Thursday, December 26, 2019

Keseharusnyaan 6/16

Dua puluh enam desember dua ribu sembilan belas. Memulai hari dengan nyalanya sesuatu yang tidak terdefinisi yang selama ini coba dicari tetapi selalu terhalangi ego dan definisi, di awal hari lewat tengah malam ini menyala dengan tidak terduga sama sekali. Bahkan imajinasi tidak berani mengimajikan situasi ini, sepertinya ada yang melebihi kemandirian persepsi yang membangkitkan pengingatan bahwa alur terus berjalan dan peran selalu terisi.
Sampai hampir tengah hari, lalu lewat tengah hari kembali kepada realita. Menghindari keramaian kandang tempat menumpang, kembali menghabiskan uang di kedai kopi langganan. Beruntung akan kehadiran biji kopi kerinci yang biasanya manis dan memang terasa manis, hot plate daging sapi karena membutuhkan asupan protein yang ternyata bersamaan dengan telur yang terlalu lama dibiarkan jadi sedikit gosong namun tak apalah, ditutup dengan kue cokelat yang begitu melekat penuh membuat kesadaran waktu hilang. Kalau saja tidak ada suara gelegar petir menyadarkan, mungkin sudah ketiduran di lantai kayu kedai kopi ini. Habiskan santapan, tukarkan dengan tabungan, memindahkan badan ke tempat kabur kebiasaan, letakkan pantat dan nikmati hujan sambil menyiksa mata dengan yutuban.
Mulai bosan, pulang kandang, seperti dugaan, kepenuhan keramaian keberisikan kepadatan kesesakan. Basuh semua sisa petualangan semalam dan kembali mengisi perut dengan makanan yang kali ini tinggi karbohidratnya, kemudian melemparkan diri ke kasur dan kembali menyiksa mata. Ada pesan darinya yang semalam begitu lekat dalam pelukan dan peluhan, gerhana matahari yang terlupakan. Lelah badan lega pikiran jadinya ingin makan, lagi. Segelas kafe latte bikinan sendiri dan sepiring ketan daging pun jadi santapan sambil menuangkan catatan keseharusnyaan enam belas hari yang akan menjadi saksi transformasi.

Keseharusnyaan 5/16


Dua puluh lima desember dua ribu sembilan belas. Bangun terlalu pagi dan terlintas untuk melarikan diri namun perlu menunggu matahari untuk mengatur posisi dan lokasi, tertidur kembali dan tetap terbawa mimpi. Sampai waktunya tiba, menggunakan kotak pesan untuk bertanya dimana dan bagaimana. Gerak cepat keputusan tegas dan syarat jelas, lewat tengah hari pelarian akan dimulai. Sambil menunggu mencoba menghabiskan waktu, mengingat mimpi semalam sepertinya tidak ada karena isi kepala adalah bagaimana dan dimana. Berselancar dalam jaringan internet sambil menunggu keramaian pagi yang seperti biasa yang menjadi alasan melarikan diri mereda, mengonsumsi informasi dari yang sensasional sampai yang sensual, dari yang elektrik sampai mekanikal, dari yang dalam biasa sampai luar biasa.
Melihat mendengar dan merasakan cuaca akan hujan, memutuskan perlu berangkat lebih agar tidak keduluan hujan. Seperti perlu memutuskan ruang ketiga kesepakatan berjuang agar tidak keduluan bosan. Berusaha memberikan yang terbaik dengan mandi serius dengan ampas kopi, biasanya hanya air saja. Bersepatu baru hasil informasi diskon dan keputusan impulsif untuk membeli, biasanya bersepatu sendal tank baja segala medan. Berpakaian rapi kaos katun lengan panjang semi formal dan jins cokelat rapi walau kebesaran, biasanya sedapatnya saja pakaian yang ada. Tengah hari berangkat mendahului awan hujan ke pusat kota termacet seindonesia, berhenti sejenak di tempat kabur biasa sambil menunggu rintiknya turun agar saat tiba di lokasi pelarian tidak terlalu lama menunggu. Karena menunggu adalah aktivitas paling menyenangkan sedunia. Pret!
Sampai satu jam sebelum waktunya untuk bisa masuk goa, tepat setelah mendarat rintik hujan turun dan semakin besar. Tak apa lah menunggu satu jam daripada kehujanan, menunggu yang menunggu karena benar menunggu bukannya melakukan sesuatu sampai habis batas waktu. Bedanya, menunggu ya menunggu sedangkan melakukan sesuatu sampai habis batas waktu ya melakukan apapun itu kecuali melakukan tindakan menunggu. Sengaja untuk tidak terlalu tepat waktu, menambah waktu menunggu dengan keputusan baru akan masuk goa pada saat waktu menunjukkan tanggal lahir saja. Tiba waktunya, mengambil kartu akses dan terbang ke langit ketiga karena langit yang lebih tinggi sepertinya sudah penuh dihuni para suci berdana lebih. Karena berdana lebih lah mereka jadi suci. Ah, prasangka. Yah, biarkan saja.
Melemparkan badan dan melemparkan pesan, menunggu ketukan dan pelepasan. Goa pelarian yang sebenarnya bukan pelarian, memang sudah waktunya saja namun selalu terjadi pergantian karena keputusan untuk tidak membuat keputusan pun adalah keputusan. Yang lama bersama batal berjuang dan berhenti di satu langkah sebelum buah siap dipertik, sehingga yang baru datang langsung memetik buahnya tanpa melewati perjuangan yang ini. Perjuangan yang lain, relatif pasti lah terlewati karena buktinya bisa ada di sini di waktu ini dalam situasi begini. Yang ada ya ada, yang tidak ada ya tidak ada. Tidak lama ternyata, lengkap semua persiapan pelarian dan dimulailah petualangan perjalanan penemuan dan pembentukan. Dua puluh empat jam kemudian.
https://leoamurist.blogspot.com/2011/09/november-christmas-tree.html

