Tuesday, December 31, 2019

Keseharusnyaan 10/16

Tiga puluh desember dua ribu sembilan belas. Membuka hari dengan minus satu energi kemudian membuat sarapan dan sambil menunggu lalulintas dapur mereda chin up dulu sepuluh kali lah ya, peregangan hamstring untuk meredakan emosi hasil persepsi dan keseharusnyaan alias ekspektasi pagi yang tenang. Ada pizza sisa semalam yang nampaknya menarik untuk dipanaskan bersama telur dadar maka jadilah demikian, aroma menarik seperti tarikan untuk mengirimkan fotonya kepada pemilik gelombang laut dan dua matahari cokelat terang itu. Suasana yang lumayan mulai tenang seiring berangkatnya yang kebanyakan untuk pemeriksaan kesehatan dan tersisa satu sang pemaksa berkuasa dengan lalu lintas panjat tangga dan permainan airnya, selalu berusaha menertibkan membersihkan dan mengaturkan segalanya bukan untuk siapa atau apa hanya untuk memenuhi otomatisme dalam diri saja yang sangat wajar karena demikianlah kebijaksanaan penuaan manusia.
Kemenyerahan itu keniscayaan dan karena keberisikan mereda akhirnya kekuatan hadir untuk bertahan, melewati pagi dengan menonton video yang belum sempat dilaksanakan semalam. Memang kadang tidak tahan dengan suara lalu lintas pemaksaan pemanjatan tangga dan pembersihan berulang-ulang, setidaknya hanya satu yang dihadapi dan bisa disalurkan dengan berpindah ruang sementara membuat cemilan yang ternyata kebanyakan. Lanjut mengonsumsi informasi dan gula kebanyakan jadinya pagi ini, sampai terkantuk-kantuk dan rebahan jadinya namun tidak lama karena lalu lintas pemaksaan itu terjadi lagi dalam pola pengulangannya. Merasa tanggung untuk tidur tak bisa dan berisik yang tanggung juga rasanya, mari tambahkan dengan aktivitas bersih-bersih juga yaitu membersihkan sepatu kulit yang akan dipakai esok hari dengan memberikannya pelembab dan pelindung sampai sekalian sepatu lain yang tersimpan pun dipoles karena tanggung dan tidak nyaman maka sekaliankan saja semuanya berbarengan. Penyaluran.
Keramaian mulai datang pertanda perlu segera pindah ruang demikianlah bersihkan badan dan persiapkan kepergian, rencana akan menyeruput kopi di kedai biasa lalu lanjut ke tempat kabur kebiasaan. Lalu lintas padat membuat sedikit berputar melalui jalan kecil tidak rata yang malahan lebih cepat daripada kemacetan dari pribadi tolol yang berhenti di tengah jalan hendak belok kanan tapi menghalangi arus di lajur kiri dengan tidak peduli, bukan jahat namun tidak mampu karena bodoh saja soalnya tidak pernah ada orang jahat hanya ada orang bodoh karena yang pintar akan berbuat kebaikan dengan perhitungan alias kepedulian. Sampai di lokasi kedai kopi yang ramai sepadat lalu lintas tadi, memesan kopi dan duduk di tengah area luar yang biasanya dihindari namun tak apa sesekali menantang diri oleh what doesn’t kill us makes us stronger (and leave a scar) di bawah naungan awan mendung.
Bersua kenalan pemilik tempat makan traumatis yang mengalahkan komunikasi relasional dengan semangkuk panas karbohidrat dan protein berkuah, niatnya mengadu candaan kering namun karena liburan pemikiran tidak terlalu terasah jadi tidak ada materi yang kering untuk dilemparkan kemana-mana dan membuat pendengarnya sakit jiwa jadi tidak lama lah perbincangan kami. Semakin mendung dan semakin tipis kopi dalam cangkir membuat mata melirik kendaraan langit terang yang pemiliknya entah dimana, satu seruputan akhir membawa badan berpindah ruang mengambil sepeda motor berbincang kilat dengan penjaga dan mendapatkan informasi keberadaan yang tadi hendak ditemukan namun tidak bersua kemudian melesat ke tempat kabur kebiasaan.
Seperti biasa mendengarkan kuliah online beberapa sosok yang sedang menarik perhatian saat ini, sambil tiduran dengan menikmati kehadiran seorang kawan yang memang tidak banyak berbincang karena masing-masing sibuk masing-masing di ruang yang sama dengan intensi serupa jadi koneksi sendirian namun ditemani cukup lah untuk saat ini. Bukan seperti yang sebenarnya dimana ada relasi lebih intim dari frasa barusan tapi setidaknya pada taraf permukaan sudah cukup menenangkan, kalau yang memuaskan semoga bisa dipenuhi esok hari atau mungkin di akhir minggu sebelum masuk ke dalam kesibukan yang tidak berdampak banyak namun sangat melelahkan. Lewat sore menuju malam kembali ke kandang tempat menumpang dengan lalulintas padat biasa dan dingin udara yang cukup menyenangkan. Menuju terlelap terlibat perbincangan mulai dari materi penelitian yang ditanyakan kawan, kenalan baru yang sedang terendam hormon adrenalin dan dopamin, sampai perbincangan menukar jadwal janjian untuk terhubung dalam pertarungan elok kemudian. Lalu ketiduran, di esok paginya yang adalah sekarang dan sebelum terlupa mari mengingat bahwa mimpi dalam tidur barusan adalah mengendarai sepeda motor membonceng seorang ibu yang hendak diturunkan namun mendadak bilang jadi perlu berhati-hati pindah lajur kanan ke kiri di posisi yang ditunjuknya tapi jelas akan terlewat karena arus di sebelah kiri lumayan padat sepeda motor dan untuk belok tentu perlu sambil maju kan maka keduanya mengomel, standar.

