati menurut teknisi mekanik adalah saat tidak adanya gerakan lagi dari suatu unit, katakanlah unit manusia. Lalu manusia yang bergerak tanpa jantung yang berdetak membuat kematian relatif. Ah, simplifikasi atau ketololan kah opini semacam ini?
Satu orang mati, seratus orang menghadiri pemakaman. Sembilan puluh sembilan sepakat bahwa orang ini mati, satu orang berkata orang itu tidak mati hanya hibernasi dan akan bangun lagi nanti. Maka kematian pun menjadi tidak mutlak. 99 orang pun bersekongkol menyingkirkan si 1% ini, alih-alih kematian menjadi mutlak, kematian pun menjadi politik.
Kebenaran itu pembenaran, objektivitas itu semu, subjektivitas relatif mutlak, kolektivitas lah yang kita amini sebagai kebenaran, dan itu pun relatif. Ke-relatif mutlak-an lain adalah, makin banyak makin benar. Banyak sekali orang mencari kebenaran sejati, mudah saja sebenarnya. Kumpulkan lah semua orang-orang yang mencari kebenaran sejati itu dan sepakati satu hal maka jadilah itu kebenaran. Lima milyar homo sapiens, dari delapan milyar yang menjangkiti bumi, berkata matahari terbit dari Barat dan tenggelam di laut maka demikianlah kebenaran yang tidak bisa disangkal.
“Lalu, dimana Timur?”
“Tidak ada lagi Timur, karena lima milyar ini bersepakat menghilangkan kata timur dari kamus bahasa mereka.”
“Ahahahaha… tadinya aku berpikir kau semacam kaum sofis modern yang mengimani segala hal relatif dan yang terpenting adalah bagaimana cara berbicara sehingga orang-orang meyakini hal tersebut adalah kebenaran.”
“Tadinya ya.” Ujarku sambil menyeruput kopi ini dengan memberi nada tanya yang tanggung dan tidak berharap jawaban walau membuka kemungkinan untuk mendapatkan respon balik.
“Yap. Tapi rasanya akan lebih tepat kalau mengkategorikanmu sebagai kaum pesimis, yang sinis menghadapi dunia dan saat lapar menjadi sarkastik. Mungkin seorang nihilis. Seperti merasa terjebak dalam kemanusiaan yang dibenci karena tidak bisa tidak adalah seorang manusia. Kelucuan yang menurutku keluguan, manusia yang membenci manusia karena tidak terima dirinya adalah manusia. Hal ini biasanya akan berkaitan dengan latar belakang, kekecewaan, dendam, perilaku tidak adil, dan…”
“Oi.. oi..” Aku menghentikan racauannya yang seksi. Bukan tidak mau menerima tapi, “Aku tidak mengerti terlalu jauh kalau kau mengupas dengan pisau psikologis seperti itu, yang aku tau tentang hal semacam itu hanyalah manusia saat ini adalah akibat dari mimpi dan imajinasi seksual mereka, seperti kaum banyak bicara (sambil menunjuk diriku dan dirinya) yang katanya adalah akibat kekurangan kepuasan oral saat masih kecil, yah.. mungkin sang ibu hanya sebentar menetekinya. Tapi itu pun samar, aku hanya sekilas dengar.”
“Dan itu pun tidak tepat, jadi… “
“Ah.. gak usah dibahas, kau bisa membuatku mabuk tanpa minuman beralkohol nanti.”
“Hahahahah… Baiklah.” Tawanya manis juga.
“Bukankah nihilis pun masuk kaum sofis yah.”
“Hey, katamu tidak usah dibahas, sendirinya.” Katanya sambil menyenggol lenganku kemudian tertawa manis. Manis dan nakal, dengan mata penasaran dan telinga yang kehausan. Seakan ingin membongkar semua isi pemikiran manusia di depannya dengan melepas liarkan semua pemikirannya sebagai pancingan, melalui bibir manis dengan titik tahi lalat mungil di sudut bibir atasnya. Rapi dalam balutan pakaian kerja wanita yang entah lah apa namanya, bahkan istilah blouse dan blazer saja membingungkan. Namun, sewaktu-waktu mampu untuk menerkam melumat hancurkan tanpa menelan lawan bicaranya.