Tuesday, December 24, 2019

Keseharusnyaan 4/16

Dua puluh empat desember dua ribu sembilan belas. Mimpi semalam tentang apa ya, lupa. Bangun pagi dengan plus satu energi, lumayan juga bertahan sampai selama ini di situasi nyaman karena biasanya bocor tidak tahan. Seperti biasa dengan keriuhan pagi yang tidak kunjung henti suara dari aktivitas cuci-cuci, dengan tambahan personil yang meramaikan tidak terlalu signifikan karena berisik sudah jadi kebiasaan. Bermalasan sekalian peregangan badan di kasur, membereskan leptop, mempersiapkan buku bacaan, bersiap untuk nongkrong di kedai kopi biasa dan kali ini dengan niat yang penuh. Mandi, berpakaian, meraih bawaan, menuju kendaraan, sedikit pelumasan dan pemanasan mesin, berangkat sudah. Jalan akses lewat kompleks perumahan istana grup ditutup, ada pekerjaan pemasangan saluran septic tank kolektif tampaknya. Balik arah lewat jalur gunung batu saja, yang tumben sekali hari ini sepi dan lancar jaya sampai lampu merah sukawarna. Pasteur pun lengang, naik jalan layang menyenangkan, turunan cikapayang yang tidak bisa tidak padat pun bisa dilewati tanpa kesusahan, mendarat di lokasi dengan pasti.
Seperti biasa, magic biakbiak dengan cemilan ontbijtkoek untuk tenaga melahap kisah dracula di terangnya pagi jam sembilan kurang. Kehadiran itu pengalihan dan kebersamaan itu ketagihan, dimakan sendiri oleh ketidak tahanan berbagi situasi kepada kakak di jakarta lewat foto kopi dan komentar tidak penting. Tapi dibutuhkan. Selewat satu babak, melihat beberapa kenalan lewat dan beberapa teman mendekat. Teman lama yang terlalu lama tidak terhubung, kaget dengan kedatangan namun tidak heran karena memang sedang mematikan nomor kontak yang biasanya digunakan. Katanya sudah mengabari tapi tiada respon, iyalah… dimatikan. Hehe… 
Berdua mereka dan salah satunya yang pernah bersimpan kisah sekilas namun ternyata cukup dalam pengaruhnya. Terlibat obrolan panjang yang semakin memanjang dengan kedatangan satu kawan senior yang meramaikan obrolan. Entahlah dengan materinya karena fokus pada kesadaran, cukup merasa puas dengan keluasan cakupan kesadaran hari ini dalam obrolan. Pengendalian yang pas, ah seandainya kesadaran ini bertahan seterusnya setiap obrolan kemudian. Hmmm… latihan. Lumayan, lebih enam jam pertemuan yang ternyata menyegarkan. Memang, penyangkalan akan kehadiran dan kebersamaan ditelan bulat-bulat hari ini. Untungnya tidak tersedak tapi malah lepas lega dan merasa bebas. Di sinilah muncul tantangan seperti biasa, overthinking yang menimbang-nimbang. Tapi jadi teringat kalau overthingking itu tidak ada, yang ada hanyalah kurang luasnya memandang dan berpikir. Karena kalau sudah luas, tidak akan berputar-putar dan berhenti melainkan membuat keputusan. Penemuan dari obrolan, bahwa pembatasan tidak melulu dari kebiasaan, pengetahuan, keyakinan, melainkan terutama dari pengaruh orang-orang di lingkaran dalam.
Ada hal yang perlu dilanjutkan namun tidak sekarang, tidak sore ini, tidak malam ini, mungkin kemudian entahlah yang penting perlu meredakan euforia pelepasan terlebih dahulu. Perjalanan pulang pun lengang, hujan belum datang, sampai kandang numpang dengan cukup senang. Sampai menyadari kalau ternyata sore ini pun masih ramai karena semuanya tidak mengikuti perayaan malam natal, diluar dugaan bahwa situasi akan sepi. Baiklah maka memutuskan untuk segera mandi, mengambil makanan, dan duduk di kursi depan memandang tanaman yang terselimuti kegelapan. Kenangan duduk bersama di setahun lalu tidak terlalu mengganggu sekarang, mungkin karena energi pertemuan tadi yang cukup mendukung diri menghadapi ingatan dan harapan. Sederhana ternyata, sadari saja sifat alamiah diri dan mengendalikannya bukan dengan penguasaan melainkan dengan keluasan pandangan dan pemikiran untuk membuat keputusan. Keputusannya, membuka ruang untuk kembali menantang diri di area yang selama ini dihindari namun dikehendaki secara naluri. Masukan langkah pertama, mulai bersiap perhitungan, dan nikmati tantangannya dalam naungan kesepakatan dan kesadaran.
Terlintas lagi, bahwa semuanya adalah persoalan mengungkapkan. Kadang bisa memimpin kadang bisa mengikuti yang penting mengungkapkan dengan orientasi membuat kesepakatan, resiprokal itu memang menyenangkan kalau dilakukan dengan tujuan bersama. Tidak perlu besar, sesederhana kehadiran yang berbagi aroma dan berselaras napas saja. Setiap harinya, intensi khusus dan atensi penuh. Tidak kalah dengan makanan dan ajakan untuk makan. Atau cemilan dan ketagihan pendupaan pengusiran setan sisa makanan. Seratus dua puluh menit melepaskan pemikiran dan mengajak serta mengingatkan melepas pemikiran, dengan cara menenangkan. Tidak perlu metoda, niat saja cukup membuka langkah dan mengarahkan intensi dan atensi dengan selayaknya. Dengan demikian hal yang menenangkan hadir dengan sebegitunya saja sih. Ternyata memang persoalan komunikasi. Jadi selama ini tertahan di mana? Di satu tertahan membuat yang lain menahan dan yang mendapat respon penahanan jadilah kecanggungan yang membosankan. Perlu satu yang meledakkan dan tidak sekali dua kali tiga kali, tapi konsisten berkali-kali. Itulah fondasi ekspektasi dari relasi. Kalau interaksi, sesederhana kesepakatan mutualisme saja dan pertukaran manfaat sesuai kesepakatan. Jadi, interaksi atau relasi. Lagi-lagi perlu pengungkapan kan. Karena diam, tidak menghadirkan kejelasan malah kesesatan yang semakin dalam dan penundaan akan keruntuhan yang sudah niscaya. Aih, lama. Sekarang saja!