Keseharusnyaan 9/16

Dua puluh sembilan desember dua ribu sembilan belas. Minggu pagi dengan sedikit keberisikan kebiasaan kalau hendak bepergian, menunggu sejenak untuk kehadiran pagi yang tenang ternyata tidak dapat karena jadwal keluar yang berbeda sehingga satu berangkat satu masih ada dan satu pulang satu baru berangkat. Akhirnya ritual kopi, mencoba espresso kopi jawa barat dengan profil filter dicampur susu dan cokelat untuk mengurangi rasa asam. Melihat ponsel ada kabar kawan yang kerja di thailand sedang mampir di tempat kabur kebiasaan, termotivasi juga untuk kesana maka bersiap-siap lah karena kandang menumpang ini sudah mulai dilanda keramaian lagi.
Lalu lintas lumayan sepi sehingga perjalanan lancar normal seperti lalu lintas sepuluh tahun lalu rasanya, mendarat di tempat kabur dan menemukan ruang kosong karena sepertinya semua sedang berbelanja dan cari makanan. Mengisi waktu dengan memutar video yutub mencari tahu kabar terbaru pertandingan tinju hari ini, lumayan seru ternyata menang TKO dengan pertarungan yang elok. Pada duduk sejenak ada kawan menghampiri, tiga pemudi yang baru kembali dari makan dan salah satunya baru saja berkenalan dengan tatapan yang sepertinya membuka ruang tindak lanjutan perbincangan kemudian.
Si kawan pun datang dan pembahasan pun berjalan terus-terusan, dengan minuman soda dan keripik kemasan hingga sore menjelang. Kepergian pemudi tadi jadi jeda oleh sedikit basa basi yang jadi hiburan, kemudian kedatangan satu kawan pun memberi jeda juga oleh ajakan membeli ponsel. Sudah lama juga tidak jalan kaki dan terpapar udara terpolusi pusat kota termacet seindonesia ini maka memutuskan untuk ikut menemani, lumayan juga menemukan pemandangan kepadatan manusia yang berbelanja. Penuh dengan mentalitas serupa yang tidak bisa tidak untuk di arus utama saat ini, kapitalisme itu mentalitas dan konsumerisme itu paradigma yang mau bagaimana lagi tidak bisa tidak karena konteks adalah segalanya. Dalam perjalanan pulang mampir membeli karet bermain.
Sudah malam dan malas pulang sehingga pindah tempat jadi pilihan, roti bakar dan kopi di kedai yang penuh dengan manusia menjadi ruang. Pembicaraan berlanjut seputar gaya hidup masa sekarang dan situasi masa lalu, seperti biasa pola pertemuan kawan lama ya seperti ini. Terlintas pemikiran apa sihyang lebih dari ini, sambil wasapan dan berbincang-bincang. Memang perlu diakui bahwa kesendirian namun ditemani pada dasarnya adalah hanya butuh merasa ada respon lingkungan minimal, karena kalau tidak ada ataupun juga berlebihan rasanya malah tidak nyaman. Memang banyak maunya, bahkan dengan penggambaran kasar sebenarnya hanya butuh kehadiran untuk diabaikan agar merasa berkuasa. Will to power yang sangat remeh namun ternyata sangat berpengaruh terhadap situasi emosi dan ujungnya menentukan pengambilan keputusan, emotional authority kalau kata pendekatan human design.
Sekitar sebelas malam akhirnya pulang melewati jalan lengang dan udara dingin yang menyenangkan, dengan tetap waspada karena ada dua malam yang hendak dipenuhi di hari kemudian. Sampai kandang membasuh diri, mengunyah lagi sedikit, memindahkan data film two popes dan beberapa video yang tadi siang didapatkan. Niatnya hendak menonton beberapa video ringan namun ada pembicaraan mengenai penelitian dan mata memang sudah berat tak tahan, beberapa menit lewat tengah malam akhirnya merebahkan diri. Yah, malam ini menutup hari dengan minus satu.