Kedai kopi ini tidak nyaman. Kopi tidak enak, terlalu banyak manusia, walau semuanya tidak saling menghiraukan dan sibuk masing-masing tetap saja, kita semua berebut udara yang sama. Ya berebut, bukan berbagi. Sepertinya budaya masa kini sedemikian merasuk ke dalam manusia, hingga ke titik bagaimana manusia bernapas mencerminkan budaya kompetisi yang sedang mengalir deras saat ini.
Kebersamaan bukan kesamaan, persamaan bukan penyamaan. Sayang, dewasa itu saat kata tak menguak emosi. Waktu berlalu begitu cepat, segala hal hanya sekejap lewat, tiada yang mengganggu dan tiada yang menakuti. Kehadiran saja sudah cukup lah. Kata-kata ini tertempel dengan indah sebagai hiasan dalam bingkai di dinding utama ruangan ini. Bukan kata-kata yang indah hanya tertempel dengan indah, seperti meledek kontradiksi sekaligus mengagungkannya.
Kaum yang memuja kesamaan dan para jamak yang mengusahakan penyamaan. Para pengkhawatir masa depan yang membuang masa kini. Selalu berbicara nanti bagai kecanduan kemapanan dan ketakutan. Kita semua memang masokis namun hanya sedikit yang mau menggunakan kata ini sebagai pengakuan, istilah kerennya adalah keluar zona nyaman. Seperti menarik siput untuk keluar dari rumahnya dan memaksanya jadi tangguh di bawah paparan ultra violet yang jatuh menerpa secara perpendikular.
Keluar zona nyaman untuk berjuang dan di dalamnya untuk berkarya. Dalam perjuangan ada pengalaman, dalam pengalaman ada pembelajaran. Dalam karya ada perlawanan, dalam perlawanan ada aktualisasi diri. Kini semua orang dipaksa untuk berjuang, berpengalaman, dan belajar tanpa sempat berkarya. Demi memenuhi fungsi produksi monopoli, dengan manusia sebagai sumber daya. Kalau semua berkarya, tidak akan ada kelompok yang menjadi kaya.
“Kemapanan itu candu yah.” Katanya sambil memberikan beberapa dokumen permintaanku. “Semua orang bekerja dengan tujuan menjadi mapan untuk memiliki simpanan masa depan dan menggadaikan masa sekarang. Dalam drama jenjang karir dan prestise berdasarkan akumulasi harta, kita semua berkompetisi.” Lanjutnya.
“Yah, sama-sama saja. Kemapanan seperti itu saja sebenarnya yang terlalu digembar-gemborkan. Bukankah kemapanan bisa juga untuk seorang ibu penjaga kios bertahun-tahun dan semua kebutuhan yang dia perlukan terpenuhi. Mungkin yang kita lihat anaknya tidak bisa sekolah dan mendapatkan pendidikan, namun bukankah pendidikan anak pada dasarnya adalah kebutuhan orang tua dan bukan anak itu. Bahkan pada aslinya adalah kebutuhan perusahaan dan dengan kebutaan kita menjadikannya kebutuhan. Lalu untuk menyembuhkan atau menghindari kebutaan tersebut kita pun menjadi perlu pendidikan. Ah lingkaran setan sialan dan bisa saja ternyata ibu penjaga kios itu dengan kemapanannya adalah satu dari banyak orang yang terbebaskan dari jebakan rasa membutuhkan pendidikan untuk anaknya.” Aku meracau sambil sekilas memeriksa dokumen ini.
“Kau seksi saat meracau, mau melanjutkan racauan itu di tempatku malam ini? Daripada susah lagi mencari penginapan.” Katanya. Aku memandanginya, perempuan matang usia tiga puluhan, dengan kebebasan dan pilihan, dengan penentangan dan perlawanan, dengan kebanggaan dan kekuasaan. Bukan menjadi musuh dari dunia namun merupakan bagian dari dunia ini. Dunia adalah gerakan dan kontrakdiksi lah dasarnya. Demi keseimbangan, peran “wanita” perlu didampingi peran “perempuan”.
“Hahahahaha… baru saja kita ketemu tiga kali. Ini lah pertemuan yang ketiga kan.” Aku membalas bingung. Karena aku mau sekaligus aku tidak mau. Bukankah ini hanya repetisi-repetisi tiada henti yang tidak bisa tidak akan mengalir sedemikian adanya. Dengan atau tanpa keterlibatan subjek, peran akan terisi dan alur akan terus mengalir, dengan melibatkan subjek-subjek yang dengan ketidak sadaran malah menjadi objek. Aku adalah subjek bagi objek yang juga adalah aku. Aku itu apa.