Monday, December 23, 2019

Keseharusnyaan 3/16

Dua puluh tiga desember dua ribu sembilan belas. Bangun dengan posisi energi plus satu, walaupun tergoda untuk meminuskannya karena memori akan rasa bersama begitu kuat dan imaji yang terlalu lekat. Kekuatan niat perlu disandingkan dengan pengetahuan untuk mendapatkan pengendalian diri, mungkin ini salah satu penerapan being human is to know what I know. Menggunakan pengetahuan untuk merealiasikan harapan ke depan, bukan menjadikan alasan untuk mengulang-ulang ke-seenaknya-an. Sebagai tipe generator menurut pendekatan human design jadi diingatkan untuk meminimalisir penyangkalan, bahwa diri ini merespon situasi baik lingkungan maupun orang lain. Pentingnya imajinasi ya di sini sepertinya, membuat lingkungan dan orang lain itu di dalam tataran imaji karena otak tidak pernah tahu mana yang nyata mana yang ilusi yang penting dipercaya maka itulah kebenarannnya. Mengingat-ingat mimpi semalam, hanya satu suasana yang teringat yaitu kebersamaan yang porsi menenangkan dan menyenangkannya pas. Ada beberapa sosok yang rasanya familiar tapi entah siapa, lupa.
Ekspektasi awal pagi ini adalah bertengger di kedai kopi biasanya, di sudut dekat pagar pinggir jalan sambil bercumbu dengan matahari. Tapi tidak jadi karena badan masih terasa berat karena penyesuaian tegangan tinggi ke tegangan yang lebih tinggi lagi di minggu liburan ini, jadi memilih ngopi di kandang saja dengan harapan bisa tenang. Tapi seperti biasa, pagi tenang yang diharapkan selalu tidak pernah terwujud dengan kesibukan di kandang tempat menumpang ini. Suara mesin air, suara kucuran air, suara cucian, obrolan, perdebatan akan hal kecil, dan terlalu banyak definisi akan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya cukup jalani saja toh masih pagi. Untungnya tidak perlu bersiap mengisi peran kerjawan hari ini, maka menunggu dengan sumpalan lagu di telinga jadi pilihan bijaksana. Hwaaa… dari dahulu memang persoalan ruang jadi kendala. Sepertinya yang menenangkan diri adalah ruang luas yang ada dalam jangkauan pengendalian, seperti aula yang terjangkau mata dengan beberapa barang esensial saja biar tidak berisik telinga dan mata. 
Lewat waktunya mengisi baterai dengan badan sudah terasa ringan dan mata tidak dapat lagi terpejam, keriuhan masih berlanjut tapi kelamaan kalau masih menunggu jadi hajar saja lah. Turun dengan sigap dan membuat telur ceplok dengan meminta orang-orang keluar dari area masak untuk beberapa saat. Kehadiran yang tidak dikehendaki adalah beban, rebutan oksigen soalnya dan belum lagi kalau terlalu banyak keseharusnyaan tambahan. Dari dalam diri saja sudah cukup lah keseharusnyaan ini, buktinya banyak orang yang pergi setelah melihat aslinya pribadi yang sedang dalam proses menyeimbangkan diri ini. Keseimbangan kan bukan berarti tidak ada daya, justru semakin banyak daya semakin seimbang karena semuanya akan menihilkan. Kalau belum seimbang berarti belum cukup daya yang menimpa diri, masih perlu menambah pembelajaran bisa jadi. Telur pun jadi dengan sempurna, tumben. Taburan garam himalaya di atas nasi panas jadi temannya, indah seperti sang pemberi garam himalaya ini dahulu. Teh lokalan jadi seduhan, bosan juga dengan kopi disamping terlalu riuh untuk melaksanakan ritual membuat kopi secara memuaskan. Seadanya saja lah pagi ini, yang penting suasana hati tenang karena kalau goyang tidak ada penyaluran sehat yang menenangkan.
Berangsur mulai sepi, barulah merasakan diri sendiri. Dengan kesebalan memori dan imaji muncul tak terkendali, akhirnya berseluncur di dunia internet saja lah mengonsumsi informasi. Lagi-lagi. Namun kali ini membatasi diri hingga tengah hari untuk melanjutkan membereskan bacaan dracula yang sudah setahun belum tuntas. Bacaan yang jadi teman saat aroma kehilangan mulai tercium di awal-awal, yang sampai saat ini aroma itu sudah tidak ada lagi karena memang sudah benaran hilang pun bacaannya belum selesai. Rencana awal adalah membaca di kedai kopi biasa dengan teman teh kesukaan. Kenyataannya, terdampar di tempat kabur biasa karena melihat tempat kopi itu terlalu padat manusia dan kondisi mental sedang dalam suasana kehilangan tameng untuk berebutan oksigen dengan banyak orang. Daripada tewas diam-diam lebih baik menyelamatkan diri dengan kembali kepada kebiasaan lama, duh… yang dibenci yang dilakukan sendiri karena tidak memiliki apa lagi selain yang diketahui saja. Yasudahlah, bereskan dulu satu babak buku dracula ini sambil meminum seduhan teh pabrikan beraroma melati seadanya.