Sunday, December 29, 2019

Keseharusnyaan 8/16

Dua puluh delapan desember dua ribu sembilan belas. Seperti biasa berisiknya, ada saja pembahasan di tengah persiapan yang semacam intsruksi berupa saran atau penolakan berupa pertanyaan filosofis kenapa. Bayangkan, sedang beraktivitas bersiap berangkat diajak berfilsafat. Belum lagi yang sibuk dengan keotomatisannya untuk mengisi air, bersih-bersih lantai, mencuci, dengan menabrak semua batas ruang aktivitas jalan terseok-seok dan bekerja tak peduli ada orang atau tidak. Semuanya otomatis dan berisik, bahkan keberisikan yang dirasakan ini pun suatu keotomatisan respon akan situasi yang dipersepsikan sebagai keberisikan.

Tidak mengingat mimpi atau memang tidak ada mimpi semalam karena lelah berlari dari keadaan jadi lelap ketiduran. Menunggu semua berangkat dan hilang dari ruang berharap keberisikan berganti ketenangan, karena rencananya perlu bekerja untuk mencicil beban kemudian. Keramaian yang mereda diisi dengan seduhan kopi ciwidey dengan metoda tuang menggunakan kalita flat bottom saja. Pasang posisi di area lega, mengantisipasi bolak balik lalu lalang raga tua yang masih berhasrat berkuasa memaksa gerak naik turun tangga berusaha mengendalikan semua dalam ketertiban kerapihan dan kebersihan sambil melanggar batas ruang karena tidak peduli akan keberadaan orang. Menulis rekaman hari kemarin sebagai pembuka aktivitas.

Tak bertahan lama, karena ternyata yang memaksa mulai masuk lahan dan memanen pisang dengan ketidak mau tahuan dan tanpa pemberitahuan. Di tengah ketikan teriakan pun terdengar, angkat pisang bersamaan dengan lalu lalang orang di jalanan dan permintaan dadakan yang tidak jelas dilafalkan semuanya serba memanfaatkan dengan jalur memaksakan badan. Ah, dimana kebijaksanaan? Bukan pada kelakuan melainkan pada respon terhadap kelakuan. Bukan padanya melainkan padaku, sehingga dengan demikian tidak bijaksana lah melainkan bijaksini. Ini pun batal, oleh marah yang jadi daya verbal bukannya day mekanikal. Menggerutu sambil mengangkat dua puluhan kilogram pisang sambil mengingat perlu jaga badan untuk rencana pertempuran akhir tahun nanti, tentulah tidak efisien karena tiada ketenangan tiada kebijaksanaan malahan tendangan ke barang-barang.