“Lalu?” Tanyanya.
“Mau?” Balasku.
“Mau.” Tegasnya.
“…” Terdiam saking banyaknya gerakan dalam pemikiran dan perasaan.
“Hahahhaa.. senyamanmu lah.” Akhirnya Ia bersuara, “Dasar pemikir, tidak bisa kah kau lepaskan dirimu pada perasaan dan melepaskan kendali pada liarnya hasrat dan naluri pelepasan itu sendiri.”
“Perasaan itu ilusi pemikiran. Kita semua korban definisi.”
“Ya, makhluk-makhluk terkondisi yang penuh dengan hasrat untuk berkuasa.” Ia menambahkan kutipan.
“Gumpalan padat memori, yang adalah kotak penyimpanan rasa yang dengan mudahnya kita reduksi dengan definisi.” Aku menambahkan opini.
“Hahahaha.. kau. Aku suka kamu.”
“Aku pun suka kamu.”
“Mari menginap lah di tempatku malam ini kalau begitu, mungkin tiga empat malam ke depan juga.”
“Kenapa tidak sekalian kau ajak aku untuk tinggal selamanya bukan semalam saja kalau untuk mengikuti perasaan yang adalah segalanya itu.”
“Karena rasa bisa kadaluarsa.”
“Hahahahaha…” Aku kaget bahwa kata-kata itu akhirnya kutemukan juga. Menemukan manusia sejenis dalam arus drama yang terlalu berlebihan memuja rasa sehingga malahan mereduksinya. Seperti ciuman yang dilakukan sesekali dengan ciuman yang dilakukan sejam sekali. Rasanya, terbiasa jadi biasa.
Pemeriksaan dokumen telah selesai, semuanya lengkap. Aku tinggal mempersiapkan diri. Dokumen ini semacam surat perjanjian yang merupakan hal umum dalam aturan pertarungan jalanan. Tentang kemampuan diri, perjanjian keuangan, ikatan-ikatan kode etik pertarungan di dalam dan di luar arena dan asuransi. Begitulah.
“Kenapa?” Tanyanya dalam satu kata kunci yang membongkar paketan cabang pertanyaan dan ekor-ekornya. Aku mengerti maksudnya.
“Bukan uang, hanya rindu saja. Bukankah kita menjalani hidup dengan cara yang kita tahu dan hanya begitu saja. Aku rindu aroma keringat dan darah. Benturan dan suara retak tulang. Hal-hal menjijikan dan mengerikan menurut opini jamak. Tapi sekali lagi kan, kita menjalani hidup dengan cara yang kita tahu. Saja.”
“Ya, rindu. Seperti memori yang membawa rasa rindu. Rindu yang katamu adalah definisi yang sebenarnya mereduksi rasa itu sendiri, rasa yang sebenarnya tidak perlu didefinisi yang terkandung dalam memori. Iya kan.” Senyumnya sungguh, liar seperti hutan dan nyaman seperti gunung. Apa pula liar itu, bukankah itu definisi juga. Aduh, pikiran. Memang, pikiran manusia itu seperti monyet liar yang tidak bisa diam dan meloncat kesana kemari.
“Malam ini, Aku bisa ikut beristirahat di tempatmu?” Aku bertanya hal retoris dengan rasa sebagai pijakannya, sialan.
Tatapan dalam yang menantang namun tak mengalahkan, meneduhkan dan tidak mengurangi kewaspadaan, keterbukaan akan segala kemungkinan, bergaris-garis cahaya yang menembus rimbun dedaunan melukiskan kehangatan yang juga dingin, kebersamaan yang hadir dari kemampuan untuk tegar berdiri masing-masing. Keagungan yang menggoda awan dan menyentuh sudut bibirnya, belaian angin sentuhan lembut pipi langit oleh jemari bumi.
Senyumnya sungguh, liar seperti hutan dan nyaman seperti gunung. Gestur yang mengajak mengikuti, gandengan yang tidak berniat melepaskan, rangkulan yang memberi rasa seperti pulang. Bukankah kita pergi untuk pulang dan pulang untuk pergi kembali. Repetisi oh repetisi, kali ini berhenti sejenak dalam rasa adalah segalanya, sebelum nanti rasa kadaluarsa.
Subscribe to:
Posts (Atom)