Bosan setelah dua jam, memutuskan pindah ke kedai kopi langganan awal si tulang hitam. Yang katanya sudah berganti nama dan semakin terkenal, benar saja karena tempat yang biasanya lengang itu kini padat dengan kehadiran. Jadi ingat perkataan teman bahwa sebelah kantornya ada kedai kopi kecil yang biasanya sepi, akhirnya mendarat di lokasi itu. Benar, sepi. Terlalu sepi. Pesan kopi, numpang toilet, mencecap magic dengan arabika garut yang rasanya biasa. Malahan sepertinya seduhan di kandang dengan susu bubuk lebih mantap, ah ini kan selera saja. Hal menarik dari kopi bersajak biru ini adalah dekorasinya yang asik, juga gelasnya yang unik. Ditemani kawan yang baru keluar kantornya, terdiam. Sepi menarik kenangan, liburan yang bernuansa kehilangan tahun ini. Tahun lalu nuansanya pencarian jalan tengah yang menenangkan. Dua tahun lalu nuansanya bromo dan malang. Tiga tahun lalu nuansanya usaha jualan kopi di simpang dago. Empat tahun lalu nuansanya mengakui kerentanan diri. Wah, cepat juga waktu menghilang. Tak perlu dipikirkan kata si kawan, bawa saja semuanya dalam menjalani saat ini. Seperti kisahnya yang sudah enam tahun bertahan dalam perjuangan akan persinggahan untuk menemukan ruang pulang semacam rumah. Jadi terlintas untuk melanjutkan rencana awal mencari kontrakan, di daerah tempat kedai kopi ini berada tampaknya menarik.
Nostalgia melelahkan perlu diakhiri sebelum adzan maghrib berkumandang. Angkat pantat, bayar minuman, tunggangi kesayangan, lanjut menembus kemacetan. Jalur lama yang tidak dilewati kini dilewati lagi, biarlah nostalgia lagi hanya kali ini penuh perjuangan beradaptasi dengan kemacetan jalanan dan keliaran pengendara skuter metik. We are what we ride, indeed. Kesadaran proses, kenangan nostalgia, pemahaman akan pola, dan usaha menerima terutama kebodohan diri, berlangsung sepanjang jalan layang perbatasan kota macet se-indonesia ini ke arah kota hijau yang bukan karena tumbuhan tapi karena seragam. Banyak hal yang salah sebagai pemula dalam kerentanan berelasi terulang-ulang kembali di ingatan, semacam belajar di saat sedang berkendara. Tidak mengapa karena selalu seperti ini proses mendapatkan inspirasi bagi si penyangkal ini. Mungkin selanjutnya akan lebih dewasa menyesuaikan dengan usia, karena kemarin adalah yang pertama dan perdana. Harapan. Muncul harapan. Ah, oke tidak baik untuk terlalu menyangkal. Jadi terima saja bahwa ada harapan, ada penyangkalan, ada juga kesadaran, muncul bersamaan pas membelokan sepeda motor ini masuk ke komplek kandang tempat numpang.
Keramaian membawa diri duduk di kursi depan sambil makan malam, kursi yang di tahun lalu dan mungkin saja di tanggal yang sama ada sosok yang berusaha diperjuangkan. Walaupun dengan cara kekanakan yang banyak marah-marahnya karena baru pertama kali, mau mengusahakan jalan tengah yang menenangkan sampai belakangan baru tahu kalau usaha itu dipahami sebagai terlalu menahan diri dan tidak menampilkan keinginan memperjuangkan. Yah… yang selanjutnya lah lebih seimbang, antara mengusahakan dan menampilkan. Tapi saat ini, biarkan saja nostalgia meraja. Sesak juga rasanya, antara kekenyangan karena terlalu banyak mengambil porsi makanan ini dengan kesebalan karena terlalu banyak terlintas kenangan dan evaluasi akan terlalu banyak langkah salah pemula yang kecil namun sangat mengganjal. Membiarkan kesepian merasuk kembali setelah setahun ditinggalkan, untungnya itu masih setia kembali. Bagaimana tidak, berpuluh tahun menghinggapi. Tapi tetap saja, perlu penyesuaian walaupun jeda setahun itu sebentar dibandingkan kebersamaan berpuluh tahun. Bikin malas akhirnya terdampar di pulau kapuk dengan gundah yang hening, terlalu hening.
Tidak bisa tidur dong. Ambil peralatan ritual kopi untuk membalas rasa tidak puas akan kopi di kedai sore tadi, mumpung sepi. Sekalian uji coba distilasi vinegar yang tidak sengaja terbuat karena kelupaan proses menyaring saat dua tahun lalu mencoba membuat wine buah. Bersamaan, ya bersamaan walaupun multitasking itu ilusi tapi nyambi itu realita. Gimana aja yang bilang menunggu tapi sambil mengisinya dengan yang lain. Itu ilusi karena tidak menunggu kan, kalau menunggu ya tidak perlu mengisinya dengan yang lain. Kalau mengisi dengan yang lain, itu sih namanya nyambi. Dapet syukuri, gak dapet sukurin, kalau bosan ya tinggalin. Demm!! Oke lanjut, ternyata distilasi menggunakan mokapot itu gagal. Yasudah, paling tidak seduhan latte kopi brazil dengan susu bubuk full cream nya enak. Cuci-cuci bereskan semuanya, sambil menyeruput kopi susu sambil menuliskan kisah keseharusnyaan hari ketiga ini. Malam ini coba niatin mengingat mimpi lagi ah… seperti biasa, selalu mulai dari awal lagi dengan periode yang semakin berkurang dan angka yang semakin bertambah.