Merampungkan ketikan kemudian lalu menemukan badan dan jemari penuh getah, berhenti untuk mandi akan lebih baik daripada membersihkan layar dan papan ketik leptop kan. Waktu pun ditabrak pemaksaan oleh belas kasihan. Menenangkan diri dengan mengambil posisi rebah, hujan turun pun merespon dengan mengangkat jemuran yang luar biasa banyaknya ternyata hari ini. Matahari muncul hilang muncul hilang dan terakhir muncul dengan benderang tanpa awan di langit, keluarkan jemuran dan susun seadanya agar mudah diambil kalau tiba-tiba hujan lalu kembali berposisi mengatur napas. Tidak butuh waktu lama sampai keotomatisan memaksa menguasai ketertiban memanjat tangga dan berjalan bolak balik terseok seok namun tetap memaksa, tidak puas karena tidak melakukan dengan tangan sendiri maka semua jemuran diaturnya kembali. Turun sebentar mungkin untuk buang air lalu naik lagi dengan menyeret kaki dan memaksa raga, sungguh ketidak bijaksanaan yang membangkitkan ketidak bijaksinian akhirnya memutuskan meninggalkan daripada tersiksa persepsi dan ekspektasi. Kekalahan diri oleh diri, memang. Menyalurkan dengan minus satu. 

Menuju lokasi kedai kopi kebiasaan melalui jalan yang padat di awal dan lengang kemudian, lumayan seratus tiga belas kilometer per jam rasanya menyenangkan walau hanya sekejap karena mulai padat di simpang perempatan. Singgah dan meletakkan si merah kesayangan, memesan teh dan cemilan sebagai tenaga untuk membaca tulisan human design dari teman yang katanya menggambarkan struktur personalitas diri ini. Usai hujan dan menuju hujan kelihatan dari basahan meja dan warna biru kelabu langit sekarang, tak apalah di luar saja meletakan pantat ini. Tidak lama, berpapasan dengan lautan bergelombang dengan sepasang matahari cekolatnya yang tersenyum manis sekilas dan rasanya menyenangkan sampai lupa bahwa tempat ini adalat pelarian. Lalu sadar, melanjutkan bacaan. Kudapan banana chocolate nya enak ternyata, teh pilihan ini pun enak, hanya kehadiran gerombolan berbincang yang merusak ketenangan. Bedanya, di kandang penuh ekspektasi oleh karena relasi sedangkan di sini hanyalah basa basi bebas ekspektasi walaupun sama sama berisik. Pindah dan tinggalkan saja, mendekat kepada pemilik awan gelombang bermatahari cokelat sepasang mencuri pandang sambil melanjutkan bacaan. Rintik hujan mulai turun, para berisik mulai pindah, nanti menyusul kalau sudah lebat hujannya lah.

Mulai bosan, pindah posisi yang tetap bisa memandang sosok ajaib tadi, menutup bacaan dan mencari gambaran. Vishnu. Dari semua pengetahuan dan penceritaan yang didapatkan belakangan, semua mengarah kepada simbolnya. Membereskan bawaan berkehendak pindah ruang, melihat kamar kecil terisi memutuskan nanti saja di tempat kabur kebiasaan, menuju kasir untuk membayar dan akhirnya kesempatan bertatapan dengan sepasang matahari cokelat itu. Menemukan ada jejak ketinggalan di sisi kiri batang langitnya, menarik dan membuat tertarik perasaan. Melepas lambaian dan menuju ruang kabur selanjutnya, parkir langsung kamar kecil, letakan barang dan ambil ponsel, konfirmasi jejak dan terafirmasi adalah milik, sambil tiduran wasapan menunggu reda kemacetan jalan dan keberisikan kandang numpang untuk melanjutkan perpindah pindahan ini. Tahun depan perlu kontrakan. Ruang ini begitu paradoks, ada saatnya begitu menemani tapi kali ini yang ada saatnya selalu seperti, begitu sepi menusuk kesadaran akan kesepian diri. Akhirnya balik kandang. 