Keseharusnyaan 2/16

Dua puluh dua desember dua ribu sembilan belas. Membuka mata pagi hari dengan lumayan lega, karena tidak ada rasa perlu masuk bekerja dan mulai masuk fase jeda. Energi berhasil masuk kepada plus satu, karena mengondisikan pikiran dengan metoda niat melampaui pemikiran. Tapi badan masih terasa cukup lelah, mungkin penyesuaian tidur tidak efektif di dua bulan belakangan karena pikiran penuh dengan keseharusnyaan. Membuat telur dadar dengan metoda katel panas minyak sedikit, sudah lama tidak membuat yang seperti ini. Menyeduh kopi ciwidey blue diamond yang katanya jarang dengan air yang usai dijerang, sudah lama juga tidak membuat yang seperti ini. Rasanya cukup puas namun belum puas, ada totalitas yang tidak tersalurkan karena kemampuan konsentrasi yang rendah. Fokus pun masih hilang-hilangan, belum lagi isi pikiran dengan pemikiran akan rasa sakit dibuang ditinggalkan diam-diam. Secara pengertian, mengerti memang ini semua adalah keseimbangan dan sebab akibat saja. Secara rasa, merasa sedih marah rindu sayang benci tidak rela juga sekaligus membuang.
Selesai sarapan badan ingin rebahan tapi tidak tenang, karena keceriaan yang hadir tidak tepat waktu sama seperti penyerahan diri yang diberikan kepada orang yang tidak tepat. Selalu salah ruang, jadi teringat kalau memang kemampuan yang jarang digunakan adalah membentuk ruang. Syaratnya konsentrasi terjaga tanpa pengalihan dan fokus tajam tanpa keraguan. Melihat informasi di media sosial internet sampai melihat narasi dari aplikasi the pattern sampai kekenyangan informasi, tiada yang tercerna baik badan pun semakin lelah. Akhirnya memutuskan untuk pindah ruang, pilihan seperti biasa hanya ada dua antara kedai kopi langganan atau oasis di tengah kompleks tinggal kaum biarawan. Tapi sebelumnya, jajan juga odading dan gorengan yang membuat perut kepenuhan. Kemudian datang martabak manis yang semakin membuktikan bahwa hasrat ragawi berdasarkan memori masih mendominasi. Mental konsumen. Mungkin penyangkalan melalui puasa untuk mengatasi hal paling mendasar ini, agar saat naik kepada cakra sakral yang muncul adalah pengendalian diri menggunakan hasrat bukan penaklukan diri oleh pemuasan hasrat.
Pilihan dibuat berdasarkan kecenderungan kebiasaan yaitu ke ruang kabur biasanya, oasis di tengah kota termacet se-indonesia. Dalam perjalanan ada keberhasilan kecil, mentransformasi emosi menjadi mantra ringan pelepasan alih-alih marah memukul spion mobil orang yang berhenti sembarangan menghalangi jalan. Mantranya, "Yang menghalangi akan dihalangi, yang terhalangi akan menghalangi, perhitungkan saja untuk menghindari halangan." Siang hari mencapai lokasi, situasi sepi dengan satu kenalan yang terlihat, ternyata ada dua kenalan lama senior yang seperti biasanya datang menenangkan diri juga. Masing-masing sibuk masing-masing, sepi yang ditemani seperti ini yang ternyata memang menenangkan. Cukup ada saja, sebagai teman. Tidak perlu kebanyakan namun tidak benar-benar sendirian juga, maksimal tiga orang memang. Kalau yang lebih dari teman, rasanya memang tidak bisa tidak berpelukan dan selalu ingin melekat erat dan hanya lepas kalau hendak mengambil napas. Seperti berenang, satu atau nol seluruhnya tidak ada di tengah karena basah tidak bisa setengah-setengah. Kena air ya basah, tidak ada kurang basah tidak ada lebih basah hanya ada basah atau tidak basah. Seperti kedatangan junior yang bisa diceburi kalau ingin basah, tapi karena tidak ingin basah tidak boleh setengah maka tidak menceburkan diri padanya. Seperti biasa, duduk dengan kegiatan masing-masing dalam kesendirian yang ditemani.
Lagi-lagi kebiasaan mengonsumsi mendominasi, membeli pepes ayam dan es campur untuk makan padahal perut masih kenyang. Mungkin belum kekenyangan maka belum berhenti, seperti mungkin karena merasa ada kesempatan lain makanya memutuskan tidak bertahan dalam perjuangan. Melupakan kapasitas pencernaan dan waktu yang diperlukan untuk berproses, melupakan usia yang semakin tipis dan angka yang semakin bertambah sebagai pengingatan yang selalu diabaikan. Memento mori. Kemudian hujan dan mengisinya dengan bacaan, mulai dari dracula hingga artikel internet kemana-mana. Menyenangkan, namun kurang menenangkan. Memang ada kursi panjang untuk rebahan baik tengkurap telentang sampai menyamping dan meregangkan badan, namun tanpa pelukan rasanya kurang. Bertahun mampu bertahan setahun kurang dibongkar dengan mudah, setelah itu ditinggalkan tanpa persiapan rasanya seperti kalah perang tanpa sempat berperang. Kalau begitu untuk apa menabuh genderang, kesucian malah jadi kebohongan. Sambil membaca buku agama asli suku nias dan seperti biasa inspirasi muncul dari bacaan, seperti kunci membuka penggambaran yang sulit dibahasakan namun perlu dibahasakan karena dengan demikian pengertian menjadi pemahaman. Kalau tidak dibahasakan, ya halusinasi.
Pengertian hadir dari perhatian, demikianlah kehausan ini membuat gerak badan kurang terkondisikan. Bolak balik mencari posisi, sampai peregangan otot belakang dengan posisi yoga di depan beberapa orang. Jelas akan menimbulkan kesalah pahaman, karena pemahaman bukan orang terdekat berdasarkan mentalitas selektif bukan adaptif. Bedanya, yang selektif akan dengan mudah berseloroh apa sih dengan ekspresi yang memang benar merendahkan. Sedangkan yang adaptif akan berseloroh geje kan dengan ekspresi menerima dan mengingatkan dengan lembut untuk melampaui kebiasaan. Jadi ingat perumpamaan, semua ingin perubahan, setengahnya yang mampu mengubah, hanya satu yang benar berubah. Mental selektif ingin perubahan, mental adaptif berkehendak berubah. Yang mampu mengubah, mental jamak sih bukankah semua orang begitu ramai mengubah-ubah dan berubah-ubah ya.
Demikian sampai akhir hujan dan hujan lagi, selesai hujan bersiap pulang, hujan lagi malahan. Tidak larut sore hujan berhenti dan sebelum pulang sempat terlibat perbincangan mengenai perjalanan luar kota menggunakan sepeda motor. Tujuan untuk berjuang dan alasan untuk bertahan banget ini. Jadi ingat, makhluk hidup didesain untuk aktif mencari makna dan hanya manusia yang mampu membuat alasan untuk memberi makna melalui kepasifan. Wajar saja banyak penyakit muncul di badan makin berkuasa badan buatan bernama lembaga kesehatan, makin pasif orang-orang mengonsumsi makin aktif segelintir berkuasa dan mengendalikan. Wow, apakah perlu mencoba perjalanan jauh dengan sepeda motor sendirian. Sangat menakutkan, untuk berkendara berdua saja sudah sangat keluar zona nyaman apalagi sendirian. Atau jangan-jangan keberduaan itu yang memberi tujuan untuk berjuang dan alasan untuk bertahan. Yah, jebakan fisiologis manusia adalah makhluk individu sekaligus sosial. In-dividuus, not-divisible. Hmmm… Akhirnya berkendara pulang kandang melewati jalur yang lama tidak dilewati untuk mendapati sensasi ngeri namun punya harapan, yak rasa ini! Perjuangan itu tidak perlu hebat ternyata, sederhana dan sangat sederhana. Sesederhana kesadaran bahwa sepuluh ribu alasan untuk mencinta adalah sepuluh ribu alasan yang sama untuk membenci, dan intinya bukan alasan-alasan itu melainkan sesuatu yang hendak digambarkan oleh sepuluh ribu definisi itu.
Sebelum terlelap, mengetik merampungkan tumpahan hari pertama yang terlewat dan tidak sempat. Perlu dibahasakan perlu diungkapkan perlu dikatakan, agar tidak terjebak pengulangan dan ketidak sadaran akan kesadaran. Seusai menuntaskan satu langkah pengungkapan kebenaran bahwa diri terjebak delusi, sedikit menonton si manusia laba-laba yang jauh dari rumah dan terjebak ilusi dalam kerangka one who cannot command, must obey yang sangat jelas. Yang tidak bisa memimpin pastilah mengikuti, baik mengikuti pemimpin terdekat atau mengikuti definisi lain yang dibuat pemimpin lain yang jelas mengikuti karena tidak bisa memimpin. Tidak mampu memanfaatkan cakra kreasi di tenggorokan untuk mengubah gagasan menjadi firman yang mewujud, akhirnya menelan kegundahan dengan bantuan makanan-makanan kekinian yang terus menerus ditelan. Pencernaan urusan belakangan karena persoalan selangkangan bisa minta bantuan orang di saat ada kesempatan untuk saling silang selangkang lalu hilang bersamaan dengan penyangkalan. Sebelum terpejam mata, pengingatan hadir dalam satu frasa sederhana yang terngiang. Mengingat mimpi semalam sangat penting untuk mengambil alih kendali diri dari kebiasaan lama. Okelah besok pagi dicoba…