Malam minggu yang penuh wasapan, rasanya ternyata cukup menenangkan ada kawan berbalas pemikiran walau tak bertatapan. Kurang tapi lumayan paling tidak imajinasi bersentuhan dan imaji terasa mengasyikan, dari perbincangan seksualitas sampai spiritualitas lagipula seksualitas itu sendiri adalah spiritualitas kan paling tidak sistem kepercayaan itu yang dipegang saat ini. Hingga larut dan ketiduran, sisa koneksi menjadi mimpi yang di subuh dini hari setengah terbangun oleh kegelisahan yang kemudian merespon dengan menempatkannya sesuai kebutuhan. Saat ini biarkan dulu bersenang senang sampai awal tahun baru kembali kepadada perjuangan, dengan kesadaran kalau semuanya sudah berbeda dan terima saja dengan jalankan sebaiknya semampunya sesehat sehatnya. Alur terus berjalan dan peran selalu terisi, pindahkan kesadaran ke depan oleh semua pengetahuan dan ketangguhan menunggu tenang. 

Saturday, December 28, 2019

Keseharusnyaan 7/16

Dua puluh tujuh desember dua ribu sembilan belas. Lupa mimpi semalam apa karena ini baru dituliskan setelah lewat sehari, padahal pagi harinya ingat. Yasudahlah, akhirnya mengucapkan yasudahlah yang sebenarnya adalah kata yang paling dibenci. Memulai hari dengan minus dua. Yasudahlah, ah kan. Dengan keramaian pagi seperti biasa yang kali ini lebih luar biasa karena padatnya penghuni kandang, menenangkan diri dan mengingat mimpi dengan jelas tapi luput menuliskannya sehingga lupa seiring dengan pantat terangkat dari kasur. Membiarkan keramaian bertubi-tubi berharap berlalu karena selalu ada waktunya untuk berakhir akan sesuatu yang mulai, benarlah berakhir keramaian itu terganti dengan bolak-balik kebiasaan puluhan tahun yang melekat terangkat oleh ketidak sadaran dan ketiadaan kebijaksanaan raga tua. Manjat tangga, bekerja dengan air, memaksa diri melakukan semuanya, hasrat mengendalikan yang tampak begitu kental. Tentu saja dari sudut mata diri yang usianya setengahnya, namun bukankah kebenaran sejati itu tidak diketahui dan kalau yang diketahui adalah kebenaran persepsi alias pembenaran.
Meledaklah walau tidak lepas karena jelas perlawanan yang hadir tidak akan indah, ego bertemu ego tanpa kesadaran intelejensia dan kebijaksanaan ketidak-tahuan diri hanya akan terjadi verbal argumentasi sporadis terdispersi. Akhirnya kadung membuat berisik suasana saja dengan musik keras dan bekerja keras mengisi perencanaan dalam bentuk formulir yang sudah disiapkan di awal bulan, juga sudah disebarkan namun berlandaskan ketidak percayaan bahwa yang mendapat akan seniat itu mengisinya. Isi saja sendiri, paling tidak ada satu yang lengkap terisi walau sangat subjektif. Yang penting sudah dibuka diajak diingatkan dan dititipkan harapan, tindak lanjutnya bebas dan konsekuensinya jelas. One who cannot command must obey kan.
Bosan juga dengan keberisikan yang dibuat sendiri, merebahkan sejenak dan hendak membuat kudapan siang eh keramaian kembali datang karena hujan membuat perjalan-jalanan batal dan menarik kembali ke kandang. Penuh jua lah kandang tempat menumpang ini, sialnya adalah hujan membuat dinding batasan gerakan meningkatkan kemalasan untuk kabur keluar. Telan sudah keberisikan dengan melawan dengan keberisikan juga, membuat kopi di tengah keramaian dan bolak-balik gerakan. Namun, tetap saja kalau bukan sejatinya yang meniru akan kalah juga. Tidak tahan, begitu hujan reda segera keluar dan mendarat di kedai kopi langganan.
Sepi, bagus. Duduk. Tenggelam dalam kenangan, sialan. Mobil merah mobil biru, rambut lurus rambut keriting, mata hitam mata cokelat, kata kata kata, argumentasi dan kesepakatan. Membuka video analisis tinju saja lah, sambil merasakan sisa energi yang terduplikasi darinya di dalam diri. Bahaya kalau bertemu pemicu, dan benar saja ada pemicu. Pembicaraan satu jam berakhir dengan pemesanan transportasi akomodasi perencanaan dan kesepakatan, nanti di akhir tahun. Menakutkan namun duplikasi energi yang tersisa membuat diri berani untuk melampaui, sempat melupakan risiko untuk teringat sekelebat jadi mengaktifkan tiga hukum sialan posibilitas probabilitas kausalitas. Menakutkan memang menakutkan, sekaligus membekukan. Hidup ya gini-gini aja, terlintas sekejap dengan kuat kata-katanya itu. Mengerti kalau semua adalah akumulasi memori yang terpicu momen sehingga dengan kehendak bebas yang sebenarnya tidak bebas tapi bebas itu melanggar batas, membuat kebebasan baru yang lebih luas yang lebih bablas yang lebih menakutkan. Ah iya, emang gini-gini aja.
Yang membentuk yang dibentuk, yang menjadi alasan yang menjadi tujuan, yang adalah akibat menjadi sebab, dan begitulah seterusnya, gini-gini aja kan. Demm! Menyelesaikan pesanan lalu beranjak pulang kandang di gelap malam yang ramai oleh lampu kendaraan baik di dalam oleh cahaya ponsel, dan di luar oleh lampu rem yang menyala kerap di jalanan kota termacet seindonesia ini. Hati-hati, ada hal yang perlu dipenuhi nanti maka tidak perlu sampai cidera dan membuyarkan semuanya. Seketika terlintas, bisa jadi kehadiran di saat ini atau hadir di momen saat ini bukanlah suatu sikap melainkan dampak. Dampak dari memiliki impian kuat di masa depan. Keyakinan. Atau bisa juga harapan. Seperti keyakinan bahwa hidup gini-gini aja itu adalah visi dimana di masa depan akan tetap begini sehingga saat ini begitu hadir di sini akan akan sampai di masa depan yang begini juga. Atau harapan bahwa di masa depan menjadi sosok sempurna dan keyakinan akan harapan itu begitu kuatnya, sehingga hadir di sini saat ini dengan penuh dalam rangka menjadikan diri seperti mimpi itu. Sadar tidak sadar, visi diri masa nanti yang begitu idealistis lah yang membuat kini di sini begitu realistis dan hadir menghidupi kenyataan saat ini. Penetapan label diri pun termasuk visi sih.
Sampai kandang dengan tenang namun dalam rasa menakutkan karena langkah baru saja keluar batasan kebebasan kebiasaan, membuat kudapan yang tadi siang tertunda, makan lagi duduk lagi. Duduk makan duduk makan, ngangkang makan ngangkang makan. Tiada penyangkalan, yak hasrat dan keinginan yang menguasai dan mengalir melalui energi dunia saat ini yang adalah uang. Jadikan semuanya semampunya semaunya seenaknya, karena senyamannya itu terlalu bijaksana untuk diraih saat ini. Dalam ketakutan, kehendak, dan keterbatasan hadirlah petualangan yang dalam satu malam mengubah kehidupan satu masa. Merebahkan diri setelah membasuh dan membersihkan sisa konsumsi sehari ini, meredakan yang terlalu bergejolak dan menggejolakkan yang terlalu rendah. Memang perlu di tengah, bagaimana rentan namun tidak rapuh juga tangguh namun tidak getas. Perkembangan adalah bekas luka yang tertutup dengan jaringan baru, kesadaran ada pada tidak membuka-buka luka dan membahas-bahasnya menghalangi terbentuknya jaringan baru juga tidak membiarkan begitu saja jaringan baru terbentuk menjadi jaringan parut yang lebih keras daripada berlian. Di tengah-tengah, kesadaran ada di tengah-tengah antara kewaspadaan dan kelepasan. Kaki sedang masuk ruang tengah, akan banyak kehilangan, banyak juga penemuan, banyak ancaman juga dukungan. Kalau semuanya banyak, yang sedikit apa dong? Di sini, saat ini.