Keseharusnyaan 1/16

Dua puluh satu desember dua ribu sembilan belas. Memulai hari dengan minus satu, karena tidak tahan dengan emosi dan hasrat yang begitu menggebu. Kenangan akan aktivitas intim yang pernah dilalui begitu lekatnya, hingga keinginan untuk mengalaminya begitu tidak tertahan. Bersamaan dengan rasa kecewa pada diri sendiri akan kesalahan perilaku yang membuat relasi kemarin runtuh. Setelah minus satu, tidak ada efek dopamin yang menenangkan malahan kelelahan. Bolak-balik kasur untuk tidur tapi tidak bisa karena suasana memang liburan dan keceriaan yang datang di waktu yang kurang pas lumayan mengganggu. Akhirnya memutuskan untuk keluar, mungkin akan ke kedai kopi untuk duduk dan mendengarkan siaran kuliah Jordan Peterson. Namun berakhir di tempat kabur biasa yang kebetulan sepi dan menyenangkan, maka membeli bali hai diablo dengan muffin cokelat sebagai teman.
Kenangan-kenangan membangkitkan kemarahan, sambil mengunduh anime menggerutu di twitter mengenai diri sendiri. Kemarahan akan kebodohan diri, jadi mengerti soal memaafkan diri. Untunglah kemarahan ini bukan yang perlu dimaafkan karena menyalahkan diri sendiri, melainkan bentuk analisis yang perlu disalurkan. Tidak menahan, tidak menyangkal, tidak menenang-nenangkan, meledakannya saja dengan perkataan. Ya, semakin banyak penjelasan semakin banyak kesalah pahaman. Namun, kita hanya melakukan hal yang kita ketahui saja kan. Maka, meracau lah menyerang imaji yang dibentuk oleh memori di dalam benak sendiri sebagai respon atas pengalaman yang telah dialami. Entah refleksi entah proyeksi, dengan kesadaran ini menjadi mengerti bahwa menjadi manusia itu memang perihal mengetahui apa yang diketahui.
Kemudian menjadikannya, seperti motto tempat kerja sekarang ini. Nyaho can tangtu ngarti, ngarti can tangtu bisa, bisa can tangtu tuman, tuman can tangtu ngajadi. Langkah pertama memang mengetahui apa yang kuketahui, kedua adalah mengetahui apa yang tidak kuketahui, dan situasi yang perlu disadari adalah ketidak tahuan akan hal yang tidak kuketahui. Dengan demikian proses ngajadi bisa jadi adalah mengetahui apa yang kuketahui, dan pengetahuan pertamanya adalah mengenai pengetahuan akan tiga level pengetahuan yang barusan disebutkan. Berarti mengetahui apa yang diketahui bisa jadi adalah menjadikannya penuh sampai taraf optimal. Menjadi manusia adalah menjadi manusia optimal semaksimal kemampuan imajinasi diri membentuk visi diri. Potensi tidak terbatas yang perlu diraih dengan membatas-batasi.
Lewat tengah hari, sepi berangsur pergi seiring kedatangan orang-orang yang hendak berteduh dari keramaian kota yang semakin keluar batas toleransi keberisikan. Ada janji sore ini untuk mengambil pesanan buku mengenai nias, walau baru mendapat mengenai agama asli yang bertendensi kristenisasi tak mengapa lah. Berangkat dengan mengukur waktu agar tepat sampai di lokasi, meminimalisir menunggu karena dalam benak adalah efisiensi tanpa banyak basa-basi. Apalagi lokasi pertemuan ada acara bedah buku dan diri sedang merasa tidak bersemangat untuk terlibat. Walaupun di dalam benak terlintas bisa saja ada peluang kecil yang berlanjut pada potensi relasi, terima saja lah apa adanya toh pengalaman sebelumnya sudah banyak membuka imaji pola situasi seperti ini.