Sang Kuring

Diantara kesesakan yang seakan tiada celah menghirup aroma, perlu mencuri jadinya.
Tidak mungkin tidak bernapas lah, tidak perlu senaif itu dengan menafikan kesaksian.
Akumulasi kenangan menjadi alasan dan pembenaran, momen pemicu menjadi pintu yang terbuka.
Langkah adalah kebebasan, iya atau tidak.
Tiada di tengah-tengah, karena sepuluh ribu alasan untuk mencintai adalah sepuluh ribu alasan yang sama untuk membenci.
Hadir dalam kehadiran dan hadir dalam ketidak hadiran, mengakuinya saja sudah cukup.

Kita (kami) beradu dalam abu-abu, tidak hitam tidak putih sekaligus iya hitam dan iya putih.
Kita (kami) beradu tidak di tengah tengah, iya adalah iya dan tidak adalah tidak.
Kita (kami) beradu tidak melulu, ada jeda yang iya hadir atau tidak hadir.
Kita (kami) beradu dengan penuh kehadiran, juga dengan penuh ketidak hadiran.
Kita (kami) beradu dalam keberadaan yang tersentuh, penuh iya berganti penuh tidak dengan penuh.

Lembutnya terasa aromanya terhirup suaranya jelas dan gerakannya tegas.
Aliran yang perlahan semakin kuat kemudian melembut tiba-tiba menyerang lalu meneduhkan.
Seperti perang yang bersenjatakan pedang dan kembang oleh gelombang mahkota dan cokelat terang semestanya.
Kepenuhan dalam dekapan yang mengisi semua ruang dan kesemuanya tersedia semampunya.

Sebesar apa kemampuan tidak pernah terukur karena selalu ada yang lebih dari yang paling.
Takkan habisnya karena satu manusia satu dunia sedangkan kehendak untuk melahap semua dunia.
Di tengah pergantian satu dunia bersua satu dunia yang ternyata cukuplah itu saja namun sekonyol itukah petualangan semua untuk yang sisa satu.

Iya atau tidak adalah iya dan tidak, senyuman pagi dan aroma yang khas jadi jejak langkah perjalanan.
Berbekas dan membekas, bersatu dan menyatu, menjadi dan dijadikan, saling dan selalu.

Yang terbuka tetap terbuka, yang tertutup akan terbuka, dalam pertemuan yang mendamaikan, walaupun ketemuan seringkali menghadirkan perang.


karenarasabisakadaluarsa20191225

Thursday, December 26, 2019

Keseharusnyaan 6/16

Dua puluh enam desember dua ribu sembilan belas. Memulai hari dengan nyalanya sesuatu yang tidak terdefinisi yang selama ini coba dicari tetapi selalu terhalangi ego dan definisi, di awal hari lewat tengah malam ini menyala dengan tidak terduga sama sekali. Bahkan imajinasi tidak berani mengimajikan situasi ini, sepertinya ada yang melebihi kemandirian persepsi yang membangkitkan pengingatan bahwa alur terus berjalan dan peran selalu terisi.
Sampai hampir tengah hari, lalu lewat tengah hari kembali kepada realita. Menghindari keramaian kandang tempat menumpang, kembali menghabiskan uang di kedai kopi langganan. Beruntung akan kehadiran biji kopi kerinci yang biasanya manis dan memang terasa manis, hot plate daging sapi karena membutuhkan asupan protein yang ternyata bersamaan dengan telur yang terlalu lama dibiarkan jadi sedikit gosong namun tak apalah, ditutup dengan kue cokelat yang begitu melekat penuh membuat kesadaran waktu hilang. Kalau saja tidak ada suara gelegar petir menyadarkan, mungkin sudah ketiduran di lantai kayu kedai kopi ini. Habiskan santapan, tukarkan dengan tabungan, memindahkan badan ke tempat kabur kebiasaan, letakkan pantat dan nikmati hujan sambil menyiksa mata dengan yutuban.
Mulai bosan, pulang kandang, seperti dugaan, kepenuhan keramaian keberisikan kepadatan kesesakan. Basuh semua sisa petualangan semalam dan kembali mengisi perut dengan makanan yang kali ini tinggi karbohidratnya, kemudian melemparkan diri ke kasur dan kembali menyiksa mata. Ada pesan darinya yang semalam begitu lekat dalam pelukan dan peluhan, gerhana matahari yang terlupakan. Lelah badan lega pikiran jadinya ingin makan, lagi. Segelas kafe latte bikinan sendiri dan sepiring ketan daging pun jadi santapan sambil menuangkan catatan keseharusnyaan enam belas hari yang akan menjadi saksi transformasi.

Keseharusnyaan 5/16


Dua puluh lima desember dua ribu sembilan belas. Bangun terlalu pagi dan terlintas untuk melarikan diri namun perlu menunggu matahari untuk mengatur posisi dan lokasi, tertidur kembali dan tetap terbawa mimpi. Sampai waktunya tiba, menggunakan kotak pesan untuk bertanya dimana dan bagaimana. Gerak cepat keputusan tegas dan syarat jelas, lewat tengah hari pelarian akan dimulai. Sambil menunggu mencoba menghabiskan waktu, mengingat mimpi semalam sepertinya tidak ada karena isi kepala adalah bagaimana dan dimana. Berselancar dalam jaringan internet sambil menunggu keramaian pagi yang seperti biasa yang menjadi alasan melarikan diri mereda, mengonsumsi informasi dari yang sensasional sampai yang sensual, dari yang elektrik sampai mekanikal, dari yang dalam biasa sampai luar biasa.
Melihat mendengar dan merasakan cuaca akan hujan, memutuskan perlu berangkat lebih agar tidak keduluan hujan. Seperti perlu memutuskan ruang ketiga kesepakatan berjuang agar tidak keduluan bosan. Berusaha memberikan yang terbaik dengan mandi serius dengan ampas kopi, biasanya hanya air saja. Bersepatu baru hasil informasi diskon dan keputusan impulsif untuk membeli, biasanya bersepatu sendal tank baja segala medan. Berpakaian rapi kaos katun lengan panjang semi formal dan jins cokelat rapi walau kebesaran, biasanya sedapatnya saja pakaian yang ada. Tengah hari berangkat mendahului awan hujan ke pusat kota termacet seindonesia, berhenti sejenak di tempat kabur biasa sambil menunggu rintiknya turun agar saat tiba di lokasi pelarian tidak terlalu lama menunggu. Karena menunggu adalah aktivitas paling menyenangkan sedunia. Pret!
Sampai satu jam sebelum waktunya untuk bisa masuk goa, tepat setelah mendarat rintik hujan turun dan semakin besar. Tak apa lah menunggu satu jam daripada kehujanan, menunggu yang menunggu karena benar menunggu bukannya melakukan sesuatu sampai habis batas waktu. Bedanya, menunggu ya menunggu sedangkan melakukan sesuatu sampai habis batas waktu ya melakukan apapun itu kecuali melakukan tindakan menunggu. Sengaja untuk tidak terlalu tepat waktu, menambah waktu menunggu dengan keputusan baru akan masuk goa pada saat waktu menunjukkan tanggal lahir saja. Tiba waktunya, mengambil kartu akses dan terbang ke langit ketiga karena langit yang lebih tinggi sepertinya sudah penuh dihuni para suci berdana lebih. Karena berdana lebih lah mereka jadi suci. Ah, prasangka. Yah, biarkan saja.
Melemparkan badan dan melemparkan pesan, menunggu ketukan dan pelepasan. Goa pelarian yang sebenarnya bukan pelarian, memang sudah waktunya saja namun selalu terjadi pergantian karena keputusan untuk tidak membuat keputusan pun adalah keputusan. Yang lama bersama batal berjuang dan berhenti di satu langkah sebelum buah siap dipertik, sehingga yang baru datang langsung memetik buahnya tanpa melewati perjuangan yang ini. Perjuangan yang lain, relatif pasti lah terlewati karena buktinya bisa ada di sini di waktu ini dalam situasi begini. Yang ada ya ada, yang tidak ada ya tidak ada. Tidak lama ternyata, lengkap semua persiapan pelarian dan dimulailah petualangan perjalanan penemuan dan pembentukan. Dua puluh empat jam kemudian.
https://leoamurist.blogspot.com/2011/09/november-christmas-tree.html