Sampai lokasi pertemuan bersamaan dengan kedatangan penjual buku jadul kenamaan dan suasana masih sepi. Basa-basi, transaksi, beli buku tambahan mengenai intisari filsafat india, basa-basi lagi, langsung beranjak pergi dengan alasan menghindari kehujanan, memang suara gelegar petir sudah terdenger susul menyusul di langit. Perjalanan beranjak dari lokasi ini rasanya seperti perjalanan menuju lokasi ini, nostalgia dua ribu sepuluh dan dua ribu tiga belas saat masih di karitatif bandung. Suryalaya memang jadi daerah yang familiar waktu itu, juga lokasi pertemuan itu ada di jalur mobilisasi personil bangunan cemerlang kalau mengadakan pelatihan dan terakhir waktu menyambut tim kasih merespon banjir di bandung. Yah, nostalgia lah ya seperti begitulah rasanya.
Rencana awal hendak membaca buku di kedai kopi langganan, tapi selain alasan menghindari hujan pun pencernaan rasanya tidak nyaman oleh rasa penuh di lambung dan migren di kepala. Akhirnya memutuskan pulang melalui jalur tercepat yang biasanya yaitu jembatan layang, tidak heran dengan kemacetan karena memang waktunya dan memang budayanya demikian sekarang ini. Cukup tergesa namun perhitunganlah cara membawa sepeda motor belakangan ini, seperti kembali ke masa muda namun dengan kesadaran bahwa kemampuan tidak sama dan suasana pun tidak sama. Maka tetap terjaga dan waspada, benar memang lebih baik menghindari daripada kerepotan menanggapi. Emosionalitas yang perlu selalu diolah, lalu teringat bahwa proses pengolahan emosi yang tidak seiring se-amplitudo ini lah yang meruntuhkan bangunan relasi kemarin. Sampai di rumah, malas mandi jadi hanya cuci-cuci, berusaha membuang hasil pencernaan tapi belum waktunya tak bisa dipaksa, akhirnya bermain dengan macbook saja. Menonton beberapa episode yang diminati.
Gerah, memutuskan mandi. Menyudahi aktivitas hari ini dengan merasa ada yang perlu dilewati dari diri, terutama mengenai batasan zona nyaman yang mengekang. Melemparkan badan pada kasur setelah membersihkan diri dan bersiap tidur, menjauhkan ponsel dan memejamkan mata. Mencoba menarik konsentrasi pada diri, namun karena terlalu lama tidak melatih pikiran masih saja kenangan-kenangan beterbangan bergabungan. Kembali pada napas dan berserah saja, tidak sempat menulis jurnal harian di hari pertama ini rencananya besok pagi. Frasa penting hari ini, diriku sendiri sudah cukup untuk diriku sendiri. Tapi ingat, kutipan bukanlah intinya melainkan pemicu. Konteks adalah segalanya. Sadar.

Thursday, March 1, 2018

Begitulah Rasa Kalian

Begitulah kalian.
Para pemuja rasa.
Terlalu memuja hingga tak lagi merasa.
Rasa rasa rasa.
Rasa apa entahlah, yang penting rasa.

Begitulah kalian.
Melabeli kami para pemuja logika dengan hina.
Terlalu logika kurang merasa.
Kurang kurang kurang.
Bahkan kurang itu jadi berlebihan, tapi tak kalian rasa.

Bagaimana ada logika tanpa rasa.
Bukankah logika adalah cara merasai rasa.
Apa yang dilogikakan tanpa rasa.
Para pemuja logika adalah perasa sesungguhnya.

Begitulah kalian.
Karena ketidak mampuan melogiskan perasaan, berpegang erat pada rasa.
Padahal tak merasa.
Hanya memenuhi konsensus massa.
Heteronormativisme.

Yang merasa akan memuja logika.
Yang tak merasa akan memuja rasa.
Bukankah kita mengagungkan hal yang tidak mampu kita rengkuh.
Karena kalau mampu merengkuh, akan melampaui pengagungan dan menjadi lautan nan tenang.
Bukan kolam dangkal beriak.

Yang melogiskan, butuh merasakan.
Yang tidak melogiskan, jelas tak merasa.
Yang tak merasa akan memuja rasa.